Perkajum Mengajarkan Arti Mandiri kepada Murid SD Islam Al Azhar 59 Wonosari

  • Perkajum diikuti seluruh murid kelas 5 dan 6 pada 27–28 Agustus 2026.
  • Perkemahan menjadi sarana belajar langsung untuk melatih kemandirian, disiplin, dan tanggung jawab.
  • Jelajah alam mengajak murid mempraktikkan keterampilan Pramuka sekaligus membangun kerja sama dan kepedulian terhadap lingkungan.

AYWS — Ada pelajaran yang tidak cukup hanya dijelaskan di depan kelas. Tentang kemandirian, misalnya. Tentang bagaimana bekerja sama, bertanggung jawab, mematuhi aturan, hingga belajar memperhatikan orang lain. Semua itu perlu dialami.

Kesempatan untuk mengalami pembelajaran semacam itulah yang hadir dalam Perkemahan Kamis-Jumat (Perkajum) SD Islam Al Azhar 59 Wonosari, Kamis–Jumat, 27–28 Agustus 2026.

Selama dua hari, Bumi Perkemahan Sekolah Islam Al Azhar Wonosari menjadi ruang belajar bagi seluruh murid kelas 5 dan 6. Suasana sekolah yang biasanya dipenuhi aktivitas pembelajaran di dalam kelas berganti dengan kehidupan perkemahan yang menuntut anak-anak lebih banyak bergerak, berinteraksi, dan mengandalkan kemampuan diri sendiri.

Perkajum dibuka melalui upacara yang dipimpin Kepala SD Islam Al Azhar 59 Wonosari, Danar Kusuma, MPd. Di hadapan para murid, Danar menegaskan bahwa perkemahan Pramuka bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu di luar kelas. Ada pengalaman pendidikan yang jauh lebih penting di dalamnya.

“Melalui kegiatan perkemahan Pramuka ini, murid-murid belajar hidup bermasyarakat sekaligus melatih kemandirian dan kedisiplinan,” ujar Danar.

Pesan itu menjadi penting karena dalam kehidupan perkemahan, berbagai hal yang biasanya dibantu atau dilakukan dalam rutinitas sehari-hari harus mulai dihadapi dengan tanggung jawab sendiri.

Murid belajar mengikuti aturan. Mereka belajar mengatur aktivitas. Mereka belajar menjalankan tugas. Dan yang tidak kalah penting, mereka belajar bahwa kehidupan bersama membutuhkan sikap saling membantu.

Sebuah kelompok tidak akan berjalan hanya karena satu orang bekerja. Setiap anggota memiliki peran. Dari sinilah kerja sama tumbuh, bukan sebagai teori, melainkan sebagai pengalaman yang dirasakan langsung.

Ketika Ilmu Pramuka Dipraktikkan

Pembelajaran kemudian bergerak lebih jauh melalui kegiatan jelajah alam.

Murid diajak menyusuri lingkungan sekitar sambil menerapkan ilmu dan keterampilan kepramukaan yang telah dipelajari di sekolah. Apa yang sebelumnya mungkin hanya mereka kenal melalui pembelajaran, kini harus digunakan dalam situasi nyata.

Jelajah alam menjadi pengalaman untuk mengenal lingkungan sekaligus membangun kepekaan terhadap kondisi di sekitar. Dalam perjalanan, kebersamaan menjadi bagian penting. Murid belajar berjalan sebagai kelompok, saling memperhatikan, menjaga kekompakan, serta memastikan perjalanan dapat dilalui bersama. Di sinilah kegiatan Pramuka menunjukkan sisi pendidikannya.

Anak-anak tidak hanya belajar tentang keterampilan tertentu, tetapi juga belajar tentang karakter. Mereka berlatih menjadi pribadi yang disiplin ketika mengikuti aturan, bertanggung jawab ketika menerima tugas, mandiri ketika harus mengurus kebutuhan sendiri, serta mampu bekerja sama ketika menghadapi aktivitas kelompok. Pengalaman seperti itu menjadi bagian dari upaya SD Islam Al Azhar 59 Wonosari memperluas makna pembelajaran.

Sekolah tidak ingin proses pendidikan berhenti pada pencapaian akademik. Ada karakter yang perlu dibentuk melalui pengalaman, kebiasaan, dan interaksi nyata. Dan perkemahan memberikan ruang yang tepat untuk itu.

Selama dua hari, murid kelas 5 dan 6 tidak hanya mendapatkan pengalaman bermalam di alam terbuka. Mereka sedang belajar tentang kehidupan dalam bentuk yang sederhana. Tentang bagaimana menjadi mandiri tanpa melupakan kebersamaan, tentang bagaimana menjalankan tanggung jawab tanpa harus selalu diingatkan, dan tentang bagaimana sebuah perjalanan akan terasa lebih bermakna ketika dijalani bersama.

Perkajum pun meninggalkan lebih dari sekadar cerita tentang tenda dan jelajah alam. Ia menjadi pengalaman belajar yang diharapkan tumbuh menjadi bekal dalam keseharian para murid. Sebab, pada akhirnya, pendidikan karakter tidak selalu lahir dari pelajaran yang tertulis di buku.

Kadang ia tumbuh dari pengalaman sederhana: ketika seorang anak belajar mengurus dirinya sendiri, membantu temannya, mematuhi aturan, dan menyadari bahwa dalam kehidupan, tidak semua hal bisa dilakukan sendirian. Dari alam mereka belajar. Dari kebersamaan mereka tumbuh. (Meyta)