- Empat KSP AYWS akan menjadi presenter APCCSID 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 23–25 Oktober 2026.
- Mereka adalah Agung Widiyantoro, Mudzofir, Iyut Ayudy, dan Fajar Arif Herjayanto yang makalahnya telah melalui proses seleksi.
- Hafidh Asrom berharap pendidikan AYWS berakar pada budaya dan pariwisata DIY sekaligus berkontribusi bagi pendidikan global.
AYWS – Empat Kepala Satuan Pendidikan (KSP) Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) akan membawa gagasan pendidikan dari Yogyakarta ke forum akademik internasional. Mereka terpilih menjadi presenter dalam Asia Pacific Conference on Curriculum Studies and Instructional Designing (APCCSID) 2026 yang berlangsung pada 23–25 Oktober 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Keikutsertaan empat pimpinan sekolah tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan pemikiran dan praktik pendidikan yang dikembangkan AYWS sekaligus bertukar pengalaman dengan akademisi, peneliti, pendidik, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara di kawasan Asia-Pasifik.
Keempat KSP itu diterima Ketua Yayasan Asram/Badan Pengelola Pendidikan (BPPH) Al Azhar Yogyakarta World Schools, Drs HA Hafidh Asrom MM, pada Rabu (21/10/2026), sebelum keberangkatan mereka ke Malaysia.
Mereka adalah Agung Widiyantoro, MPd (KSP SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta), Mudzofir MA (KSP SMA Islam Al Azhar 34 Yogyakarta), Iyut Ayudy MPd (KSP SMP Islam Al Azhar 67 Yogyakarta), serta Fajar Arif Herjayanto MPd (KSP SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta).
Keempatnya akan mempresentasikan makalah yang telah melalui proses seleksi. Menurut Hafidh Asrom, terpilihnya mereka menunjukkan kesempatan bagi para pendidik di lingkungan AYWS untuk menyampaikan gagasan dan berkontribusi dalam percakapan akademik pada tingkat internasional.
“Saya sangat bangga dengan terpilihnya empat KSP ini. Ini sekaligus membuktikan kualitas diri mereka sebagai pendidik dan menunjukkan kualitas sekolah-sekolah yang mereka pimpin,” ujar Hafidh.
Membawa Gagasan Pendidikan Yogyakarta ke Forum Global
APCCSID merupakan konferensi akademik internasional yang diselenggarakan setiap tahun oleh Asia Pacific Research Association on Curriculum Studies, Inc (APRACSI). Forum ini mempertemukan para pendidik, peneliti, pengembang kurikulum, dan pembuat kebijakan untuk bertukar gagasan mengenai arah pendidikan dan pengembangan pembelajaran.
APCCSID 2026 mengangkat tema “Reimagining Curriculum in the Asia-Pacific Region: Educational Priorities for Changing Times”. Tema tersebut menyoroti pentingnya merancang kembali kurikulum agar mampu menjawab perubahan zaman, perkembangan teknologi, serta kebutuhan kompetensi generasi mendatang.
Sejumlah isu yang menjadi perhatian meliputi inovasi kurikulum, desain pembelajaran, pendidikan karakter, pendidikan inklusif, serta pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pendidikan.
Perkembangan AI menghadirkan peluang untuk memperluas akses pengetahuan dan mengembangkan metode pembelajaran. Namun, transformasi tersebut juga menuntut pendidikan tetap memperhatikan etika, integritas, kemampuan berpikir kritis, dan pembentukan karakter peserta didik.
Dalam konteks ini, partisipasi empat KSP AYWS menjadi ruang untuk berbagi pengalaman sekaligus menyerap perspektif dari sistem pendidikan negara lain. Mereka dijadwalkan berinteraksi dengan peserta dari sejumlah negara dan wilayah, antara lain Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Singapura, Hawaii di Amerika Serikat, serta akademisi dari universitas di China.
Kehadiran dalam forum tersebut juga membuka peluang bagi AYWS untuk memperluas jejaring akademik dan mengembangkan wawasan mengenai praktik pendidikan yang relevan dengan tantangan global.
