Al Azhar 60 Early Years Programme, Tempat Anak Tumbuh dengan Adab dan Arah yang Pasti

SLEMAN – Di tengah derasnya arus pendidikan modern yang kerap berpacu pada capaian akademik, Al Azhar 60 Early Years Programme justru memilih untuk melangkah dengan arah yang lebih dalam—dan lebih mendasar. Bukan sekadar mengajarkan anak menjadi pintar, tetapi membentuk mereka menjadi manusia seutuhnya.

Satu hal yang menjadi benang merah seluruh proses pendidikan di Al Azhar 60 Early Years Programme adalah arah yang jelas. Berada di bawah naungan Al Azhar Yogyakarta World Schools, program ini dirancang sebagai fondasi awal perjalanan anak. Namun fondasi yang dimaksud bukan sekadar kesiapan masuk jenjang berikutnya, melainkan kesiapan menjalani kehidupan.

Di sinilah letak perbedaannya. Ketika banyak pendidikan anak usia dini berfokus pada “seberapa cepat anak bisa”, Al Azhar 60 justru bertanya: “seperti apa anak ini akan tumbuh nanti?” Jawabannya dimulai dari satu kata: adab.

Menurut Kepala Al Azhar 60 Early Years Programme, Tri Damayanti SPsi, adab bukan pelengkap kurikulum, melainkan inti dari seluruh proses pendidikan. Ia dihadirkan dalam keseharian—dalam cara anak berbicara, bersikap, hingga memperlakukan orang lain.

“Kalau adabnya sudah tertanam, itu akan menjadi kompas hidup mereka. Ilmu bisa menyusul, tapi adab harus dibangun sejak awal,” ujarnya saat diwawancarai di ruang kerjanya, Senin (11/5/2026).

Dari titik itulah, seluruh sistem pembelajaran disusun. Anak-anak tidak dipaksa mengejar target akademik yang melampaui usianya. Sebaliknya, mereka diajak tumbuh melalui proses yang alami dan menyenangkan.

Konsep learning by playing menjadi pendekatan utama. Namun di balik suasana bermain yang tampak sederhana, tersimpan desain pembelajaran yang terstruktur dan terarah. Setiap aktivitas memiliki tujuan. Setiap permainan mengandung stimulasi. Motorik, bahasa, sosial-emosional, hingga kognitif dirangkai dalam satu kesatuan yang utuh.

“Anak merasa sedang bermain, tapi sebenarnya mereka sedang belajar banyak hal. Dan semuanya sudah kami rancang,” kata Tri.

Arah pendidikan yang jelas juga terlihat dari bagaimana sekolah ini membaca masa depan. Dunia yang akan dihadapi anak-anak tidak lagi sama. Teknologi, komunikasi global, dan perubahan cepat menjadi realitas yang tak terhindarkan. Namun, Al Azhar 60 tidak serta-merta menyerahkan anak pada dunia digital.

Teknologi diperkenalkan, tetapi dengan kendali. Smart TV dan smartboard digunakan sebagai alat bantu, sementara gawai dikenalkan secara bertahap dan bijak. “Kami tidak ingin anak hanya menjadi pengguna. Mereka harus paham, harus bisa mengendalikan,” ujarnya.

Lego Brick

Pendekatan ini bahkan lebih terasa dalam program Lego Brick—sebuah metode pengenalan dasar coding yang tidak bergantung pada layar. Anak-anak diajak menyusun, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi.

“Di situlah pembelajaran sesungguhnya terjadi. Mereka belajar sabar, belajar menghadapi kegagalan, belajar mencari solusi. Itu yang tidak bisa didapat dari sesuatu yang instan,” tambahnya.

Tak berhenti pada aspek kognitif, perhatian besar juga diberikan pada fondasi fisik anak. Bunda Dama, panggilan akran Tri Damayanti, menegaskan bahwa sebelum anak mampu menulis atau duduk fokus dalam waktu lama, mereka harus memiliki kekuatan motorik yang matang.

Melalui program gymnastik, anak-anak dilatih kelincahan, keseimbangan, dan koordinasi tubuh. Gerakan seperti roll depan, roll belakang, hingga latihan keseimbangan bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi bagian dari persiapan belajar.

