SLEMAN – Di tengah meningkatnya tantangan yang dihadapi siswa di era modern, Al Azhar Yogyakarta World School (AYWS) hadir sebagai sekolah Islam profesional yang tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga memberikan perhatian serius terhadap kesehatan mental peserta didik melalui layanan psikologi yang terstruktur dan komprehensif.
Keberadaan layanan psikologi di lingkungan sekolah hingga saat ini masih tergolong terbatas. Bahkan, tidak semua sekolah swasta memiliki fasilitas tersebut secara optimal. Namun AYWS justru menjadikannya sebagai bagian penting dari sistem pendidikan, sekaligus menjadi nilai unggul dalam menjawab kebutuhan orang tua akan pendidikan yang lebih holistik.
Layanan psikologi di AYWS ditangani oleh Weni Safitri MPsi Psikolog, yang memiliki latar belakang pendidikan S1 Psikologi dari Universitas Diponegoro (Undip) dan Magister Psikologi Profesi dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Dengan kompetensi tersebut, ia memiliki kewenangan profesional dalam melakukan asesmen, diagnosis, serta intervensi psikologis.
Menurut Weni, kehadiran psikolog di sekolah bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama dalam pendidikan modern. Ia menegaskan bahwa sekolah seharusnya tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang aman bagi siswa untuk berkembang secara emosional dan mental.
Ia menjelaskan bahwa banyak permasalahan psikologis yang muncul di usia dewasa sebenarnya berakar dari pengalaman masa sekolah yang tidak tertangani dengan baik. Pengalaman seperti bullying, tekanan akademik, hingga lingkungan belajar yang tidak nyaman dapat meninggalkan dampak jangka panjang jika tidak segera diintervensi sejak dini.
“Oleh karena itu, layanan psikologi di sekolah tidak hanya berfungsi sebagai penanganan masalah, tetapi juga sebagai langkah pencegahan yang strategis,” ujar Weni dalam wawancaranya, Rabu (29/4/2026).
Dalam praktiknya, Weni memberikan layanan yang mencakup asesmen psikologis berbasis alat tes berlisensi, intervensi dan terapi, serta pendampingan sosial-emosional siswa. Ia menangani berbagai jenjang pendidikan, mulai dari anak usia dini hingga remaja. Tidak sedikit kasus yang ditemui menunjukkan bahwa siswa memiliki potensi akademik yang baik, namun tidak dapat berkembang optimal karena adanya hambatan psikologis.
Kolaborasi dengan Guru BK
Menurutnya, peran psikolog di sekolah tidak dapat berdiri sendiri. Kolaborasi dengan guru Bimbingan Konseling (BK) dan guru kelas menjadi kunci dalam proses pendampingan siswa. Guru BK berperan dalam monitoring harian serta penanganan awal, sementara psikolog menangani kasus yang lebih kompleks dengan pendekatan profesional dan berbasis data.
Menariknya, Weni menilai bahwa tingkat kesadaran tenaga pendidik di AYWS terhadap pentingnya kesehatan mental sudah cukup tinggi. Ia mengaku mendapatkan dukungan penuh dari pihak sekolah dalam menjalankan tugasnya, mulai dari kemudahan melakukan observasi di kelas hingga fasilitasi pertemuan dengan orang tua. Hal ini menjadi salah satu keunggulan yang tidak selalu ditemukan di sekolah lain.
Pendekatan yang digunakan dalam layanan psikologi di AYWS bersifat holistik, melibatkan tiga elemen utama, yakni anak, orang tua, dan sekolah. Setiap kasus ditangani melalui proses assessment yang komprehensif, mulai dari wawancara dengan orang tua, observasi guru, hingga interaksi langsung dengan anak. Dalam kondisi tertentu, dilakukan pula observasi di lingkungan kelas maupun kunjungan ke rumah guna memperoleh gambaran yang lebih utuh.
