Work-Life Balance: Pelajaran dari Islam untuk Dunia Modern

SLEMAN — Di dunia Barat, work-life balance kerap dimaknai sebagai seni membagi waktu: kapan bekerja, kapan berlibur, kapan berhenti sejenak dari rutinitas yang melelahkan. Namun Islam memandang keseimbangan hidup dengan cara yang jauh lebih dalam—bukan sekadar soal waktu, melainkan soal jiwa.

Hah itu mendapat sorotan dalam Kajian Rutin Sabtu Wage di Masjid Al Hafidh, Kampus 1 Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), Sabtu (17/1/2026). Pembicara yang dihadirkan yaitu Dr. Inarotul Ain, S.Th.I., M.A., dosen sekaligus ustadzah yang aktif dalam dunia dakwah dan akademik, mengajak jamaah menggeser cara pandang tentang makna bekerja.

“Dalam Islam, kerja bukan hanya aktivitas ekonomi. Ia adalah ibadah, jika diniatkan dan dijalankan dengan benar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, konsep Barat cenderung menempatkan manusia sebagai makhluk produktif yang harus efisien, cepat, dan kompetitif. Keseimbangan hidup dicari setelah lelah bekerja—melalui liburan, hiburan, atau jeda dari tekanan. Sementara Islam, menurutnya, justru menata keseimbangan sejak dari niat, bukan setelah kelelahan datang.

“Islam tidak menunggu manusia lelah untuk memberi ketenangan. Islam menanamkan ketenangan itu di awal, melalui iman,” kata Dr. Inarotul Ain.

Dalam perspektif Islam, manusia adalah kesatuan fisik, akal, dan ruh. Ketika ruh diabaikan, sehebat apa pun karier yang dicapai, hati tetap merasa kosong. Inilah yang sering terjadi dalam peradaban modern: pencapaian meningkat, tetapi ketenangan menurun.

Dr. Inarotul Ain menegaskan, Islam tidak memisahkan hak dan kewajiban sebagaimana konsep individualistik Barat. Islam mengajarkan tawazun—keseimbangan antara apa yang diterima dan apa yang ditunaikan. Bekerja adalah hak, tetapi juga amanah. Istirahat adalah kebutuhan, tetapi juga sarana agar ibadah dan tanggung jawab tetap terjaga.

Ia lalu menguraikan dharuriyyatul khams—lima hal pokok yang wajib dijaga dalam Islam: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta—sebagai fondasi work-life balance yang sejati. Tanpa kelima pilar ini, keseimbangan hanya akan menjadi slogan, bukan ketenangan yang nyata.

Baca Juga  Yuk! Sholat Idul Adha Bersama Senator DIY di Masjid Al Hafidh Kampus Al Azhar Yogyakarta

“Kerja keras tanpa iman melahirkan kelelahan batin. Iman tanpa amal hanya akan menjadi wacana. Islam menyatukan keduanya,” tegasnya.

Kajian yang berlangsung khidmat itu seakan menjadi ruang jeda dari hiruk pikuk dunia profesional. Di bawah cahaya lembut Masjid Al Hafidh, jamaah diajak menyadari bahwa keseimbangan hidup bukan soal membagi waktu antara dunia dan diri, tetapi menyatukan dunia dengan nilai-nilai langit.

Di situlah Islam berbeda: bukan mengajari cara lari dari pekerjaan, melainkan mengajari cara menemukan makna di dalamnya. (Chaidir)