- SD Islam Al Azhar 59 Wonosari memperingati Bulan Bahasa bertajuk “Sastra & Swarna Batik” melalui Gerakan 1 Person 1 Book untuk menumbuhkan budaya membaca.
- Kegiatan dimeriahkan pembiasaan tiga bahasa, pentas seni, fashion show batik, kreasi topi batik, serta sesi inspiratif bersama YouTuber Baby Dinar.
- Peluncuran buku karya siswa berjudul “Sepotong yang Tak Terlihat” menjadi bentuk apresiasi kreativitas sekaligus dorongan agar peserta didik berani menulis dan berkarya.
AYWS – Menumbuhkan budaya membaca tidak cukup hanya dengan menyediakan buku. Kebiasaan itu perlu dibangun melalui gerakan bersama, dimulai dari lingkungan sekolah. Semangat inilah yang mewarnai peringatan Bulan Bahasa di SD Islam Al Azhar 59 Wonosari melalui “Gerakan 1 Person 1 Book”.
Gerakan yang dilakukan tersebut menjadi salah satu program utama dalam kegiatan Bulan Bahasa bertajuk “Sastra dan Swarna Batik” yang diselenggarakan pada Kamis, 8 Oktober 2026. Melalui program ini, setiap warga sekolah didorong membawa dan membaca buku sebagai bagian dari pembiasaan literasi dalam keseharian.
Lebih dari sekadar aktivitas membaca, “Gerakan 1 Person 1 Book” diharapkan menjadi langkah untuk mendekatkan anak-anak dengan buku, memperluas wawasan, serta menumbuhkan kesadaran bahwa membaca merupakan kebutuhan untuk terus belajar dan berkembang.
Upaya membangun budaya literasi tersebut semakin bermakna dengan peluncuran buku karya peserta didik berjudul “Sepotong yang Tak Terlihat”. Karya ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan bahwa gagasan, imajinasi, dan pengalaman mereka dapat dituangkan menjadi tulisan yang bisa dibaca dan diapresiasi.
Peluncuran buku tersebut sekaligus menjadi bentuk penghargaan terhadap proses kreatif siswa. Anak-anak tidak hanya didorong menjadi pembaca, tetapi juga diberi kesempatan untuk menjadi penulis yang berani menyampaikan pemikiran melalui karya.
Membiasakan Tiga Bahasa, Merawat Identitas Budaya
Peringatan Bulan Bahasa tahun ini juga menghadirkan Gerakan Pembiasaan 3 Bahasa per Hari, yakni bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bahasa Jawa.
Melalui pembiasaan tersebut, peserta didik diajak menggunakan beragam bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Selain melatih keterampilan komunikasi, program ini memperkenalkan bahasa sebagai sarana untuk memperluas pergaulan, memahami beragam perspektif, sekaligus menjaga kedekatan dengan identitas budaya sendiri.
Pemilihan tema “Sastra & Swarna Batik” memperkuat pesan bahwa pengembangan kemampuan berbahasa dapat berjalan beriringan dengan kecintaan terhadap budaya Nusantara.
Nuansa batik hadir dalam berbagai kegiatan kreatif, mulai dari fashion show batik hingga lomba kreasi topi batik. Melalui aktivitas tersebut, peserta didik berkesempatan mengenal keunikan motif batik sekaligus mengekspresikan kreativitas mereka.
Rangkaian acara juga dimeriahkan pentas seni dan lomba karya tulis terbaik. Berbagai kegiatan ini memberikan ruang bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan, membangun kepercayaan diri, serta belajar menghargai karya dan penampilan teman-temannya.
Belajar Berkarya di Era Digital
Pengalaman belajar peserta didik semakin beragam melalui sesi berbagi inspirasi bersama Baby Dinar. Dalam kesempatan tersebut, ia membagikan pengalaman perjalanan dan kesuksesannya sebagai YouTuber sekaligus menjalani peran sebagai pelajar.
Sesi ini memberikan perspektif kepada siswa mengenai pentingnya mengembangkan potensi diri, berani berkarya, serta memanfaatkan teknologi secara positif. Anak-anak juga diajak memahami pentingnya menyeimbangkan aktivitas di dunia digital dengan tanggung jawab terhadap pendidikan.
Kehadiran figur muda yang berkarya di ruang digital menjadi pengingat bahwa teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar dan berekspresi, selama digunakan secara bijak dan bertanggung jawab.
Literasi Bukan Sekadar Perayaan
Melalui Bulan Bahasa “Sastra & Swarna Batik”, SD Islam Al Azhar 59 Wonosari memadukan pembiasaan membaca, pengembangan kemampuan berbahasa, kreativitas sastra, dan pelestarian budaya dalam satu rangkaian kegiatan.
Gerakan 1 Person 1 Book, pembiasaan tiga bahasa, serta peluncuran buku “Sepotong yang Tak Terlihat” menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Ketiganya menunjukkan bahwa literasi dapat dikembangkan melalui kebiasaan membaca, keberanian menulis, dan kesempatan untuk mengekspresikan gagasan.
Sementara itu, kegiatan seni dan batik memberikan pengalaman bahwa belajar bahasa dan sastra tidak terlepas dari upaya mengenal serta merawat kekayaan budaya bangsa.
Antusiasme peserta didik dalam mengikuti berbagai kegiatan menunjukkan bahwa pembelajaran dapat berlangsung melalui pengalaman yang menyenangkan dan bermakna. Harapannya, semangat membaca, menulis, berkomunikasi, dan berkarya tidak berhenti ketika peringatan Bulan Bahasa usai.
Sebab, keberhasilan gerakan literasi bukan hanya terlihat dari banyaknya buku yang dibawa atau karya yang diluncurkan, melainkan dari tumbuhnya kebiasaan membaca dan keberanian menghasilkan karya dalam kehidupan sehari-hari. (Triani)






