Enam Produk Inovasi Siswa SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta Diangkat dalam Forum Internasional APCCSID 2026

  • Kepala Satuan Pendidikan SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta, Fajar Arif Herjayanto, mempresentasikan inovasi kurikulum sekolah dalam APCCSID 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia.
  • Enam karya inovatif siswa mencakup teknologi pendidikan, pemantauan kualitas air, peringatan dini bencana, pemantauan tanaman, dan pengingat obat.
  • Melalui Science Digital Class dan Digital LinguArt Class, sekolah memadukan kompetensi digital, kreativitas, dan karakter Islami untuk mempersiapkan generasi masa depan.

AYWS – Bagaimana jika ruang kelas tidak hanya menjadi tempat siswa menerima pelajaran, tetapi juga laboratorium untuk menciptakan solusi bagi persoalan masyarakat? Gagasan inilah yang dikembangkan SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta melalui inovasi kurikulum berbasis teknologi yang diperkenalkan dalam forum akademik internasional di Kuala Lumpur, Malaysia.

Bukan sekadar memperkenalkan pembelajaran digital, sekolah ini mendokumentasikan enam karya inovatif peserta didik yang mengangkat persoalan pendidikan, lingkungan, kebencanaan, hingga kepedulian terhadap kelompok lanjut usia.

Keenam karya tersebut menjadi bagian dari kajian yang dipresentasikan Kepala Satuan Pendidikan SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta, Fajar Arif Herjayanto MPd, dalam Asia Pacific Conference on Curriculum Studies and Instructional Designing (APCCSID) 2026 di TAR UMT, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 23–25 Oktober 2026.

Dalam forum tersebut, Fajar mempresentasikan paper berjudul “Building Future Competencies through Specialized Digital Classes: Curriculum Innovation in Science and Language Education in SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta.” Presentasi disampaikan pada Sabtu (24/10/2026), dalam Session 2 di Seminar Room 1B.

Kajian ini mengangkat pengalaman sekolah dalam mengembangkan Science Digital Class dan Digital LinguArt Class, dua program unggulan yang dirancang untuk mempertemukan penguasaan ilmu pengetahuan, kecakapan teknologi, kreativitas, komunikasi, dan pembentukan karakter.

“Transformasi digital dalam pendidikan bukan sekadar menghadirkan teknologi ke ruang kelas. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana teknologi menjadi sarana bagi peserta didik untuk berpikir kritis, mengembangkan kreativitas, memecahkan persoalan nyata, dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Pada saat yang sama, mereka harus tetap memiliki karakter yang kuat dan berpegang pada nilai-nilai Islami,” jelas Fajar.

Pernyataan tersebut dapat menjadi penegas arah inovasi kurikulum yang dikembangkan sekolah: teknologi bukan tujuan akhir pendidikan, melainkan alat untuk menumbuhkan kompetensi sekaligus membangun manusia yang utuh.

Dari Ruang Kelas, Lahir Enam Gagasan Inovatif

Enam produk yang didokumentasikan dalam paper tersebut menunjukkan bagaimana pengetahuan yang dipelajari siswa dapat diterjemahkan menjadi gagasan dan karya yang memiliki relevansi dengan kehidupan sehari-hari.

Momolens dikembangkan sebagai media komik digital interaktif untuk pembelajaran bahasa. Smart Indonesia Map memanfaatkan teknologi Radio Frequency Identification (RFID) dan keluaran audio untuk membuat pembelajaran geografi lebih interaktif.

Di bidang lingkungan, Aquacaps dirancang sebagai perangkat pemantauan kualitas air berbasis Internet of Things (IoT), sedangkan Greenvoice merupakan perangkat pemantauan kondisi tanaman dengan keluaran suara.

Sementara itu, Safeslope dikembangkan sebagai sistem peringatan dini terkait risiko longsor dan banjir. MediVoice dirancang sebagai pengingat sekaligus dispenser obat berbasis teknologi untuk membantu keteraturan penggunaan obat, khususnya bagi kelompok lanjut usia.

Keenam inovasi tersebut memiliki fokus yang berbeda, tetapi memperlihatkan benang merah yang sama: siswa didorong untuk melihat persoalan di sekitarnya, memikirkan kemungkinan solusi, kemudian menerapkan pengetahuan dan teknologi untuk mewujudkan gagasan.

Pendekatan ini menggeser pembelajaran dari sekadar memahami konsep menuju pengalaman menciptakan sesuatu. Siswa tidak hanya dituntut mengetahui bagaimana teknologi bekerja, tetapi juga memahami mengapa teknologi diperlukan, persoalan apa yang dapat diselesaikan, dan siapa yang berpotensi memperoleh manfaat.

Dua Kelas Digital, Satu Orientasi Kompetensi Masa Depan

Pengembangan karya-karya tersebut tidak berdiri sendiri. SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta membangun fondasi pembelajarannya melalui dua program yang saling melengkapi.

Science Digital Class melalui Science Improvement Class (SIC) mengintegrasikan sains dan teknologi dengan materi Computational Thinking, STEM, pemrograman, robotika, IoT, Augmented Reality (AR), animasi digital, penulisan karya ilmiah, dan Science Preneurship.

