“Di Balik ‘Saya Bosan’, Ada Cerita yang Tak Pernah Kita Dengar”

“Barang siapa yang keras kepada dirinya, maka dunia akan lunak. Sebaliknya, barang siapa yang lunak kepada dirinya, maka dunia akan keras.”

Kalimat sederhana itu pernah dilontarkan dalam sebuah sesi ringan bersama siswa. Sekilas hanya permainan kata dengan hadiah sederhana. Namun di baliknya, tersimpan pesan yang dalam tentang proses, pilihan, dan masa depan yang sedang dibangun hari ini. Di situlah psikologi bekerja—tidak selalu dalam ruang konsultasi yang formal, tetapi justru hadir dalam momen-momen sederhana yang mampu menyentuh kesadaran terdalam manusia.

Bagi Drs Sentot Haryanto MSi Psikolog, Wakil Ketua Bidang SDM, Hukum, dan Layanan Psikologi Yayasan Asram (Al Azhar Yogyakarta World Schools), pendidikan sejati tidak cukup hanya mengajar. Ia harus memahami manusia secara utuh—bagaimana mereka berpikir, merasa, dan berperilaku.

Di banyak tempat, pendidikan masih berpusat pada ruang kelas, kurikulum, dan capaian akademik. Namun realitas menunjukkan bahwa anak-anak hari ini tumbuh dalam dinamika yang jauh lebih kompleks. Tekanan akademik, persoalan sosial, hingga pencarian jati diri datang bersamaan. Tidak jarang, semua itu muncul dalam bentuk sederhana, seperti kalimat singkat: “Saya bosan.”

Bagi sebagian orang, itu mungkin keluhan biasa. Namun dalam perspektif psikologi, itu adalah sinyal yang perlu dibaca. Sebab dinamika psikologis manusia sering kali begitu halus—diibaratkan seperti semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di tengah malam yang gelap gulita. Tidak terlihat, tetapi nyata.

Kesadaran itulah yang melatarbelakangi lahirnya layanan psikologi di lingkungan Sekolah Islam Al Azhar Yogyakarta. Perjalanannya tidak instan. Sejak 2018, peran psikologi hadir dalam bentuk pendampingan di lingkungan boarding school. Sifatnya sederhana yakni on-call, hadir ketika dibutuhkan, dan mendengar ketika diperlukan.

Setiap pekan, forum musrif dan musrifah menjadi ruang refleksi bersama. Berbagai persoalan santri dibahas, tidak hanya dari sisi kedisiplinan, tetapi juga dari sudut pandang psikologis. Dari sana mulai terlihat bahwa banyak persoalan bukan sekadar soal aturan, melainkan tentang emosi, adaptasi, dan proses tumbuh kembang.

Divisi Khusus

Memasuki tahun 2022, gagasan itu berkembang lebih jauh. Saat mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Bidang SDM dan Legal, muncul keinginan untuk menjadikan psikologi sebagai bagian yang terstruktur dalam sistem pendidikan. Sebuah divisi khusus layanan psikologi pun diusulkan dan mulai dibangun.

Langkah ini menjadi penting karena selama ini sekolah memang memiliki bimbingan konseling, namun kehadiran psikolog profesional memberikan kedalaman yang berbeda. Dengan pendidikan lanjutan dan lisensi praktik, layanan yang diberikan menjadi lebih akurat, bertanggung jawab, dan berdampak.

Sejak saat itu, layanan psikologi tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga orang tua, guru, hingga karyawan. Program-programnya berkembang, mulai dari tes bakat dan minat, pendampingan penjurusan, hingga konseling untuk berbagai persoalan psikologis dalam keseharian.

Keunggulan utama layanan ini terletak pada posisinya yang internal dan terintegrasi. Psikolog berada dalam satu ekosistem dengan sekolah, sehingga komunikasi dengan wali kelas, guru, dan manajemen dapat berlangsung intensif. Setiap dinamika siswa tidak hanya tercatat, tetapi juga dipahami dalam konteks yang lebih utuh.

Meski demikian, perjalanan ini tidak lepas dari tantangan. Keterbatasan jumlah tenaga psikolog membuat layanan harus berjalan dengan upaya ekstra. Satu orang sering kali harus melayani berbagai kebutuhan sekaligus—dari siswa, orang tua, hingga rekan kerja.

