Siaga Sejak Dini! Murid SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta Belajar Jadi ‘Penolong Pertama’

SLEMAN – Suasana di Auditorium Al Hafidz Kampus Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) pada Kamis (26/2/2026) tak seperti biasanya. Jika hari-hari sebelumnya ruangan itu dipenuhi suara presentasi dan kegiatan sekolah dan lainnya, kali ini yang terdengar adalah instruksi tegas, simulasi keadaan darurat, dan semangat dari para siswa.

Para murid kelas 5 SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta duduk melingkar membentuk kelompok-kelompok memperhatikan setiap gerakan instruktur dari perugas PMI Kabupaten Sleman. Mereka tidak sedang menghafal teori, melainkan belajar menjadi penolong pertama saat keadaan genting datang tanpa aba-aba.

Satu per satu materi dipraktikkan secara langsung. Mulai dari cara menangani luka bakar ringan, mengompres memar, menghentikan mimisan, hingga langkah tepat saat menghadapi teman yang pingsan. Bahkan simulasi penanganan patah tulang pun dilakukan dengan serius, lengkap dengan teknik pembidaian sederhana. Beberapa siswa tampak tegang saat pertama kali memegang perban, namun perlahan rasa canggung berubah menjadi percaya diri.

Kepala Satuan Pendidikan, Ardian Sinta Budiono SPd, menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar agenda tambahan di luar kelas. Menurutnya, keberanian dan ketepatan bertindak dalam situasi darurat adalah bekal hidup yang sama pentingnya dengan nilai akademik.

“Anak-anak harus paham bagaimana menyelamatkan diri sendiri terlebih dahulu sebelum membantu orang lain. Dari situ tumbuh rasa tanggung jawab dan kepedulian. Harapannya, mereka tidak panik ketika menghadapi kondisi darurat, tetapi mampu bertindak cepat dan tepat,” ujarnya.

Di sela-sela praktik, Lhetare dari PMI Kabupaten Sleman menekankan bahwa edukasi Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) idealnya memang dikenalkan sejak dini. Kecelakaan bisa terjadi di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan bermain. Pengetahuan sederhana, kata dia, bisa menjadi penentu keselamatan seseorang.

Baca Juga  SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta Jalin Kerjasama Internasional dengan Malaysia dan Singapura

“Anak-anak tidak harus melakukan tindakan medis yang rumit. Cukup tahu langkah dasar yang aman dan benar. Yang terpenting, mereka berani bertindak tanpa mengabaikan prinsip keselamatan,” jelasnya.

Pelatihan ini menjadi gambaran komitmen sekolah dalam membangun karakter siswa yang utuh. Tidak hanya cerdas secara akademik dan kuat dalam nilai religius, tetapi juga sigap, tangguh, dan peduli terhadap keselamatan sesama. Dari ruang auditorium itu, lahir bukan hanya siswa yang pandai, tetapi calon generasi yang siap menjadi penolong di saat genting.
(Dedik DP)