Hadirkan Akademisi Internasional
Konferensi ini menghadirkan sejumlah akademisi internasional yang memiliki pengalaman dalam pengembangan kurikulum dan inovasi pembelajaran. Salah satunya Prof. Murray Print, PhD, yang dikenal melalui kontribusinya dalam pengembangan kurikulum Australia, termasuk pendidikan kewarganegaraan. Selain itu, terdapat Prof. Dato’ Ts. Dr. Norazah Nordin dari Universiti Kebangsaan Malaysia yang memiliki keahlian dalam teknologi pembelajaran, inovasi kurikulum, dan transformasi pendidikan digital.
Dari Indonesia, Prof. Suwarsih Madya, PhD, profesor emerita Universitas Negeri Yogyakarta, tercantum sebagai salah satu pembicara pleno. Kehadiran akademisi Indonesia dalam forum tersebut menjadi bagian dari pertukaran perspektif pendidikan lintas negara.
Sejumlah pembicara lain berasal dari Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, Jepang, Thailand, dan Malaysia. Mereka dijadwalkan mengangkat beragam perspektif mengenai pendidikan karakter, literasi AI, pertukaran pembelajaran digital, serta hubungan antara nilai-nilai kemanusiaan dan teknologi dalam pendidikan.
Pendidikan Berbasis Budaya dan Pariwisata
Dalam pertemuan dengan empat KSP tersebut, Hafidh Asrom menekankan pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang berakar pada potensi lokal, tetapi memiliki orientasi dan kontribusi global.
Ia berharap pengembangan pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta tidak terlepas dari kekayaan budaya dan pariwisata yang menjadi karakter daerah. Potensi tersebut, menurutnya, dapat menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran yang memberi pengalaman bermakna bagi peserta didik.
“Saya ingin menghadirkan ekosistem pendidikan di DIY yang berbasis budaya dan pariwisata, sekaligus mampu memberikan kontribusi bagi pendidikan global,” kata Hafidh.
Ia berharap ekosistem tersebut dapat membantu anak-anak memperoleh pendidikan berkualitas yang membekali mereka menghadapi tantangan globalisasi secara positif.
Gagasan itu menempatkan pendidikan bukan semata-mata sebagai proses transfer pengetahuan di ruang kelas. Pendidikan juga perlu menghubungkan peserta didik dengan lingkungan sosial, kebudayaan, perkembangan ilmu pengetahuan, serta dinamika masyarakat dunia.
Bagi Yogyakarta, kekayaan budaya dan daya tarik pariwisata dapat menjadi sumber pembelajaran yang mempertemukan nilai-nilai lokal dengan wawasan internasional. Dengan demikian, peserta didik diharapkan mampu mengenali identitas dan akar budayanya sekaligus terbuka terhadap perkembangan global.
Memperluas Perspektif Pengembangan Kurikulum
Konferensi APCCSID 2026 juga menyediakan ruang bagi presentasi makalah, diskusi akademik, simposium, dan pertukaran hasil penelitian. Melalui kegiatan tersebut, para peserta dapat membandingkan pendekatan pengembangan kurikulum serta mendiskusikan tantangan pendidikan yang dihadapi masing-masing negara.
Bagi pimpinan satuan pendidikan, forum semacam ini relevan untuk memperluas perspektif dalam mengembangkan pembelajaran, meningkatkan kapasitas guru, dan menyesuaikan program sekolah dengan kebutuhan peserta didik yang terus berubah.
Pengembangan kurikulum masa depan tidak cukup hanya menitikberatkan pada capaian akademik. Kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, memecahkan masalah, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, serta memiliki karakter yang kuat juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan.
Keikutsertaan empat KSP AYWS dalam APCCSID 2026 menjadi bagian dari upaya membawa gagasan pendidikan dari Yogyakarta ke ruang dialog internasional. Pengalaman tersebut diharapkan memperkaya perspektif para pendidik dan membuka kesempatan untuk mengembangkan praktik pembelajaran yang semakin relevan dengan kebutuhan zaman.
Melalui pertemuan akademik lintas negara, pendidikan diharapkan tidak kehilangan pijakan pada nilai dan budaya lokal, sekaligus mampu mengambil bagian dalam menjawab tantangan pendidikan global. (Chaidir)