Hasil dari proses tersebut kemudian disusun dalam laporan psikologis yang berisi analisis akar masalah serta rekomendasi penanganan yang jelas dan terarah. Weni menegaskan bahwa perbedaan persepsi antara guru dan orang tua sering kali terjadi, sehingga pengumpulan data dari berbagai sumber menjadi sangat penting untuk menghasilkan intervensi yang tepat.
Dalam pengalamannya, Weni menemukan bahwa faktor terbesar dalam permasalahan anak justru berasal dari lingkungan keluarga, khususnya pola pengasuhan orang tua. Ia menyebut bahwa sekitar 60 persen perubahan perilaku anak dipengaruhi oleh orang tua, sementara 40 persen lainnya berasal dari intervensi psikolog.
Ia menyoroti masih banyak orang tua yang memiliki ekspektasi tinggi tanpa memahami perbedaan potensi setiap anak. Tekanan yang berlebihan justru dapat membuat anak kehilangan rasa percaya diri, mengalami stres, hingga menurunkan performa akademik. Bahkan, perilaku seperti bullying sering kali berakar dari apa yang anak lihat dan alami di rumah.
Kebahagian Anak Menjadi Prioritas
Dalam pendekatannya, Weni menekankan bahwa kebahagiaan anak harus menjadi prioritas utama dalam pendidikan. Ia meyakini bahwa ketika anak merasa aman, nyaman, dan bahagia, maka kemampuan akademiknya akan berkembang secara alami. Sebaliknya, tekanan yang berlebihan justru dapat menghambat proses belajar.
Sebagai sekolah yang mengedepankan profesionalisme, AYWS juga menghadirkan sistem layanan psikologi yang modern dan terstruktur. Proses layanan dimulai dari pendaftaran digital melalui Google Form yang dapat diakses oleh guru, orang tua, maupun siswa. Setelah itu dilakukan screening awal, pengumpulan data, hingga penjadwalan sesi yang disesuaikan dengan kebutuhan klien.
Layanan yang tersedia tidak hanya terbatas pada siswa, tetapi juga mencakup konseling orang tua, observasi kelas, hingga pendampingan bagi guru. Selama proses berlangsung, dilakukan monitoring secara berkala serta koordinasi intensif antara psikolog, sekolah, dan keluarga.
Sebagai bagian dari upaya preventif, AYWS juga melaksanakan screening psikologis bagi siswa baru, khususnya pada jenjang TK dan SD. Melalui proses ini, sekolah dapat memetakan potensi, karakter, serta kecenderungan siswa sejak awal, sehingga pendekatan pendidikan dapat disesuaikan secara lebih tepat.
Antrean Layanan
Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental, permintaan layanan psikologi di AYWS pun terus meningkat. Hal ini berdampak pada antrean layanan yang cukup tinggi, sehingga penanganan kasus harus dilakukan secara bertahap sesuai prioritas.
“Antrean yang meminta pelayanan konsultasi cukup banyak, baik siswa maupun orang tua,” ujar Weni.
Melihat kondisi tersebut, Weni berharap ke depan layanan psikologi dapat terus dikembangkan, termasuk dengan penambahan tenaga psikolog di setiap kampus AYWS agar jangkauan layanan semakin luas dan respons penanganan semakin cepat.
Menurutnya, setiap anak berhak mendapatkan pendampingan psikologis yang layak sebagai bagian dari hak pendidikan yang utuh. Keberadaan layanan psikologi tidak hanya membantu siswa yang mengalami masalah, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam menciptakan generasi yang sehat secara mental.
Sekolah Islam Profesional
Dengan berbagai keunggulan tersebut, AYWS semakin menegaskan dirinya sebagai sekolah Islam profesional yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesehatan mental siswa. Di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks, pendekatan pendidikan seperti ini menjadi semakin relevan dan dibutuhkan.
Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya berbicara tentang nilai dan pencapaian, tetapi juga tentang bagaimana membentuk manusia yang utuh. Melalui layanan psikologi yang profesional dan terintegrasi, AYWS berupaya memastikan setiap siswa dapat tumbuh dengan sehat, bahagia, dan siap menghadapi masa depan. (Chaidir)







