- Wali Kota Magelang H Damar Prasetyo menyampaikan falsafah Hasta Brata sebagai pedoman membangun karakter dan kepemimpinan.
- Hamamoto Shouki, utusan Japan Foundation yang mengajar di SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta, berbagi pengalaman dan kesan tentang budaya Indonesia.
- Kajian Sabtu Wage AYWS menjadi ruang inspirasi yang mempertemukan kearifan lokal Jawa, pendidikan, dan pertukaran budaya Indonesia-Jepang.
AYWS — Kepemimpinan tidak selalu berbicara tentang jabatan, kekuasaan, atau kewenangan. Lebih dari itu, kepemimpinan adalah tentang karakter, tanggung jawab, keteladanan, dan kemampuan memberikan manfaat bagi orang lain.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Kajian Sabtu Wage keluarga besar Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) di Masjid Al Hafidh, Kampus 1 AYWS, Sabtu (24/10/2026). Wali Kota Magelang, H Damar Prasetyo, hadir menyampaikan materi tentang falsafah kepemimpinan Jawa, Hasta Brata, yang mengajarkan delapan watak alam sebagai pedoman membangun karakter seorang pemimpin.
Namun, ada pemandangan menarik sebelum kajian dimulai. Damar berkesempatan berdialog dengan Hamamoto Shouki, utusan Japan Foundation yang tengah menjalani praktik mengajar selama enam bulan di SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta.
Percakapan keduanya menghadirkan suasana hangat dan penuh keakraban. Damar melontarkan sejumlah pertanyaan kepada Hamamoto, mulai dari negara asal, kegiatan yang dijalani selama berada di Indonesia, hingga pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sekolah dan keluarga besar AYWS.
Dialog yang berlangsung santai itu mengundang gelak tawa jamaah. Perbedaan latar belakang budaya justru menjadi jembatan untuk saling mengenal, sekaligus memberikan warna tersendiri dalam kegiatan kajian.
Hamamoto pun berbagi pengalamannya selama berada di SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta. Ia mengaku terkesan dengan suasana sekolah yang ceria, semangat para siswa, serta lingkungan pendidikan yang memberinya kesempatan untuk mengenal lebih dekat kehidupan dan budaya Indonesia.
Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah keberadaan masjid di lingkungan sekolah. Menurut Hamamoto, pemandangan semacam itu jarang ditemuinya di Jepang. Baginya, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam memahami karakteristik kehidupan masyarakat Indonesia.
Bukan hanya mengenalkan bahasa Jepang, Hamamoto juga berkesempatan memperkenalkan budaya negaranya. Salah satu pengalaman yang membekas adalah ketika ia mengajak para siswa mencoba kendama, permainan tradisional Jepang. Antusiasme siswa membuat kegiatan tersebut menjadi pengalaman menyenangkan sekaligus sarana pertukaran budaya.
Hamamoto juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada para guru yang telah mendukung kegiatannya. Selama praktik mengajar, ia tidak hanya belajar tentang proses pembelajaran, tetapi juga memahami bagaimana guru membangun hubungan, menghargai siswa, dan menciptakan suasana belajar yang positif.
Baginya, perjumpaan dengan keluarga besar AYWS menjadi kesempatan untuk belajar dari dua budaya yang berbeda. Ia berharap pengalaman selama enam bulan tersebut dapat memperkuat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Jepang.
“Saya ingin menjadi jembatan yang menghubungkan Jepang dan Indonesia,” demikian harapan Hamamoto yang disampaikannya dalam refleksi pengalaman selama berada di sekolah.
Delapan Watak Alam, Delapan Pelajaran Kepemimpinan
Dalam materi utama kajian, Damar mengajak keluarga besar AYWS memahami kepemimpinan melalui falsafah Hasta Brata. Ajaran ini mengambil delapan unsur alam sebagai simbol karakter yang perlu dimiliki seorang pemimpin: bumi, matahari, api, samudra, langit, angin, bulan, dan bintang.
Bumi melambangkan kemampuan mengayomi dan melindungi. Matahari menjadi simbol penerang yang memberikan semangat. Api mencerminkan ketegasan dan keadilan, sedangkan samudra mengajarkan kelapangan hati dalam menerima perbedaan.
Langit melambangkan keluasan wawasan. Angin mengajarkan kepekaan terhadap keadaan sekitar. Bulan menghadirkan simbol ketenangan dan harapan, sementara bintang menjadi penunjuk arah yang melambangkan keteguhan prinsip.
Kedelapan watak tersebut saling melengkapi. Seorang pemimpin tidak cukup hanya tegas, tetapi juga perlu bijaksana, terbuka, peduli, dan konsisten memegang prinsip yang benar.
Damar juga menekankan bahwa kepemimpinan bukan monopoli mereka yang menduduki jabatan formal. Setiap orang memiliki kesempatan untuk memimpin melalui peran dan tanggung jawab masing-masing.
Di lingkungan sekolah, misalnya, kepemimpinan dapat ditunjukkan oleh guru ketika mendidik siswa, petugas keamanan saat menjaga lingkungan, tenaga kebersihan ketika merawat fasilitas, hingga pengemudi dan petugas katering dalam menjalankan tugasnya.
Semua memiliki kontribusi penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang nyaman, tertib, dan mendukung proses belajar. Karena itu, kepemimpinan sejatinya dimulai dari diri sendiri. Nilai-nilai positif perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, kebiasaan baik, dan kesediaan mengevaluasi diri secara berkelanjutan. (Chaidir)






