Fieldtrip ke Museum Sonobudoyo, Menyerap Pengetahuan Tanpa Merasa Sedang “Belajar”

YOGYAKARTA – Belajar tidak selalu harus duduk rapi di dalam kelas. Bagi Al Azhar 60 Early Years Programme, belajar juga bisa menjadi petualangan yang penuh rasa ingin tahu, tawa, dan pengalaman baru. Itulah yang dirasakan para siswa saat mengikuti fieldtrip edukatif ke Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Selasa (20/1/2026), sebuah perjalanan belajar yang membawa mereka lebih dekat dengan akar budaya bangsanya sendiri.

Didampingi para guru dan tim pendamping sekolah, seluruh siswa mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Museum Sonobudoyo, yang dikenal sebagai salah satu pusat pelestarian budaya Jawa terlengkap di Indonesia, menjadi ruang belajar terbuka bagi anak-anak untuk mengenal kekayaan tradisi Nusantara secara langsung, bukan sekadar lewat cerita atau gambar di buku.

Setibanya di museum, rombongan disambut oleh pemandu yang ramah dan berpengalaman dalam berinteraksi dengan peserta didik usia dini. Dengan bahasa yang sederhana, hangat, dan interaktif, pemandu mengenalkan berbagai koleksi bersejarah seperti wayang dengan ragam tokohnya, gamelan dengan bunyi khasnya, batik dengan motif-motif penuh makna, topeng tradisional, hingga artefak peninggalan kerajaan Nusantara. Mata para siswa berbinar, rasa ingin tahu mereka tumbuh, dan pertanyaan-pertanyaan polos pun mengalir tanpa henti.

Momen paling menarik terjadi ketika mereka melihat wayang dan alat musik tradisional. Anak-anak diajak berdialog, menebak nama benda, serta mendengarkan kisah singkat tentang kehidupan masyarakat Jawa tempo dulu. Dalam suasana yang cair dan menyenangkan, proses belajar berlangsung secara alami — para siswa menyerap pengetahuan tanpa merasa sedang “belajar”.

Kegiatan ini tidak berhenti pada tur museum semata. Para guru merancang sesi pengamatan terarah yang mengajak siswa memperhatikan bentuk, warna, dan motif pada koleksi batik, serta membedakan bunyi beberapa alat musik tradisional. Pendekatan ini sejalan dengan filosofi Al Azhar 60 Early Years Programme yang menekankan eksplorasi, observasi, dan stimulasi menyeluruh terhadap perkembangan anak yaitu kognitif, bahasa, sosial-emosional, hingga motorik.

Baca Juga  ECO Vibe Day 2025, Aksi Nyata Al Azhar 60 Early Years Progamme untuk Lingkungan yang Lebih Hijau

Lebih dari sekadar mengenal budaya, fieldtrip ini juga menjadi ruang pembelajaran karakter. Anak-anak belajar berperilaku tertib di ruang publik, bergiliran saat bertanya, mendengarkan orang lain, serta mengekspresikan rasa ingin tahu dengan cara yang positif. Menariknya, banyak siswa yang dengan penuh percaya diri mampu menceritakan kembali apa yang mereka lihat dan dengar kepada guru maupun teman-temannya — tanda bahwa pengalaman ini benar-benar membekas.

Melalui kegiatan ini, Al Azhar 60 Early Years Programme menanamkan benih kecintaan terhadap budaya Indonesia sejak usia dini. Sebuah langkah kecil yang bermakna besar, karena dari pengalaman seperti inilah tumbuh rasa memiliki, menghargai, dan bangga terhadap warisan bangsa.

Komitmen Al Azhar 60 Early Years Programme untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan menyenangkan terus diwujudkan melalui kegiatan-kegiatan nyata di luar kelas. Fieldtrip ke Museum Sonobudoyo bukan sekadar kunjungan, melainkan bagian dari fondasi kuat dalam membentuk karakter, wawasan, dan kepekaan budaya peserta didik di masa depan. (Arif Rusna)