Barakallah! Hafidz 30 Juz Ini Raih Beasiswa Al Azhar Yogyakarta hingga Garuda, Diterima di 4 Kampus Dunia

“Bukan tentang seberapa cepat sampai, tetapi seberapa konsisten melangkah.”

Kalimat sederhana itu seolah menjadi napas dari perjalanan panjang Athallah Ahmad Rashad—seorang pemuda yang membuktikan bahwa ketekunan, keimanan, dan kerja keras mampu mengantarkan seseorang melampaui batas yang tampak mustahil.

Di lingkungan SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta, nama Athallah—atau yang akrab disapa Atha—bukanlah sosok yang asing. Sejak awal menginjakkan kaki di bangku kelas X, ia telah menunjukkan sinar yang berbeda. Bukan hanya karena kecerdasannya di ruang kelas, tetapi juga karena komitmennya yang luar biasa dalam menjaga hafalan 30 juz Al-Qur’an.

Di usia yang masih belia, Atha telah menyelesaikan sesuatu yang bagi banyak orang adalah perjalanan seumur hidup. Namun baginya, hafalan itu bukanlah garis akhir—melainkan fondasi. Sebab, di balik hafalan yang ia jaga dengan sepenuh hati, tersimpan sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan kesabaran dan kedisiplinan. Malam-malam yang sunyi diisi dengan murojaah, mengulang ayat demi ayat agar tetap terpatri kuat dalam ingatan. Hari-hari yang penuh aktivitas tetap ia jalani dengan satu tujuan: menjadi pribadi yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih bermanfaat.

Perjalanan itu pun tidak lepas dari tantangan. Namun Atha memilih untuk tidak menyerah. Ia menjadikan setiap proses sebagai bagian dari pembentukan dirinya. Sejak awal bersekolah di SMA Islam Al Azhar Yogyakarta, Atha telah menjadi penerima beasiswa. Pada tahun pertama, ia memperoleh beasiswa sebesar 75 persen. Sebuah capaian yang patut disyukuri, namun tidak membuatnya berpuas diri.

Dengan disiplin yang terus dijaga, prestasi akademik yang meningkat, serta komitmen terhadap hafalan Al-Qur’an, beasiswa itu kemudian meningkat menjadi 100 persen pada tahun kedua dan ketiga. Sebuah bukti bahwa kerja keras yang konsisten tidak pernah mengkhianati hasil.

Beasiswa ini bukan sekadar bantuan finansial, tetapi juga bentuk kepercayaan—yang ia jawab dengan dedikasi penuh. Setiap rupiah yang diberikan, ia balas dengan usaha. Setiap kesempatan yang dibuka, ia jawab dengan prestasi. Hingga akhirnya, langkah-langkah kecil yang ia tempuh dengan konsisten itu membawanya pada sebuah pintu besar yang mengubah arah hidupnya.

Beasiswa Garuda

Di tengah persaingan global yang semakin ketat, ketika ribuan pelajar terbaik dari seluruh penjuru Indonesia berlomba menunjukkan kemampuan terbaiknya, Atha berhasil menembus seleksi ketat dan dinyatakan lolos sebagai penerima Beasiswa Garuda Sarjana Gelombang 1 Tahun 2026.

Sebuah capaian yang tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga kebanggaan bagi keluarga, sekolah, dan semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanannya. Rupanya berkah Allah mengalir begitu indah. Barakllah!

Beasiswa Garuda bukanlah sekadar bantuan pendidikan. Ia adalah simbol harapan bangsa—bahwa anak-anak muda Indonesia memiliki potensi untuk berdiri sejajar dengan dunia. Program ini memberikan pembiayaan penuh, mulai dari biaya kuliah, biaya hidup, tiket perjalanan, hingga kebutuhan penunjang lainnya.

Namun lebih dari itu, Beasiswa Garuda adalah tentang kepercayaan—bahwa para penerimanya adalah calon pemimpin masa depan. Dan Atha, kini memikul kepercayaan itu.

Langkahnya telah menembus batas negara. Ia diterima di berbagai universitas bergengsi dunia seperti University of Queensland dan Monash University di Australia, serta University of British Columbia dan University of Toronto di Kanada. Empat kampus, empat pintu masa depan yang terbuka lebar. Namun dari semua pilihan itu, Atha menetapkan hatinya pada satu tujuan yakni University of Toronto. Di sanalah ia ingin melanjutkan perjalanannya, menapaki fase baru dalam hidupnya.

Jurusan Biomedis

Ia memilih bidang Biomedis—sebuah disiplin ilmu yang berada di persimpangan antara kedokteran dan teknologi. Bidang ini berbicara tentang masa depan tentang alat kesehatan canggih, riset vaksin, hingga inovasi yang mampu menyelamatkan jutaan nyawa.

