- Kenalkan budaya sejak dini: Anak-anak mengenakan pakaian adat Jawa dan lurik untuk mengenal kekayaan budaya Yogyakarta.
- Belajar lewat permainan: Sunda manda, cublek-cublek suweng, serta kucing dan tikus menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan.
- Tanamkan identitas dan karakter: Kegiatan budaya menjadi sarana membangun rasa bangga, kepedulian, dan kecintaan anak terhadap warisan daerah.
AYWS — Ada yang berbeda dari suasana pagi di KB-TK Islam Al Azhar 55 Wonosari pada Senin, 31 Agustus 2026. Anak-anak datang dengan wajah ceria mengenakan pakaian adat Jawa dan lurik. Ada yang tampak semakin gagah dengan busana tradisionalnya, ada pula yang terlihat menggemaskan dengan pakaian adat yang dikenakannya.
Pengenaan pakaian adat tersebut menjadi bagian dari cara sekolah memperingati momentum pengesahan Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus mengenalkan kekayaan budaya daerah kepada anak-anak sejak dini.
Upacara Rutin dengan Nuansa yang Berbeda
Upacara Senin tetap berjalan sebagaimana mestinya. Anak-anak belajar berbaris, mengikuti arahan, berdiri dengan tertib, menghormati petugas, dan mengikuti rangkaian kegiatan dengan baik. Para petugas upacara yang tampil mengenakan pakaian adat juga menjadi contoh sederhana bagi anakanak bahwa menggunakan pakaian tradisional bukanlah sesuatu yang ketinggalan zaman. Justru, ada rasa percaya diri dan kebanggaan ketika seseorang mampu membawa identitas budayanya ke dalam kehidupan sehari-hari.
Mengenalkan Budaya dengan Cara yang Dipahami Anak
Mengenalkan budaya kepada anak usia dini tidak harus melalui penjelasan panjang mengenai Sejarah dan berbagai istilah yang belum mereka pahami. Anak dapat mulai mengenalnya melalui pengalaman yang sederhana. Mereka boleh mengenal berbagai hal dari seluruh dunia. Namun, mereka juga perlu mengenal bahasa, tradisi, kesenian, permainan, pakaian, dan nilai-nilai yang berasal dari daerahnya sendiri.
Suasana berubah menjadi lebih riang. Anak-anak diajak memainkan beberapa permainan tradisional, yaitu sunda manda, cublek-cublek suweng, serta kucing dan tikus. Permainan tersebut memang sederhana. Tidak membutuhkan layar, perangkat elektronik, atau peralatan yang rumit. Namun, justru dari kesederhanaan itulah anak mendapatkan banyak pengalaman.
Mungkin permainan tersebut pernah dimainkan oleh ayah dan ibu mereka ketika kecil. Bisa jadi, kakek dan nenek mereka juga pernah memainkannya di halaman rumah atau lingkungan tempat tinggal.
Hari ini, permainan itu kembali hadir di halaman sekolah melalui tangan dan tawa generasi yang berbeda.
Menanamkan Identitas, Menjaga Warisan
Melalui kegiatan seperti ini, KB-TK Islam Al Azhar 55 Wonosari berupaya menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak, tetapi juga memperkuat karakter dan jati diri mereka.
Hari ini mungkin mereka hanya tahu bahwa mereka memakai lurik karena sedang memperingati sebuah momentum tentang Yogyakarta. Namun, pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari kenangan yang kelak membentuk rasa bangga terhadap daerahnya. (Toufiq)







