WONOSARI – Masjid Al Hafidh II Wonosari tampak lebih syahdu dari biasanya pada Senin (19/1/2026). Di ruang suci itu, murid-murid SMP Islam Al Azhar 38 Wonosari duduk bersila, larut dalam suasana khidmat saat memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Bukan sekadar seremoni tahunan, peringatan ini menjadi ruang perenungan tentang makna kesabaran, keimanan, dan ketaatan dalam perjalanan hidup seorang mukmin.

Isra Mi’raj adalah peristiwa luar biasa yang menembus batas nalar manusia. Dalam satu malam, Nabi Muhammad SAW diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu diangkat menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha—tempat tertinggi yang menjadi saksi diterimanya perintah salat langsung dari Allah SWT. Namun di balik keagungan peristiwa itu, tersimpan pelajaran mendalam tentang kesabaran seorang hamba dalam menjalani amanah berat, dan keimanan yang tak pernah goyah.
Hikmah itulah yang disampaikan oleh Kiai Salim Nabhan, S.Pd., Pengasuh Pondok Pesantren Islam Al Azhar Wonosari, selaku pemateri. Di hadapan para murid, ia mengajak mereka melihat Isra Mi’raj bukan hanya sebagai kisah agung, tetapi sebagai cermin keteguhan iman Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi cobaan demi cobaan.
“Dari perintah sholat 50 waktu yang kemudian diringankan menjadi lima waktu, kita belajar bahwa Allah Maha Pengasih. Namun salat tetap menjadi inti ibadah, penopang hidup, dan sumber ketenangan jiwa,” tutur Kiai Salim. Ia menegaskan, kesabaran Nabi Muhammad SAW dalam menerima perintah itu menjadi teladan bahwa iman sejati selalu diuji sebelum dimuliakan.
Kiai Salim juga mengingatkan tentang luasnya rahmat Allah. Niat baik saja sudah dicatat sebagai pahala, sementara niat buruk tidak langsung ditulis sebagai dosa hingga benar-benar dilakukan. Pesan ini mengajarkan murid-murid untuk menjaga hati, niat, dan langkah, sebab iman tumbuh dari hal-hal kecil yang dijaga dengan kesabaran.
Sementara itu, Kepala Satuan Pendidikan SMP Islam Al Azhar 38 Wonosari, Fathul Mujib, M.Pd.I., menguatkan pesan peringatan Isra Mi’raj melalui tema “Dengan Sholat, Hidup Bermartabat.” Ia mengajak para murid untuk menjadikan salat sebagai sumber kekuatan moral dan spiritual di tengah tantangan zaman.
“Jika kita merasakan nikmat dalam sholat dan puasa, kita tidak akan berani bermaksiat. Tetapi jika nikmat itu hilang, maka kita harus siap merasakan luka hati, sakit, dan ujian dari Allah,” pesan Fathul Mujib, yang disampaikan dengan nada lembut namun menembus kesadaran para murid.
Peringatan Isra Mi’raj di SMP Islam Al Azhar 38 Wonosari pun menjadi lebih dari sekadar agenda keagamaan. Ia menjelma menjadi pengingat bahwa jalan menuju kemuliaan selalu ditempuh dengan kesabaran, keimanan, dan ketekunan dalam sholat—sebagaimana Nabi Muhammad SAW menapaki langit dengan iman yang utuh dan hati yang teguh. (Anis Safitri)







