YOGYAKARTA – Suasana hangat penuh kebersamaan menyelimuti Gedung Kanwil Kementerian Agama DIY pada Sabtu (18/4/2026), saat para pengurus Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) se-DIY berkumpul dalam acara Syawalan dan Halal Bihalal. Momentum ini bukan sekadar ajang silaturahmi pasca-Idulfitri, tetapi juga menjadi ruang refleksi tentang peran dan masa depan organisasi dalam memberi manfaat bagi umat.
Ketua IPHI DIY, Drs HA Hafidh Asrom MM, menegaskan bahwa IPHI memiliki potensi besar yang harus dikelola secara serius dan berkelanjutan. Menurutnya, organisasi ini tidak boleh berhenti pada fungsi simbolik, tetapi harus benar-benar hadir memberi nilai nyata.
Hafidh Asrom menekankan bahwa IPHI harus mampu menjawab harapan tersebut.
“Insya Allah, manfaat itu akan kita hadirkan,” ujarnya optimistis. Bahkan bagi anggota lama yang telah mengabdi puluhan tahun—hingga 25, 30, bahkan 35 tahun—IPHI tetap berkomitmen memberikan fasilitasi, termasuk dalam kepemilikan kartu anggota. Baginya, hal itu adalah bentuk tanggung jawab organisasi kepada para anggotanya.
Ia menegaskan, IPHI harus berkembang menjadi lebih dari sekadar wadah silaturahmi. Kehadirannya harus mampu menghadirkan kemaslahatan nyata, baik bagi anggota maupun masyarakat luas. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan ucapan selamat Hari Lahir IPHI ke-36, seraya berharap organisasi ini semakin membawa kesejahteraan, keberkahan, dan manfaat lintas generasi.
Sementara itu, Walikota Yogyakarta sekaligus Ketua IPHI Gunungkidul, Dr dr Hasto Wardoyo Sp OG, menghadirkan perspektif yang lebih personal dan reflektif tentang makna ibadah haji.
Ia mengawali dengan meluruskan anggapan umum bahwa jamaah haji identik dengan kalangan menengah ke atas. Menurutnya, persepsi itu tidak sepenuhnya tepat.
Hasto kemudian berbagi kisah perjalanan hidupnya. Pada tahun 1994, dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas dengan gaji sekitar 61 ribu rupiah per bulan, ia memanjatkan doa sederhana namun penuh keyakinan: agar diberi kesempatan menjadi petugas haji.
Doa itu pun dikabulkan. Ia berangkat sebagai petugas haji untuk wilayah Indonesia Timur—sebuah pengalaman yang membuka cakrawala pemahamannya tentang kehidupan dan keberagaman manusia.
Di Tanah Suci, ia menyaksikan berbagai karakter jamaah dari yang sabar hingga yang mudah tersulut emosi. Bahkan dinamika rumah tangga pun tak jarang muncul di tengah ibadah. Dari situ, ia menyadari bahwa haji bukan semata soal kemampuan finansial, tetapi juga ujian kesiapan mental dan spiritual.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa tidak semua yang telah berhaji otomatis menjadi pribadi yang lebih baik. Tantangan terbesar justru terletak pada menjaga kemabruran.
Menurutnya, salah satu ujian paling berat adalah mengendalikan ego—perasaan paling benar, paling suci, atau paling hebat. Padahal, justru setelah berhaji, seseorang dituntut untuk semakin rendah hati.
“Kesombongan bisa datang dari mana saja—dari ilmu, jabatan, bahkan dari pengalaman ibadah,” pesannya.
Dalam konteks itulah, peran IPHI menjadi sangat penting yaitu menjaga dan mengawal agar nilai-nilai haji tetap hidup dalam keseharian anggotanya.
Menutup refleksinya, Hasto mengajak seluruh hadirin menjadikan momentum Syawalan ini sebagai pengingat bahwa haji bukanlah akhir perjalanan spiritual, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar dalam kehidupan.
Sebuah ajakan untuk terus merawat kemabruran—bukan hanya di Tanah Suci, tetapi sepanjang hayat. (Chaidir)