Namun di balik itu, ada kesadaran bahwa di situlah letak nilai dari layanan ini. Psikologi bukan sekadar ilmu, tetapi juga seni. Ada kepekaan, empati, dan sentuhan manusia yang tidak bisa digantikan oleh sistem.

Pendekatan yang digunakan pun tidak selalu formal. Kadang justru hadir dalam bentuk sederhana—permainan, kuis, atau percakapan santai. Dari hal-hal kecil itulah cara berpikir siswa dapat dipahami, apakah mereka cenderung linier atau eksploratif, logis atau kreatif.

“Ketika seorang siswa enggan masuk kelas dan mengatakan dirinya bosan, pendekatan yang digunakan bukanlah menghakimi. Sebaliknya, siswa diajak berdialog, dipahami, dan ditelusuri apa yang sebenarnya terjadi di balik perasaan tersebut. Karena pada akhirnya, setiap anak memiliki cerita, memiliki rasa, dan memiliki cara masing-masing untuk tumbuh,” ujar Pak Sentot, panggilan akrabnya, saat diwawancarai belum lama ini.

Mandor Pawon

Di balik berkembangnya layanan ini, terdapat perjalanan hidup yang juga tidak biasa. Sentot Haryanto, berasal dari desa di Temanggung, dari keluarga besar dengan sebelas bersaudara. Pada masa itu, pendidikan tinggi bukan sesuatu yang umum.

Ia bahkan mengaku pernah menjadi anak yang kurang bersemangat sekolah, terlambat masuk SD, dan sempat mengulang kelas saat SMA. Cita-citanya pun sederhana—menjadi “mandor pawon”. Namun hidup membawanya ke arah yang berbeda. Ia sempat bercita-cita menjadi dokter, tetapi justru diterima di jurusan Psikologi Universitas Gadjah Mada. Pilihan yang awalnya bukan tujuan, namun akhirnya menjadi jalan hidup.

Kariernya berkembang panjang di dunia akademik, mulai dari dosen, sekretaris jurusan, anggota senat, hingga Wakil Dekan dan Direktur Kemahasiswaan. Pengalaman itulah yang membentuk keyakinannya bahwa setiap manusia memiliki jalannya masing-masing dan tidak bisa dipaksakan keluar dari bakat dan minatnya.

Kini, layanan psikologi di Al Azhar Yogyakarta terus berkembang. Didukung program magang mahasiswa dan kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi, layanan ini semakin menguat sebagai bagian penting dalam sistem pendidikan.

Banyak pihak yang datang bahkan merasa terkejut melihat bagaimana layanan psikologi dibangun secara terstruktur dan menyeluruh. Namun pada akhirnya, semua itu bermuara pada satu tujuan yaitu memastikan setiap individu dalam lingkungan pendidikan mendapatkan ruang untuk tumbuh dan dipahami.

Menurutnya, psikologi diibaratkan seperti seorang koki. Bahannya mungkin sama, tetapi hasil akhirnya bisa berbeda, tergantung bagaimana proses dan sentuhannya. “Begitu pula dalam pendidikan. Tanpa sentuhan psikologis yang tepat, proses belajar bisa terasa hambar,” kata Sentot.

Di tengah kompleksitas zaman, layanan psikologi mungkin tidak selalu tampak di permukaan. Ia bekerja dalam diam, membaca tanda-tanda kecil, dan menyentuh hal-hal yang sering terlewatkan. Namun justru di situlah kekuatannya. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mencetak prestasi, tetapi tentang merawat manusia. Dan memastikan bahwa tidak ada satu pun anak yang berjalan sendirian.

Sosok Pak Sentot

Di balik tenangnya pendekatan, hangatnya komunikasi, dan dalamnya cara membaca manusia, ada perjalanan panjang yang membentuk sosok Drs Sentot Haryanto MSi Psikolog yang dikenal sebagai seorang humoris itu..

Ia lahir di Temanggung, 2 Mei 1958, dari lingkungan sederhana yang jauh dari gemerlap dunia akademik. Masa kecilnya dihabiskan dalam kehidupan desa yang penuh kerja keras dan kebersahajaan. Dari situlah ia belajar satu hal penting yakni hidup bukan tentang kemudahan, tetapi tentang ketekunan.

Perjalanannya menuju dunia pendidikan dimulai dari Yogyakarta. Ia menempuh pendidikan di SMP Negeri 5 dan SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta—dua fase yang bukan hanya membentuk kemampuan akademik, tetapi juga menempa mental dan kepribadiannya. Hingga akhirnya, ia melangkah ke Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, tempat yang kemudian menjadi rumah panjang bagi perjalanan intelektual dan pengabdiannya.

