SLEMAN — Upaya memperkuat tata kelola kelembagaan berbasis digital mendorong Tim Yayasan Syarif Hidayatullah Jakarta melakukan kunjungan studi tiru ke Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), Senin (2/3/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari proses transformasi pendidikan menuju sistem administrasi modern berbasis teknologi.
Rombongan dipimpin Sekretaris Yayasan, Dr Tantan Hermansyah MSI, dan diterima langsung Ketua Yayasan Asram/BPPH AYWS, Drs HA Hafidh Asrom MM, di ruang rapat BPPH lantai 3 Kampus 1 AYWS, Sleman. Pertemuan turut dihadiri Wakil Ketua Bidang Kesekretariatan Bashori Muhammad, Wakil Ketua Bidang Akademik Suhartini MPd, Kepala Satuan Pendidikan SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta Ardian Sinta Budiyono SPd dan Kepala Satuan Pendidikan SD Islam Al Azhar 55 Internasional Miftakhul Risal serta jajaran staf lainnya.
Kunjungan ini bertujuan mempelajari praktik terbaik (best practices) dalam implementasi digitalisasi kelembagaan, sekaligus memperkuat kapasitas sistem administrasi pendidikan.
Tantan menegaskan, pihaknya memandang AYWS sebagai salah satu lembaga pendidikan yang telah berhasil mengembangkan sistem pendidikan modern berbasis teknologi dan tata kelola profesional.
“Kami sangat membutuhkan informasi dan pengetahuan dari AYWS. Kami harus belajar dari yang sudah berpengalaman sebagai bagian dari proses transformasi pendidikan di bidang digital,” ujarnya.
Ia menambahkan, tahun 2026 menjadi momentum penting bagi SD Islam Pembangunan yang berada di bawah naungan yayasan tersebut, karena akan meluluskan angkatan pertama siswanya. Hal itu membuat pihaknya semakin terdorong untuk memperkaya wawasan dan sistem pengelolaan kelembagaan.
Sementara itu, Hafidh Asrom menjelaskan bahwa AYWS dibangun dengan visi besar untuk mengisi kejayaan peradaban Islam di masa depan melalui pendidikan unggul dan adaptif terhadap perkembangan global.
Menurutnya, sejak berdiri pada 2005, AYWS terus berkembang pesat dan kini telah memiliki 19 unit pendidikan yang tersebar di Sleman, Bantul, dan Wonosari.
“Di sini banyak pihak yang datang untuk studi, baik dari Muhammadiyah, NU, maupun lembaga lainnya. Kami terus berupaya menghadirkan pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
Sebagai bagian dari penguatan visi global, AYWS juga tengah menyiapkan pembangunan Pondok Pesantren Mandarin di Desa Beji, Pathuk, Gunungkidul. Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap dinamika global, khususnya perkembangan pesat Tiongkok di berbagai bidang strategis.
Selain itu, tingginya kepercayaan masyarakat terhadap AYWS tercermin dari meningkatnya jumlah pendaftar. Bahkan, inden peserta didik di kampus Bantul telah mencapai tahun 2032, sehingga mendorong pengembangan unit pendidikan baru untuk memenuhi kebutuhan.
“Saya hanya ingin berbuat sesuatu yang positif dan bermanfaat untuk Yogyakarta,” kata Hafidh.
Kunjungan ini diharapkan menjadi awal kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan pendidikan modern berbasis teknologi, sekaligus memperkuat sinergi antar lembaga pendidikan Islam dalam menjawab tantangan zaman. (Chaidir)







