- Pendampingan bacaan Al-Qur’an: Santri kelas VII mengikuti simakan Tilawati selepas salat Isya dengan bimbingan musyrif dan musyrifah.
- Belajar dengan sabar dan istiqamah: Santri berlatih memperbaiki makharijul huruf, panjang pendek bacaan, tajwid, dan bacaan gharib sesuai kemampuan masing-masing.
- Membangun generasi Qur’ani: Pembelajaran diharapkan menjadi bekal sepanjang hayat agar santri mampu mengamalkan ilmu dan mengajarkannya kepada keluarga serta masyarakat.
AYWS – Di tengah tenangnya malam di Pondok Pesantren Islam Al Azhar Wonosari, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an terus menggema, menghadirkan suasana yang menenteramkan hati. Selepas salat Isya berjamaah, para santri kelas VII, baik putra maupun putri, kembali melanjutkan perjuangan menuntut ilmu melalui kegiatan simakan Tilawati. Pada Selasa malam, 13 Oktober 2026, kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar pesantren dalam membimbing santri agar semakin baik, benar, dan lancar dalam membaca Kalamullah.
Di bawah pendampingan para musyrif dan musyrifah, para santri menyetorkan bacaan Al-Qur’an untuk disimak, diperiksa, dan diperbaiki secara bertahap. Setiap santri mendapatkan perhatian sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan belajarnya. Ada yang mulai menunjukkan kelancaran, ada yang masih membutuhkan pengulangan, dan ada pula yang memerlukan bimbingan lebih intensif agar bacaannya semakin tepat.
Di balik setiap lantunan ayat, terdapat proses belajar yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Para santri berlatih mengenali makharijul huruf, memperbaiki panjang dan pendek bacaan, menerapkan kaidah tajwid, serta mempelajari bacaan gharib. Kesalahan bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari proses menuju bacaan yang lebih baik.
Begitu pula bagi para musyrif dan musyrifah, kegiatan ini bukan sekadar menyimak bacaan. Ada tanggung jawab mendidik, ketelatenan dalam memberikan koreksi, dan keikhlasan untuk mendampingi setiap santri sesuai tahap perkembangannya. Sebab, keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an tidak selalu hadir dalam satu malam. Ia tumbuh melalui pengulangan, pembiasaan, doa, dan bimbingan yang berkesinambungan.
Tidak Harus Langsung Sempurna, yang Penting Terus Berusaha.
Setiap santri memiliki perjalanan belajar yang berbeda. Ada yang cepat memahami, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Karena itu, tidak semestinya seorang santri merasa malu ketika bacaannya belum lancar. Justru keberanian untuk menyetorkan bacaan, menerima koreksi, dan mencoba kembali merupakan bagian penting dari kesungguhan dalam menuntut ilmu.
Melalui simakan Tilawati, para santri belajar bahwa memperbaiki bacaan Al-Qur’an membutuhkan kerendahan hati untuk menerima arahan dan kedisiplinan untuk terus berlatih. Sedikit demi sedikit, huruf yang dahulu terasa sulit diucapkan diharapkan semakin mudah dilafalkan, panjang pendek bacaan semakin terjaga, dan penerapan tajwid semakin baik.
Inilah pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga menghargai setiap proses. Setiap kemajuan, sekecil apa pun, patut disyukuri sebagai langkah menuju hubungan yang lebih dekat dengan Al-Qur’an.
Bukan Sekadar Bisa Membaca, tetapi Membawa Ilmunya Sepanjang Hayat
Bagi Pondok Pesantren Islam Al Azhar Wonosari, pembelajaran Al-Qur’an bukan hanya tentang menuntaskan materi atau mencapai kelancaran membaca selama berada di pesantren. Lebih jauh, pendidikan ini diharapkan menjadi bekal sepanjang hayat yang terus dijaga, diamalkan, dan dikembangkan setelah para santri menyelesaikan pendidikan mereka.
Pengalaman para alumni menjadi penyemangat untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran. Harapannya, ilmu yang diperoleh di pesantren tidak berhenti ketika santri meninggalkan lingkungan pendidikan, tetapi tetap hidup dalam keseharian mereka—di rumah, di tengah keluarga, dan di tengah masyarakat.
Bayangkan, seorang santri yang dahulu mengeja huruf demi huruf dengan bimbingan musyrif atau musyrifah, kelak tumbuh menjadi pribadi yang mampu membantu adik-adiknya belajar membaca Al-Qur’an. Bacaan yang dahulu diperbaiki dengan penuh kesabaran kini dapat menjadi bekal untuk membimbing orang lain sesuai kemampuan dan ilmunya.
Dari satu rumah, kecintaan terhadap Al-Qur’an dapat tumbuh di antara anggota keluarga. Dari satu santri, semangat belajar dapat menyebar kepada saudara, tetangga, dan masyarakat sekitarnya. Ilmu yang dahulu diterima dengan penuh perhatian berpeluang menjadi jalan kebaikan bagi orang lain.
Inilah salah satu cita-cita besar pendidikan Al-Qur’an di pesantren: ilmu yang dipelajari, bacaan yang diperbaiki, amal yang dijaga, dan kebaikan yang diteruskan kepada generasi berikutnya.
Sebaik-baik Manusia, Mereka yang Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an
Rasulullah ﷺ bersabda: خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Sahih al-Bukhari, no. 5027)
Hadis ini mengingatkan kita akan kemuliaan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an. Belajar membacanya merupakan langkah awal, sedangkan mengamalkan ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain menjadi jalan untuk memperluas manfaatnya.
Semoga setiap huruf yang dipelajari para santri menjadi sebab bertambahnya kebaikan, setiap koreksi bacaan menjadi penyempurna ikhtiar, dan setiap ilmu yang kelak diajarkan kembali menjadi amal yang mendatangkan pahala atas izin Allah SWT.
Doa untuk Tumbuhnya Generasi Qur’ani
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan kepada seluruh santri Pondok Pesantren Islam Al Azhar Wonosari dalam mempelajari Al-Qur’an, melapangkan hati mereka untuk menerima ilmu, serta menumbuhkan kecintaan yang mendalam terhadap Kalamullah.
Semoga para musyrif dan musyrifah senantiasa diberikan kesehatan, kesabaran, keikhlasan, dan keberkahan dalam mendampingi perjalanan belajar para santri. Setiap waktu yang diluangkan, setiap bacaan yang diperbaiki, dan setiap nasihat yang disampaikan semoga menjadi amal kebaikan di sisi Allah SWT.
Dari simakan malam yang dilakukan secara rutin, semoga tumbuh generasi yang tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga mencintainya, mengamalkan ajarannya, dan bersemangat mengajarkannya kepada orang lain.
Sebab, keberhasilan pendidikan Al-Qur’an bukan semata-mata ketika seorang santri telah lancar membaca, melainkan juga ketika kecintaan terhadap Kalamullah terus hidup dalam dirinya dan membawa manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
Belajar Al-Qur’an dengan kesungguhan, memperbaiki bacaan dengan kesabaran, mengamalkan ilmu dengan keteladanan, dan meneruskan kebaikan dengan keikhlasan.
Pondok Pesantren Islam Al Azhar Wonosari — Mendidik dengan Ilmu, Membimbing dengan Hati, Menebar Manfaat untuk Negeri. (Ichya’ul Haqiqi)