Pendidikan tidak berhenti di sana. Ia melanjutkan ke program pascasarjana di kampus yang sama, memperdalam ilmu yang kelak tidak hanya ia ajarkan, tetapi juga ia hidupkan dalam praktik nyata. Kariernya sebagai dosen Fakultas Psikologi UGM bukan sekadar profesi, melainkan jalan pengabdian.

Dari ruang kelas, ia bergerak ke ruang-ruang yang lebih luas. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Dekan III yang membidangi kemahasiswaan, alumni, dan kerja sama. Dari sana, langkahnya meluas ke tingkat universitas sebagai Direktur Kemahasiswaan UGM selama lima tahun—sebuah posisi strategis yang membawanya bersentuhan langsung dengan dinamika ribuan mahasiswa dari berbagai latar belakang.

Tidak berhenti di lingkup kampus, kiprahnya merambah ke tingkat nasional. Ia terlibat dalam berbagai program pengembangan mahasiswa, termasuk dalam tim beasiswa Bidikmisi dan berbagai program di Direktorat Belmawa. Ia juga dipercaya sebagai juri nasional pemilihan mahasiswa berprestasi—sebuah amanah yang menunjukkan pengakuan atas kapasitas dan pengalamannya dalam membaca potensi generasi muda.

Di sisi lain, ia juga dikenal sebagai fasilitator pelatihan yang berpengalaman. Berbagai institusi besar pernah menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya—mulai dari perusahaan seperti PT Arun, PT Badak, Bank BRI, hingga instansi pemerintah di berbagai daerah. Di ruang-ruang pelatihan itu, ia tidak hanya berbicara tentang teori, tetapi menghadirkan pengalaman, refleksi, dan sentuhan kemanusiaan.

Namun yang membuatnya berbeda bukan hanya panjangnya daftar jabatan atau luasnya pengalaman. Ada sisi lain yang justru memperkaya pendekatannya yaitu spiritualitas.

Ia aktif sebagai pemateri dalam berbagai kegiatan pembinaan mental, pengajian, hingga bimbingan haji dan umrah. Ia juga terlibat dalam berbagai Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), menyampaikan pendekatan psikologi dalam konteks spiritual. Baginya, memahami manusia tidak bisa dilepaskan dari dimensi batin dan hubungan dengan Tuhan.

Kiprahnya di masyarakat pun tidak pernah terputus. Dari menjadi ketua RT, takmir masjid, hingga pengurus berbagai organisasi sosial dan keagamaan, ia hadir sebagai bagian dari komunitas—bukan sekadar pengamat, tetapi pelaku.

Di tingkat organisasi, ia aktif di berbagai lembaga seperti KONI DIY, HIMPSI wilayah DIY, hingga pengurus yayasan dan masjid kampus. Semua itu menunjukkan satu hal: pengabdiannya tidak pernah dibatasi oleh satu ruang.

Menariknya, meski memiliki pengalaman luas hingga ke luar negeri—seperti Taiwan, Singapura, Malaysia, Thailand, hingga Tanah Suci—cara pandangnya tetap membumi. Ia tetap melihat manusia dari sisi yang paling sederhana: sebagai individu yang butuh dipahami.

Dalam kehidupan pribadi, ia didampingi oleh sang istri, Ir Endah Nastiti, serta dua anaknya, M Noor Indrawan dan Anissa Ulfa Arayyan. Keluarga menjadi ruang penting yang menjaga keseimbangan antara kesibukan dan nilai-nilai kehidupan yang ia pegang.

Dua Buku

Ia juga menuliskan pemikirannya dalam beberapa karya, seperti Psikologi Sholat dan Air Mata Rasulullah—dua karya yang menunjukkan bagaimana ia memadukan ilmu psikologi dengan nilai-nilai spiritual.

Namun di atas semua pencapaian itu, ada satu hal yang menjadi pegangan hidupnya yakni “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika mereka tidak mengubah diri mereka sendiri. Man jadda wajada.” Sebuah prinsip yang tidak hanya ia ucapkan, tetapi ia jalani.

Dan mungkin, dari seluruh perjalanan panjang itu, kita bisa melihat satu benang merah yang sama—bahwa apa yang hari ini ia bangun dalam layanan psikologi di dunia pendidikan, bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. (Chaidir)