Nafsu Muthmainnah, Bekal Terbaik Menghadapi Kematian

YOGYAKARTA – Suasana Syawalan dan Halal Bihalal Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) DIY di Gedung Kanwil Kementerian Agama DIY, Sabtu (18/4/2026), terasa hangat dalam balutan silaturahmi. Namun di balik kehangatan itu, terselip pesan yang mengajak setiap hati untuk merenung lebih dalam tentang satu kepastian hidup: kematian.

Dalam tausiyahnya, dr Agus Taufiqurrahman SpS MKes, mengajak para jamaah untuk tidak sekadar merayakan kebersamaan, tetapi juga mengingat perjalanan panjang yang akan dilalui setiap manusia setelah kehidupan dunia berakhir. Ia menegaskan bahwa kematian bukan sesuatu yang jauh, melainkan sangat dekat dan pasti menghampiri siapa saja.

Firman Allah yang menyatakan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati menjadi pengingat yang tak terbantahkan. Ayat itu, menurutnya, bukan sekadar kalimat yang dihafal, melainkan harus diresapi sebagai kesadaran bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan sementara.

Ia kemudian membawa jamaah pada perenungan tentang satu kondisi jiwa yang menjadi dambaan setiap muslim, yakni nafsu muthmainnah. Sebuah keadaan ketika hati merasa tenang, lapang, dan penuh keyakinan saat kembali kepada Allah. Dalam Al-Qur’an digambarkan bagaimana jiwa yang tenang itu dipanggil dengan penuh kemuliaan untuk kembali kepada Tuhannya dalam keadaan ridha dan diridhai.

Menurut dr. Agus, ketenangan itu tidak datang secara tiba-tiba di akhir kehidupan. Ia tumbuh perlahan dari kebiasaan menjaga iman, memperbanyak amal kebaikan, serta membersihkan hati dari berbagai penyakit batin. Orang yang hidup dengan keikhlasan dan kesadaran akan akhirat, akan lebih siap menghadapi kematian tanpa kegelisahan berlebihan.

Ia juga mengingatkan sabda Rasulullah agar manusia memperbanyak mengingat kematian. Bukan untuk menumbuhkan rasa takut yang melemahkan, tetapi justru untuk menjaga arah hidup agar tetap lurus dan bermakna. Dengan mengingat kematian, seseorang akan lebih berhati-hati dalam bertindak, lebih ringan dalam berbuat baik, dan lebih cepat kembali saat melakukan kesalahan.

Dalam suasana yang hening, pesan itu terasa menembus relung hati para jamaah. Bahwa bekal menuju kematian bukanlah harta atau kedudukan, melainkan iman yang kokoh, amal yang tulus, serta hati yang bersih dari kesombongan dan dengki. Taubat menjadi jalan yang selalu terbuka, selama manusia masih diberi kesempatan bernapas.

Menutup tausiyahnya, dr. Agus mengajak seluruh hadirin menjadikan momen Syawalan ini sebagai titik balik untuk memperbaiki diri. Silaturahmi tidak hanya menyambung hubungan antarmanusia, tetapi juga menjadi jembatan untuk kembali mendekat kepada Allah.

Di tengah suasana kebersamaan itu, terselip kesadaran yang menguat yaitu kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu menuju kehidupan yang lebih abadi. Dan beruntunglah mereka yang mampu melangkah menuju pintu itu dengan hati yang tenang—nafsu muthmainnah. (Chaidir)