Berangkat Haji Bukan Sekadar Perjalanan, Tapi Ujian Kesabaran dan Syukur

SLEMAN – Suasana haru dan khidmat menyelimuti Auditorium Al Hafidh Kampus AYWS Sleman, Minggu (19/4/2026). Sebanyak 208 calon jamaah haji yang tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIHU) Ar Raudhah resmi dilepas, menandai awal perjalanan spiritual menuju Tanah Suci yang telah lama dinanti.

Keberangkatan para tamu Allah yang dijadwalkan pada 22 April 2026 itu disaksikan langsung oleh Ketua KBIHU KH Imam Subarno serta Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) DIY, Drs HA Hafidh Asrom MM. Kehadiran para tokoh ini semakin menguatkan makna bahwa perjalanan haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan iman dan kesungguhan hati.

Dalam arahannya, KH Imam Subarno mengingatkan pentingnya kesiapan teknis sekaligus spiritual. Mengingat jamaah berangkat pada gelombang awal, ia menekankan agar jamaah mengambil nafar awal—meninggalkan Mina lebih cepat pada 12 Dzulhijjah—sehingga dapat segera kembali ke Makkah untuk menunaikan tawaf wada’, tawaf perpisahan yang sarat makna sebelum kembali ke Tanah Air.

Namun lebih dari sekadar manasik, pesan yang disampaikan menyentuh dimensi terdalam perjalanan hidup manusia.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Wijayanto mengajak seluruh jamaah untuk menata hati dan menjaga fokus. Fokus dalam ibadah, fokus dalam etika, dan fokus dalam menjalankan peran masing-masing. Tanpa fokus, seseorang akan mudah terombang-ambing, kehilangan arah, dan jauh dari tujuan utama.

Ia menegaskan bahwa inti kehidupan sejatinya bertumpu pada empat pilar yakni sabar, syukur, pikir, dan dzikir. Sabar menjadi kekuatan saat kenyataan tidak berjalan sesuai harapan. Syukur menjadi kunci agar hati tetap lapang menerima setiap ketetapan Allah. Pikir mengajak manusia untuk terus belajar dan memahami, sementara dzikir menjaga hati agar senantiasa terhubung dengan Sang Pencipta.

Dalam kehidupan, perubahan adalah keniscayaan. Baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun kondisi diri, semua akan terus bergerak dan berubah. Karena itu, setiap perubahan harus dihadapi dengan kesabaran dan keikhlasan.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan hidup tidak diukur dari seberapa banyak harta atau pencapaian dunia, melainkan dari kemampuan menjaga hati, memperbanyak amal, serta tetap sabar dan bersyukur dalam segala keadaan. Sebab pada akhirnya, Allah tidak hanya menilai hasil, tetapi melihat niat dan kesungguhan usaha.

Apa yang tidak sesuai dengan rencana manusia, bisa jadi justru merupakan rencana terbaik dari Allah. Di situlah pentingnya keikhlasan—menerima dengan lapang dada apa yang telah digariskan, seraya terus berbaik sangka kepada-Nya.

Sementara itu, Hafidh Asrom menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh jamaah. Ia berharap seluruh calon jamaah haji dapat menjalankan ibadah dengan lancar dan kembali ke Tanah Air dengan membawa predikat haji mabrur—sebuah kemuliaan yang menjadi dambaan setiap muslim.

Pelepasan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju keabadian nilai. Sebuah perjalanan yang tidak hanya mengubah langkah, tetapi juga mengubah hati. (Chaidir)