- SD Islam Al Azhar 59 Wonosari bersiap mengikuti akreditasi perpustakaan pada November 2026 setelah Rumah Pena Al Azhar dinyatakan lolos verifikasi.
- Kepala sekolah Danar Kusuma, M.Pd., menyumbangkan sekitar 200 koleksi bacaan berupa 100 buku dan 100 majalah sebagai wujud keteladanan dalam membangun budaya literasi.
- Rumah Pena Al Azhar dikembangkan menjadi ruang literasi inklusif yang tidak hanya dimanfaatkan murid, tetapi juga guru, orang tua, dan masyarakat.
AYWS – Perubahan besar kerap berawal dari langkah sederhana, tetapi dilakukan dengan ketulusan dan konsistensi. Itulah semangat yang tengah dibangun SD Islam Al Azhar 59 Wonosari melalui Rumah Pena Al Azhar. Di balik upaya memperkuat budaya literasi tersebut, Kepala Sekolah Danar Kusuma MPd, menunjukkan bahwa menumbuhkan kecintaan terhadap buku tidak cukup hanya dengan imbauan, tetapi harus dimulai dari keteladanan.
Menjelang akreditasi perpustakaan yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026, Danar mengambil langkah nyata dengan menyumbangkan sekitar 200 koleksi bacaan, terdiri atas 100 buku dan 100 majalah, untuk memperkaya koleksi Rumah Pena Al Azhar. Bagi Danar, berbagi buku bukan sekadar memberikan tambahan bahan bacaan, melainkan juga menanamkan nilai bahwa pengetahuan akan semakin bermakna ketika dibagikan.
“Saatnya guru menjadi teladan. Teladan untuk mau berbagi,” tutur Danar.
Ungkapan tersebut mencerminkan keyakinannya bahwa budaya literasi tidak tumbuh hanya melalui program dan fasilitas, tetapi juga dari kesediaan setiap individu untuk terlibat. Ketika guru memberi contoh, murid memiliki kesempatan untuk melihat, merasakan, dan meneladani langsung nilai-nilai yang diajarkan.
Langkah Danar menjadi bagian dari ikhtiar panjang SD Islam Al Azhar 59 Wonosari dalam membangun perpustakaan yang tidak sekadar menjadi tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi juga ruang bertumbuhnya gagasan, kreativitas, dan semangat belajar.
Rumah Pena Al Azhar
Sejak 2025, perpustakaan SD Islam Al Azhar 59 Wonosari resmi mengusung nama Rumah Pena Al Azhar. Nama ini bukan sekadar identitas, melainkan cerminan cita-cita sekolah untuk menghadirkan ruang literasi yang hidup, nyaman, dan mampu menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.
Kesungguhan membangun Rumah Pena Al Azhar kini mulai menemukan momentum. Perpustakaan tersebut terpilih untuk mengikuti proses akreditasi perpustakaan pada November 2026, sebuah tahapan penting dalam upaya meningkatkan kualitas pengelolaan dan pelayanan literasi di lingkungan sekolah.
Kelayakan Rumah Pena Al Azhar untuk diajukan dalam proses akreditasi menguat setelah mendapatkan kunjungan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gunungkidul. Dalam kunjungan tersebut, perpustakaan dinilai telah memenuhi kelayakan awal untuk mengikuti akreditasi.
Salah satu keunggulan yang mendapat perhatian adalah lokasinya yang strategis di lantai satu, berdekatan dengan area penjemputan dan terintegrasi dengan lobi sekolah. Posisi ini membuka peluang bagi perpustakaan untuk lebih mudah diakses, tidak hanya oleh murid, tetapi juga guru, orang tua, dan masyarakat.
Potensi tersebut sejalan dengan harapan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gunungkidul agar Rumah Pena Al Azhar dapat berkembang menjadi ruang literasi yang terbuka dan memberikan manfaat lebih luas.
Menindaklanjuti hasil kunjungan tersebut, sekolah mengajukan persyaratan awal akreditasi. Setelah melalui verifikasi oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gunungkidul, pengajuan Rumah Pena Al Azhar dinyatakan lolos verifikasi dan selanjutnya dijadwalkan menjalani visitasi oleh asesor pada November 2026.
Keteladanan yang Menggerakkan
Di tengah persiapan tersebut, sumbangan sekitar 200 koleksi bacaan dari Danar menjadi salah satu wujud nyata komitmen sekolah dalam memperkuat budaya literasi. Sebanyak 100 koleksi telah diserahkan kepada Kepala Perpustakaan SD Islam Al Azhar 59 Wonosari, sedangkan 100 koleksi lainnya dijadwalkan menyusul pada pekan ini.
Lebih dari sekadar angka, sumbangan tersebut membawa pesan tentang pentingnya kepedulian dan semangat berbagi. Danar ingin menunjukkan bahwa membangun budaya membaca merupakan tanggung jawab bersama, bukan semata-mata tugas pengelola perpustakaan atau sekolah.
Keteladanan itu diharapkan menular kepada para guru, orang tua, murid, serta seluruh warga sekolah. Sebab, ketika literasi tumbuh menjadi gerakan bersama, perpustakaan tidak lagi hanya menjadi fasilitas pendidikan, tetapi menjelma sebagai ruang yang menghubungkan pengetahuan, pengalaman, dan inspirasi.
Bagi Danar, langkah ini merupakan bagian dari perjuangan membangun lingkungan pendidikan yang tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi juga menanamkan karakter, kemandirian, kreativitas, dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.
Akreditasi yang akan dijalani Rumah Pena Al Azhar pun bukan semata-mata tentang pemenuhan standar dan penilaian administratif. Lebih dari itu, proses tersebut menjadi kesempatan untuk terus berbenah, meningkatkan mutu layanan, serta memastikan perpustakaan benar-benar hadir sebagai ruang belajar yang bermakna.
Dengan semangat dan keteladanan yang terus dirawat, Rumah Pena Al Azhar diharapkan tumbuh menjadi pusat literasi yang inklusif, tempat murid menemukan inspirasi, guru memperkaya wawasan, orang tua turut berpartisipasi, dan masyarakat memperoleh manfaat.
Perjalanan menuju akreditasi ini menjadi salah satu babak penting dalam ikhtiar SD Islam Al Azhar 59 Wonosari. Dari langkah Danar berbagi buku, tersirat pesan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Ketulusan memberi, kemauan bergerak, dan kesediaan menjadi teladan dapat menjadi fondasi bagi tumbuhnya budaya literasi yang berkelanjutan.
Rumah Pena Al Azhar — Membaca Hari Ini, Memimpin Esok. Sebuah cita-cita yang tidak hanya ditumbuhkan melalui buku, tetapi juga melalui keteladanan dan perjuangan orang-orang yang percaya bahwa pengetahuan adalah bekal terbaik untuk masa depan. (Chaidir)






