SMP Islam Al-Azhar 67 Yogyakarta Raih Prestasi dalam Apresiasi Giat UKBI Adaptif 2026 Tingkat Nasional

  • Prestasi perdana: SMP Islam Al-Azhar 67 Yogyakarta meraih apresiasi dalam ajang UKBI Adaptif 2026 pada kategori artikel dan foto dokumentasi kegiatan.
  • Partisipasi siswa: Sebanyak 134 siswa kelas VII, VIII, dan IX terlibat dalam kegiatan bertema “Grounded in Our Roots, Ready for the World”.
  • Penguatan literasi: Prestasi ini menjadi momentum untuk menumbuhkan budaya membaca, menulis, berkarya, dan mencintai bahasa Indonesia di tengah arus globalisasi.

AYWS — Di tengah derasnya arus globalisasi yang membawa bahasa dan budaya dunia melintasi batas-batas negara, bahasa Indonesia tetap menjadi rumah bagi identitas bangsa. Dari kesadaran itulah, SMP Islam Al-Azhar 67 Yogyakarta menapaki perjalanan literasi yang istimewa. Melalui partisipasi perdananya dalam Apresiasi Giat Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif Tahun 2026, sekolah ini berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih apresiasi pada kategori artikel dan foto dokumentasi kegiatan.

Capaian tersebut menjadi semakin bermakna karena diraih pada keikutsertaan pertama sekolah dalam ajang yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Berdasarkan pengumuman bernomor 2503/B/G3/BS.00.01/2026, SMP Islam Al-Azhar 67 Yogyakarta tercantum dalam daftar pemenang kategori artikel jenjang SMP/sederajat pada urutan ketujuh, mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta.

Perjalanan menuju pencapaian itu berawal dari semangat yang tumbuh di lingkungan sekolah. Pada Jumat, 4 September 2026, sebanyak 134 siswa dari kelas VII, VIII, dan IX dilibatkan dalam kegiatan Apresiasi Giat UKBI Adaptif Merdeka Belajar Tahun 2026. Keikutsertaan lintas jenjang tersebut menjadi wujud komitmen sekolah untuk menghadirkan pengalaman berliterasi yang lebih luas, sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa Indonesia.

Dengan mengusung tema “Grounded in Our Roots, Ready for the World”, para siswa diajak memahami bahwa kesiapan menghadapi dunia tidak harus membuat seseorang tercerabut dari akar budayanya. Sebaliknya, penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan wawasan global perlu berjalan beriringan dengan kesadaran akan identitas nasional.

Bahasa Indonesia, dalam konteks ini, bukan sekadar alat komunikasi. Ia merupakan bahasa persatuan, ruang bertemunya keberagaman, sekaligus salah satu penanda jati diri bangsa. Melalui kegiatan ini, siswa didorong untuk memandang bahasa Indonesia bukan hanya sebagai mata pelajaran di ruang kelas, melainkan sebagai medium untuk berpikir, berkarya, menyampaikan gagasan, dan membangun peradaban.

Partisipasi tersebut juga menjadi ruang pembelajaran yang berharga. Sebanyak 134 siswa memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan yang menghubungkan kemampuan berbahasa dengan kreativitas dan dokumentasi. Kategori artikel membuka ruang bagi pengembangan gagasan melalui tulisan, sedangkan kategori foto dokumentasi kegiatan menghadirkan cara lain untuk merekam pengalaman, menyampaikan pesan, dan mengabadikan dinamika kehidupan sekolah melalui bahasa visual.

Dari proses itulah, kerja keras dan semangat para siswa memperoleh makna yang lebih luas. Apresiasi yang diraih tidak semata-mata menjadi pengakuan atas hasil, tetapi juga menjadi penanda bahwa budaya literasi dapat tumbuh melalui keterlibatan nyata, keberanian mencoba, dan kesempatan untuk menghasilkan karya.

Pengumuman pemenang Apresiasi Giat UKBI Adaptif Tahun 2026 tingkat nasional ditetapkan berdasarkan keputusan dewan juri dalam kegiatan Konsinyasi Penentuan Pemenang yang dilaksanakan pada Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam pengumuman tersebut, penyelenggara menetapkan masing-masing 30 sekolah terbaik untuk kategori artikel, foto, dan video.

Bagi SMP Islam Al-Azhar 67 Yogyakarta, pencapaian pada dua kategori sekaligus menjadi kebanggaan tersendiri. Lebih dari itu, prestasi ini menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem literasi di sekolah, mendorong siswa semakin berani menuangkan gagasan, serta membiasakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik, benar, dan sesuai konteks.

Semangat tersebut terasa relevan dalam menyambut Bulan Bahasa dan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Ikrar para pemuda pada 1928 tentang satu bahasa persatuan tetap menyimpan pesan penting bagi generasi masa kini: kemajuan tidak harus menghapus akar, dan keterbukaan terhadap dunia tidak berarti kehilangan identitas bangsa.

Karena itu, prestasi ini layak dimaknai sebagai awal dari perjalanan yang lebih panjang. Sebuah langkah perdana yang membuka peluang bagi tumbuhnya karya-karya baru, lahirnya gagasan yang lebih berani, dan menguatnya kesadaran bahwa literasi merupakan bagian penting dari pembentukan karakter generasi muda.

SMP Islam Al-Azhar 67 Yogyakarta telah menunjukkan bahwa langkah pertama pun dapat menghadirkan hasil yang berarti. Harapannya, pencapaian ini menjadi penyemangat bagi seluruh warga sekolah untuk terus merawat tradisi membaca, menulis, berkarya, dan mencintai bahasa Indonesia.

Sebab, di tengah riuhnya perubahan zaman, generasi yang siap menghadapi dunia bukanlah generasi yang melupakan asal-usulnya. Mereka adalah generasi yang mampu melangkah jauh dengan tetap mengenali akar, menjaga bahasa, dan membawa nilai-nilai luhur bangsanya ke panggung masa depan. (Rafika)