“Motorik itu dasar. Kalau tubuhnya siap, anak akan lebih mudah menyerap pembelajaran,” jelasnya.

Menurut Bunda Dama, program ini dilaksanakan secara rutin, didampingi pelatih profesional dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Bahkan, sekolah juga menyediakan program renang sebagai penguatan fisik dan mental—semuanya diberikan tanpa biaya tambahan.

Di sisi lain, lingkungan belajar dirancang untuk membentuk kemandirian. Anak-anak dibiasakan melakukan hal-hal sederhana sendiri—merapikan barang, makan, hingga berinteraksi dengan teman. Dari hal-hal kecil itulah kepercayaan diri tumbuh.

Namun yang menarik, di tengah arah global yang kuat, Al Azhar 60 tetap berpijak pada akar lokal. Anak-anak dikenalkan pada budaya daerah, mulai dari pakaian adat hingga lagu-lagu tradisional. Sebuah keseimbangan yang jarang ditemukan yakni global dalam visi, lokal dalam identitas.

“Kami ingin mereka siap bersaing di dunia, tapi tetap tahu siapa dirinya,” ujar Tri.

Ke depan, Al Azhar 60 Early Years Programme menatap lebih jauh—menjadi taman kanak-kanak internasional berbasis Islam modern. Sebuah visi yang tidak hanya berbicara tentang teknologi dan bahasa, tetapi juga tentang nilai.

Dan dari seluruh proses yang dijalankan, satu gambaran lulusan sudah mulai terlihat yakni anak yang berakhlak, mandiri, percaya diri, cerdas secara intelektual dan emosional, serta siap menghadapi dunia tanpa kehilangan jati dirinya.

Di tengah banyaknya arah pendidikan yang kabur, Al Azhar 60 justru hadir dengan kejelasan. Mereka tidak hanya mengajar anak hari ini, tetapi sedang menyiapkan manusia untuk masa depan. Dan semuanya dimulai dari satu hal sederhana—yang sering kali terlupakan yaitu adab.

Profil Tri Damayanti

Tri Damayanti SPsi merupakan sosok pendidik yang berdedikasi tinggi dalam dunia pendidikan anak usia dini. Lahir di Klaten pada 18 Desember 1981, ia tumbuh dan berkembang dengan semangat belajar yang kuat hingga mengantarkannya menempuh pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada tahun 2000–2004.

Perjalanan pendidikannya dimulai dari SDN Sawit 2, dilanjutkan ke SMP Negeri 1 Prambanan dan SMA Negeri 1 Prambanan. Ketekunan dan konsistensinya dalam menempuh pendidikan menjadi fondasi penting dalam perjalanan kariernya sebagai seorang pendidik profesional.

Dalam dunia kerja, Tri Damayanti telah mengabdikan diri sebagai guru sekaligus kepala sekolah di Bianglala Kindergarten, Playgroup & Daycare. Dedikasinya dalam mengelola dan mendidik anak-anak usia dini terus berlanjut saat ia dipercaya menjadi guru dan kepala sekolah di TK Al Azhar 31 Yogyakarta. Peran tersebut menunjukkan kapasitasnya tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pemimpin yang mampu mengelola institusi pendidikan dengan baik.

Di tengah kesibukannya, ia tetap menyempatkan diri untuk menyalurkan hobi membaca buku dan menyanyi, yang turut memperkaya wawasan serta menjaga keseimbangan hidupnya. Ia juga kerap diundang sebagai pembicara dalam kegiatan seminar parenting di berbagai tempat.

Bagi Tri Damayanti, kebahagiaan sejati bukanlah tentang diri sendiri, melainkan tentang bagaimana kita dapat membahagiakan orang lain. Prinsip hidup inilah yang terus menjadi sumber inspirasi dalam setiap langkah pengabdian dan karyanya di dunia pendidikan.

“Saya sangat senang mengajar di kelompok bermain dan taman kanak-kanak. Karena disini banyak kita mendapatkan ilmu dan pelajaran,” ujar Dama. (Chaidir)