Melalui program ini, siswa memperoleh ruang untuk mengeksplorasi pengetahuan sains sekaligus mengembangkan kemampuan merancang dan menciptakan produk. Pembelajaran diarahkan agar mereka terbiasa menganalisis masalah, menyusun gagasan, menguji pendekatan, dan mengembangkan solusi.

Adapun Digital LinguArt Class melalui LinguArt Improvement Class (LIC) memadukan bahasa, sastra, seni, dan teknologi. Program ini mencakup pembelajaran bahasa Inggris, Mandarin, dan bahasa Jawa, yang diperkaya dengan animasi digital, Computational Thinking, robotika, AR, public speaking, penulisan karya ilmiah, dan LinguArt Preneurship.

Kombinasi tersebut memperlihatkan bahwa kompetensi masa depan tidak hanya dibangun melalui penguasaan sains dan pemrograman. Kemampuan berbahasa, berkomunikasi, berekspresi, berkolaborasi, dan mengembangkan kreativitas juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan.

Hasil pembelajaran kemudian memperoleh ruang aktualisasi melalui Student-Led Conference (SLC), SMART Fair, pameran karya, maupun kompetisi. Dalam berbagai kesempatan tersebut, siswa dapat menunjukkan hasil kerja sekaligus mengomunikasikan gagasan dan proses di balik karya yang mereka kembangkan.

Cakap Teknologi, Tetap Berkarakter Islami

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI), sekolah menghadapi tantangan yang lebih besar daripada sekadar mengajarkan keterampilan digital. Peserta didik juga perlu dibekali kemampuan menilai informasi, mempertimbangkan konsekuensi tindakan, bekerja sama, dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.

SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian integral dari inovasi tersebut. Prinsip ini tercermin dalam kerangka SMART, yang merupakan singkatan dari Science, Mathematics, Art, Religion, dan Technology.

Kelima unsur itu dipadukan untuk membangun pengalaman belajar yang tidak memisahkan ilmu pengetahuan, kreativitas, teknologi, dan nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan tersebut, kecakapan digital diharapkan tumbuh bersama tanggung jawab moral, identitas budaya, dan kepedulian sosial.

“Anak-anak perlu dipersiapkan bukan hanya agar mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga agar bijak dalam menggunakannya. Kami ingin mereka tumbuh sebagai pembelajar yang kritis, kreatif, mampu berkolaborasi, serta memahami bahwa ilmu dan teknologi seharusnya menghadirkan kemanfaatan bagi sesama.”

Orientasi ini sejalan dengan tema APCCSID 2026, “Curriculum for Flourishing: Empowering Individuals to Thrive in This Changing Time.” Tema tersebut menempatkan kurikulum sebagai bagian penting dalam membantu peserta didik berkembang secara utuh di tengah perubahan zaman.

Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran digital tidak semata-mata diukur dari kemampuan mengoperasikan perangkat atau menghasilkan produk. Aspek kemandirian, karakter, hubungan sosial, dan kemampuan memberikan kontribusi positif juga menjadi bagian penting dari tujuan pendidikan.

Praktik Lokal, Relevansi Global

Paper yang dipresentasikan Fajar menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif kualitatif untuk mengkaji desain kurikulum, implementasi pembelajaran, serta pengalaman autentik peserta didik dalam kedua program tersebut.

Analisis dilakukan berdasarkan dokumen kurikulum, observasi pembelajaran, wawancara, serta dokumentasi karya dan kegiatan siswa. Melalui pendekatan ini, kajian memberikan gambaran tentang bagaimana pembelajaran digital yang terstruktur, lintas disiplin, dan berorientasi pada karya nyata dapat mendukung pengembangan kompetensi masa depan.

Sebagai studi kasus pada satu sekolah, hasil kajian tersebut memberikan gambaran kontekstual tentang praktik inovasi kurikulum dan bukan bukti bahwa model yang sama otomatis menghasilkan dampak serupa di seluruh sekolah. Meski demikian, pengalaman ini dapat menjadi bahan refleksi bagi satuan pendidikan yang ingin mengembangkan pembelajaran digital secara lebih terarah dan bermakna.

Partisipasi dalam APCCSID 2026 juga membuka kesempatan untuk memperkenalkan pengalaman pendidikan dari Indonesia kepada komunitas akademik internasional. Pertukaran gagasan mengenai kurikulum, desain pembelajaran, dan pengembangan kompetensi peserta didik diharapkan memperkaya perspektif sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Bagi SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta, langkah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menghadirkan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai Islami.

Pada akhirnya, masa depan pendidikan bukan hanya tentang ruang kelas yang semakin digital, perangkat yang semakin canggih, atau siswa yang semakin mahir menggunakan teknologi. Ukuran yang lebih mendasar adalah kemampuan pendidikan dalam melahirkan generasi yang mampu berpikir kritis, menciptakan solusi, menghargai sesama, menjaga nilai-nilai kebaikan, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Melalui inovasi kurikulum dan enam karya peserta didik yang diangkat dalam forum internasional, SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta menunjukkan arah ikhtiarnya: menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mengembangkan kompetensi, memperkuat karakter, dan mempersiapkan generasi yang mampu memberi makna bagi masa depan. (Chaidir)