119 Siswa Kelas 2 SD Islam Al Azhar 31 dan 77 Tampil Memukau di Konser Merakit Mimpi

SLEMAN – Suasana berbeda terasa di Auditorium Al Hafidh, Kampus 1 Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) pada Sabtu pagi, 9 Mei 2026. Sejak awal acara, ruangan itu dipenuhi aura semangat, kebahagiaan, sekaligus kebanggaan. Deretan kursi yang dipadati orang tua dan guru menjadi saksi bagaimana 119 murid Kelas 2 SD Islam Al Azhar 31 dan 77 Yogyakarta menampilkan karya terbaik mereka dalam sebuah pertunjukan bertajuk “Konser Spektakuler: Merakit Mimpi”.

Gemuruh tepuk tangan kagum selalu bergemuruh sejak acara dimulai. Setiap anak yang tampil di atas panggung seakan membawa cerita dan harapan masing-masing. Dalam balutan kostum yang rapi dan ekspresi yang penuh percaya diri, mereka menunjukkan bahwa panggung bukan lagi tempat yang menakutkan, melainkan ruang untuk bertumbuh.

Kegiatan ini dirancang bukan sekadar sebagai ajang pertunjukan seni. Lebih dari itu, konser ini menjadi bagian dari proses pembelajaran yang utuh. Anak-anak diajak untuk mengenal diri, menggali potensi, serta mulai memahami arti sebuah cita-cita. Di usia yang masih dini, mereka belajar bahwa mimpi bukan hanya untuk dibayangkan, tetapi juga untuk diperjuangkan.

Perjalanan menuju konser ini pun tidak singkat. Selama kurang lebih tiga bulan, para murid menjalani proses latihan yang penuh tantangan sekaligus menyenangkan. Dari menghafal lagu, menyelaraskan gerakan, hingga membangun kekompakan dalam kelompok, semuanya menjadi bagian penting dalam membentuk karakter mereka.

Acara dibuka dengan penampilan paduan suara massal yang langsung memikat perhatian. Lagu yang dibawakan mengangkat tema kebersamaan dan pentingnya menghargai perbedaan. Suara anak-anak yang berpadu dengan harmonis menghadirkan suasana hangat yang menyentuh hati para penonton.

Setelah itu, acara secara resmi dibuka oleh Wakil Kepala Satuan Pendidikan, Farad AbdurahmanSPd. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa proses latihan yang panjang bukan hanya menghasilkan penampilan yang baik, tetapi juga membentuk karakter anak. Nilai-nilai seperti kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan kerja sama tumbuh seiring dengan proses yang mereka jalani.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan anak tidak dapat dipisahkan dari peran orang tua. Sinergi antara pendidikan di sekolah dan pola asuh di rumah menjadi fondasi utama dalam membentuk anak yang percaya diri dan siap menghadapi masa depan.

Satu per satu penampilan kemudian ditampilkan dengan penuh semangat. Lagu-lagu bertema persatuan, semangat meraih mimpi, serta ungkapan cinta kepada orang tua disajikan dengan penghayatan yang tulus. Tidak sedikit penonton yang terlihat terharu menyaksikan anak-anak tampil dengan begitu berani dan percaya diri.

Puncak acara hadir melalui penampilan ansambel lagu Laskar Pelangi. Lagu ini menjadi simbol kuat tentang harapan, perjuangan, dan keyakinan untuk meraih cita-cita. Penampilan tersebut tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya bermimpi dan berusaha.

Kehadiran Gusti Bendoro Pangeran Haryo Haji Prabukusumo SPsi, menambah kehormatan dalam acara ini. Ia menyampaikan kedua cucunya sekolah di SD Al Azhar Yogyakarta. Dalam pandangannya, pendidikan di SD Al Azhar telah menunjukkan keseimbangan antara pembentukan karakter, penanaman nilai agama, serta pengembangan kreativitas anak. Ia juga mengapresiasi peran guru yang dinilai mampu menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna dan membekas bagi para murid.

Dukungan dari orang tua dan guru menjadi energi besar bagi anak-anak. Setiap penampilan disambut dengan tepuk tangan meriah, senyum bangga, bahkan sesekali haru yang tak terbendung. Momen ini menjadi bukti bahwa kehadiran dan dukungan orang dewasa sangat berarti dalam perjalanan tumbuh kembang anak.

Salah satu wali murid, Prof. Djagal dari FTP UGM, turut menyampaikan pandangannya. Ia menilai bahwa kegiatan seperti “Merakit Mimpi” sangat penting dalam membantu anak mengenali potensi diri. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana efektif untuk melatih keberanian serta kemampuan tampil di depan umum sejak dini.

Menjelang akhir acara, seluruh murid berkumpul di atas panggung. Dengan penuh semangat, mereka meneriakkan “Aku Bisa, Yeay!” secara serempak. Sorakan sederhana itu menjadi penutup yang kuat, mencerminkan tumbuhnya rasa percaya diri setelah melalui proses panjang yang tidak mudah.

Konser “Merakit Mimpi” pada akhirnya bukan hanya menjadi hiburan bagi para penonton. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi perjalanan penting bagi anak-anak dalam mengenal diri, membangun keberanian, dan merangkai mimpi mereka. Di balik setiap lagu dan penampilan, tersimpan proses belajar yang akan menjadi bekal berharga bagi masa depan mereka. Dari panggung sederhana di Auditorium Al Hafidh, langkah-langkah kecil menuju mimpi besar itu pun mulai dirajut. (Dian)