Bagi Atha, ini bukan sekadar pilihan jurusan. Ini adalah panggilan. “Sejak kecil saya memang bercita-cita untuk bisa belajar ke luar negeri. Tapi perjalanan di SMA, terutama melalui kegiatan karya ilmiah, benar-benar membentuk arah saya,” tuturnya saat diwawancari usai acara Wisuda Angkatan X SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta di Yogyakarta Marriot Hotel, Sabtu (9/5/2026).

Dari sana, ia menyadari bahwa mimpinya bukan hanya menjadi seorang dokter, tetapi menjadi seorang ilmuwan—seseorang yang tidak hanya mengobati, tetapi juga menemukan solusi.

Tes yang Ketat

Perjalanan menuju titik ini tentu tidak mudah. Proses seleksi Beasiswa Garuda menuntut kesiapan yang luar biasa. Atha harus melewati berbagai tahapan, mulai dari tes kemampuan akademik dan IQ yang menguji logika serta daya analisis, tes bahasa Inggris seperti IELTS yang mengukur kemampuan komunikasi global, hingga ujian standar internasional seperti SAT.

Tak hanya itu, ia juga harus melalui seleksi administrasi yang ketat—mulai dari nilai akademik, rekam jejak prestasi, hingga penulisan esai dan motivation letter yang mencerminkan visi hidupnya. Wawancara mendalam pun menjadi tahap penentu, menggali motivasi, karakter, serta komitmennya untuk berkontribusi bagi Indonesia.

Dalam setiap proses itu, Atha tidak berjalan sendiri.

SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta menjadi rumah yang membentuk dan menguatkannya. Bimbingan intensif, kelas persiapan IELTS, hingga pendampingan dalam penulisan esai menjadi bagian penting dalam perjalanannya. Namun lebih dari itu, sekolah telah memberinya bekal yang jauh melampaui akademik.

Ia belajar menulis karya ilmiah, berbicara di depan publik, memimpin organisasi, dan memahami arti kolaborasi. Semua itu menjadi fondasi yang menguatkan langkahnya menuju dunia yang lebih luas.

“Saya merasa mendapatkan banyak hal di sini, bahkan sebelum saya benar-benar masuk ke dunia perkuliahan,” ujarnya.

Di balik semua pencapaian itu, Atha tidak pernah melupakan mereka yang telah membersamai perjalanannya. Dengan penuh kerendahan hati, ia menyampaikan rasa syukur kepada Ketua Yayasan Asram/BPPH AL Azhar Yogyakarta, Drs HA Hafid Asram MM, yang telah memberinya beasiswa selama tiga tahun.

“Tanpa beliau, mungkin saya tidak bisa sampai di titik ini,” ucapnya lirih.

Kini, di persimpangan antara masa lalu dan masa depan, Atha berdiri dengan satu keyakinan bahwa setiap langkah yang ia tempuh bukan hanya untuk dirinya sendiri. Ia membawa harapan. Ia membawa amanah.

Atha ingin membalas kebaikan, mengharumkan nama sekolah, dan suatu hari nanti kembali untuk memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.

Kepada adik-adik kelasnya, ia meninggalkan pesan sederhana, namun penuh makna: “Temukan apa yang kamu cintai. Karena ketika kamu sudah mencintai apa yang kamu lakukan, kamu tidak akan mudah menyerah. Dan dari situlah jalan menuju kesuksesan akan terbuka.”

Dari ruang-ruang kelas yang sederhana, dari lembar-lembar hafalan yang ia jaga dengan penuh cinta, kini lahirlah seorang calon ilmuwan masa depan. Seseorang yang kelak tidak hanya dikenal karena prestasinya, tetapi karena dampak yang ia ciptakan. Sebab pada akhirnya, perjalanan Athallah Ahmad Rashad bukan sekadar tentang keberhasilan pribadi. Melainkan tentang bagaimana iman, ilmu, dan ketekunan mampu mengantarkan seorang anak bangsa melangkah jauh—hingga ke panggung dunia. Dan mungkin, dari langkahnya hari ini, akan lahir harapan-harapan baru bagi Indonesia di masa depan.

Duta AYWS

Usai momen wisuda, Atha berjumpa dengan sang pendiri Sekolah Islam Al Azhar Yogyakarta, Hafidh Asrom. Pertemuan Bagai orang tua dan anak kandungnya sendiri terlihat begitu indah. Hafidh memberikan nasihat kepada Atha agar tetap menjaga jatidiri sebagai seorang muslim yang taat dan warga negara Indonesia yang baik ketika berada di luar negeri.

“Kamu harus tetap membawa jatidiri bangsa dan agama. Jadilah Duta AYWS dan perluas jaringan dan tetap membawa nama baik AYWS,” ujarnya. (Chaidir)