Bantul – Pendidikan inklusif menegaskan bahwa setiap anak berhak memperoleh kesempatan belajar yang setara tanpa diskriminasi. Prinsip dasar inilah yang menjadi sorotan dalam pelatihan pembelajaran inklusif yang digelar SMP Islam Al Azhar 66 Bantul, Kamis (28/8/2025).
Kegiatan yang diikuti seluruh guru dan karyawan sekolah ini menghadirkan Nuwuningsih, M.Pd., Kepala Sekolah Inklusi Srawung Bocah, sebagai pemateri utama. Ia menegaskan bahwa inklusi tidak hanya berarti memasukkan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) ke kelas reguler, melainkan juga menciptakan strategi dan suasana belajar yang ramah, mendukung, serta mengakomodasi perbedaan setiap anak.
“Inti inklusi adalah memastikan semua anak mendapat kesempatan belajar yang sama. Tidak boleh ada diskriminasi, karena setiap anak memiliki potensi yang perlu dikembangkan,” ungkap Nuwuningsih.
Materi pelatihan merujuk pada Permendiknas No. 70 Tahun 2009 hingga dokumen internasional UNESCO The Salamanca Statement. Para peserta diperkenalkan pada berbagai kategori ABK, baik permanen maupun temporer, serta strategi pembelajaran yang dapat diterapkan di SMP, mulai dari diferensiasi tugas, pendekatan visual, penyesuaian penilaian, hingga pendampingan oleh Guru Pendamping Khusus (GPK).
Pelatihan berlangsung interaktif. Para guru aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman tentang kendala yang kerap dihadapi di kelas. Antusiasme peserta mencerminkan kesadaran baru bahwa penerapan prinsip setara dalam pembelajaran adalah kunci membangun budaya inklusi.
Kepala SMP Islam Al Azhar 66 Bantul menegaskan, pelatihan ini menjadi langkah nyata sekolah dalam memastikan semua anak, tanpa terkecuali, merasa diterima dan mendapatkan hak yang sama untuk berkembang.
Melalui kegiatan ini, SMP Islam Al Azhar 66 Bantul berharap terwujud lingkungan belajar yang menghargai keberagaman dan menjunjung tinggi prinsip kesetaraan. Pendidikan inklusif tidak hanya menjadi metode, tetapi sebuah gerakan untuk memberikan ruang terbaik bagi setiap anak mencapai potensinya. (Nurul Fatimah)