Di Balik Prestasi Siswa di OSA, Ada Bimbingan dan Doa Guru yang Ikhlas

BANTUL – Prestasi tak pernah lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari proses panjang yang sunyi, dari ruang kelas yang kembali hidup di luar jam pelajaran, dari lembar-lembar latihan yang dikerjakan berulang, dan dari kesabaran guru-guru yang memilih bertahan lebih lama demi anak-anak yang mereka yakini mampu. Di balik keberhasilan para siswa SD Islam Al Azhar 38 Bantul melaju ke ajang Olimpiade Sains Al Azhar (OSA) ke-18, ada bimbingan terarah, disiplin, dan keikhlasan para guru yang bekerja dalam diam.

Sebanyak 11 siswa terbaik dipercaya mewakili sekolah dalam ajang bergengsi tingkat nasional tersebut untuk mata pelajaran PAI-PAQ, Matematika, IPA, dan IPS. OSA bukan sekadar kompetisi, tetapi ruang pembentukan mental—tempat siswa belajar tenang di bawah tekanan, jujur dalam mengerjakan, dan tangguh menghadapi tantangan.

Babak penyisihan,Sabtu (17/1/2026), yang digelar secara online dan serentak menjadi momen menegangkan bagi para peserta. Suasana hening menyelimuti ruang kelas, dan detik-detik terasa berjalan lebih lambat. Salah satu peserta, Raza, mengungkapkan pengalamannya dengan jujur dan polos.

“Alhamdulillah bisa mengerjakan. Awalnya deg-degan, Bu, tapi sekarang sudah enggak. Soal pilihan gandanya memang susah, tapi kalau pilihan ganda kompleks lumayan lebih mudah karena jawabannya banyak.”

Ketenangan Raza di hari lomba bukan kebetulan. Ia lahir dari proses panjang yang telah dijalani bersama para guru pembimbing sejak Desember 2025. Hari-hari diisi dengan latihan, evaluasi, penguatan konsep, dan doa yang tak pernah putus.

Untuk bidang IPA, Annasya Nadwa Paramastri (kelas 5 Ibnu Sina) dibimbing dengan penuh kesabaran oleh Nurfita Chrisna S, S.Pd.Gr, Nurul Umi Hanik, S.Pd.Gr, dan Alkarin Darlin Prabowo, S.Pd. Mereka menanamkan bukan hanya pengetahuan sains, tetapi juga keberanian untuk mencoba dan tak takut salah.

Baca Juga  English Qur’an Camp : Membangun Generasi Qur'ani dan Berwawasan Global Bagi Siswa SD Islam Al Azhar 38 Bantul

Di bidang PAI-PAQ, Kenzie Rafa Pradipta (kelas 5 Buya Hamka) ditemani langkahnya oleh Fatkhiyakan, S.Pd dan Hasibullah, S.Ag, yang menekankan keseimbangan antara ketepatan ilmu, ketenangan hati, dan adab dalam setiap proses belajar.

Sementara itu, M. Yusfaraza Azala Arindha (kelas 4 Ibnu Sina) mengasah logikanya di bidang Matematika bersama Suhartini, M.Pd.Gr, Muhfaris Nurmantyas, S.Pd.Gr, Gilang Ramadhan, S.Pd.Gr, dan Ditty Leti Priscella Hadi, M.Pd. Di balik angka-angka yang rumit, ada kesabaran guru-guru yang terus menguatkan saat lelah mulai datang.

Adapun di bidang IPS, Arvinza Khairysukma (kelas 4 Ibnu Sina) dibimbing langsung oleh Nurul Umi Hanik, S.Pd.Gr, yang dengan telaten melatihnya memahami peristiwa, berpikir kritis, dan menyusun jawaban dengan runtut.

Kini, empat siswa tersebut telah melangkah sebagai finalis OSA ke-18 dan tengah mempersiapkan diri menuju babak final nasional di Jakarta, Sabtu, 24 Januari 2026. Di balik persiapan itu, para guru kembali berdiri di barisan paling belakang—menguatkan, mendoakan, dan percaya sepenuh hati.

Prestasi ini menegaskan satu hal bahwa guru mungkin tak terlihat di podium, tetapi merekalah yang paling berjasa mengantarkan murid sampai ke sana. Di SD Islam Al Azhar 38 Bantul, juara bukan sekadar medali, melainkan buah dari keikhlasan, disiplin, dan cinta yang ditanamkan setiap hari di ruang-ruang belajar. (Umi)