Dr KH Reza :  Ilmu Harus Bersatu dengan Iman, Dijaga dengan Sanad, dan Dikhidmatkan untuk Umat

SLEMAN – Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan ulama besar Nusantara, menegaskan bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan cahaya yang harus dibarengi dengan iman, adab, serta pengabdian kepada masyarakat. Tanpa hal itu, ilmu justru kehilangan keberkahan dan bisa menjerumuskan pemiliknya pada kesombongan serta kesesatan.

Pesan KH. Hasyim Asy’ari tersebut disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al Makhrussiyah, Lirboyo Kediri, Dr KH Reza Ahmad Zahid Lc MA, dalam pengajian rutin Sabtu Wage di Masjid Al Hafidh Kampus Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), Monjali, Sabtu (30/8/2025). Dalam uraiannya, Dr Reza mengutip kitab Adabul Ta’lim al-Muta’allim karya Syaikh Hasyim Asy’ari. Dr Reza menegaskan pentingnya belajar agama dengan bimbingan guru agar terjaga kesinambungan sanad keilmuan.

Kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, sebuah kitab monumental yang hingga kini diajarkan di banyak pesantren di Indonesia. Kitab ini bukan hanya berbicara tentang cara belajar dan mengajar, tetapi lebih jauh menekankan hubungan spiritual antara guru, murid, dan masyarakat sebagai kunci lahirnya ilmu yang bermanfaat.

Iman dan Ilmu Harus Bersatu

Dalam kesempatan itu Dr Reza mengutip firman Allah dalam QS. Al-Mujādilah ayat 11: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Menurutnya, ayat ini menjadi dasar bahwa iman dan ilmu tidak boleh dipisahkan. Ilmu tanpa iman bisa menjadi alat untuk menipu dan merusak, sementara iman tanpa ilmu akan rapuh dan mudah goyah. Dikatakan, kemuliaan seseorang hanya bisa diraih bila ilmu yang dimiliki tumbuh di atas pondasi iman.

“Iman adalah cahaya hati, dan ilmu adalah pelita akal. Bila keduanya bersatu, maka lahirlah manusia yang bijaksana dan mulia di sisi Allah,” tegasnya.

Baca Juga  Al Azhar Yogyakarta World Schools Menjadi Inspirasi Pendidikan untuk Guru Penggerak Papua

Dalam pandangannya, ilmu tidak akan memberi manfaat tanpa adab. Guru dan murid harus sama-sama menjaga tata krama agar ilmu yang diajarkan mendapat keberkahan.

Bagi guru, kata Dr Reza, hal utama harus menekankan niat ikhlas, keteladanan, serta kelembutan hati dalam mendidik. Guru bukan hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membimbing akhlak serta mendoakan murid-muridnya. Guru yang kasar dan angkuh, kata beliau, akan memutus jalan keberkahan ilmu.

Dalam kita Adabul Ta’lim Mutaa’lim, kewajiban bagi murid adalah adab utama yang harus dilakukan yaitu menghormati guru. Murid harus sabar, tawadhu’, dan ta’dzim kepada pengajarnya. Ilmu itu cahaya. Cahaya tidak akan masuk ke hati yang sombong, atau kepada murid yang tidak beradab kepada gurunya.

Pentingnya Guru dan Sanad Ilmu

Kiai juga memperingatkan bahaya belajar tanpa guru. Menurutnya, ilmu dalam Islam memiliki sanad atau mata rantai yang bersambung dari murid kepada guru, lalu guru kepada ulama sebelumnya, hingga sampai kepada Rasulullah. Sanad inilah yang menjaga keaslian ilmu dan memberi keberkahan dalam pemahaman. Tanpa sanad, seseorang hanya mengandalkan bacaan dan pikirannya sendiri, sehingga mudah terjerumus pada kesalahpahaman.

Para ulama, tegas Kiai Reza, bahkan mengingatkan dengan tegas: “Barangsiapa tidak memiliki guru, maka gurunya adalah setan.” Artinya, belajar tanpa bimbingan guru membuat seseorang berbicara seenaknya, menafsirkan agama sesuka hati, dan berpotensi menyesatkan masyarakat.

Karena itu, dalam tradisi pesantren, setiap pelajaran selalu dibacakan langsung oleh kiai, dan santri mendengarkan serta mencatat. Pola ini bukan sekadar metode, tetapi cara menjaga kesinambungan sanad ilmu.

Ilmu Harus Dikhidmatkan kepada Masyarakat

Dijelaskan bahwa ilmu tidak boleh berhenti pada individu. Orang yang diberi ilmu wajib mengabdi dan berkhidmat kepada masyarakat. Ilmu itu amanah. Siapa yang menyembunyikannya, ia akan ditanya di hari kiamat. Orang berilmu harus mengajar, berdakwah, membimbing umat, serta memberi manfaat nyata bagi lingkungannya. Dengan begitu, ilmu akan berubah menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meski pemiliknya telah tiada.

Baca Juga  BPPH Al Azhar Yogyakarta Dorong Peneliti Muda Al Azhar Yogyakarta Terus Aktif Dalam Kompetisi Nasional - Internasional

Sabda Rasulullah menjadi landasan kuat: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” KH Reza menegaskan manfaat terbesar yang bisa diberikan seorang alim kepada masyarakat adalah ilmunya—bukan untuk kebanggaan pribadi, melainkan untuk kemaslahatan bersama.

Kesatuan Iman, Ilmu, Adab, dan Khidmah

Melalui kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, KH. Hasyim Asy’ari mengingatkan bahwa kemuliaan hidup hanya bisa diraih bila seorang muslim menjaga kesatuan empat hal pokok yakni Iman sebagai pondasi hati, ilmu sebagai cahaya akal, adab sebagai pengikat antara guru dan murid, khidmah sebagai pengabdian kepada masyarakat.

Tanpa iman, ilmu menjadi liar. Tanpa ilmu, iman menjadi rapuh. Tanpa adab, ilmu kehilangan keberkahan. Dan tanpa khidmah, ilmu menjadi kering dan tak berguna. (Chaidir)