Bukan Kunjungan Biasa, Murid Berprestasi SD Islam Al Azhar 31 dan 77 Yogyakarta Sowan ke Pura Pakualaman

  • Kunjungan istimewa: Sebanyak 65 murid SD Islam Al Azhar 31 dan 77 Yogyakarta mengikuti Sowan Wonten Puro Pakualaman pada Sabtu (10/10/2026), untuk mengenal sejarah dan budaya secara langsung di lingkungan Pura Pakualaman yang memiliki akses terbatas.
  • Apresiasi prestasi: Peserta dipilih berdasarkan nilai Bahasa Jawa tertinggi di kelas masing-masing dan menerima golden ticket berornamen wayang sebagai undangan sekaligus kenang-kenangan.
  • Belajar warisan budaya: Murid menjelajahi bangunan bersejarah, melihat kitab beraksara Jawa di perpustakaan, menyaksikan jemparingan, serta mengikuti penyerahan plakat dari Serenande Prabunegoro kepada GPH Wijoyo Harimurti.

AYWS — Sebuah undangan istimewa menjadi awal dari pengalaman yang tak mudah dilupakan. Bukan sekadar perjalanan belajar di luar kelas, 65 murid terpilih dari SD Islam Al Azhar 31 dan 77 Yogyakarta mendapat kesempatan mengunjungi Pura Pakualaman, Yogyakarta, pada Sabtu (10/10/2026), melalui kegiatan bertajuk Sowan Wonten Puro Pakualaman.

Kegiatan yang diinisiasi Jamiyyah AYWS, Serenande Prabunegoro, ini menghadirkan pengalaman berbeda bagi para murid. Mereka tidak hanya belajar mengenai kebudayaan Yogyakarta dari cerita dan buku pelajaran, tetapi berkesempatan menyaksikan langsung lingkungan Pura Pakualaman, mengenal bangunan bersejarah, serta melihat sejumlah ruang yang menyimpan jejak perjalanan budaya dan tradisi.

Penyerahan plakat dari Serenande Prabunegoro selaku inisiator kegiatan kepada GPH Wijoyo Harimurti

Kesempatan tersebut terasa istimewa karena bagian dalam Pura Pakualaman tidak terbuka untuk kunjungan umum seperti destinasi wisata sejarah pada umumnya. Akses yang terbatas menjadikan kegiatan ini bukan sekadar kunjungan edukatif, melainkan pengalaman langka yang dirancang untuk menumbuhkan kedekatan generasi muda dengan budaya tempat mereka tumbuh.

Berawal dari Kegelisahan Sederhana

Gagasan Sowan Wonten Puro Pakualaman berangkat dari percakapan sederhana di antara para wali murid. Di tengah kehidupan yang semakin dinamis, muncul kesadaran bahwa tidak semua keluarga merasa dekat atau benar-benar memahami kebudayaan Yogyakarta, meskipun tinggal dan membesarkan anak-anak di kota tersebut. Dari obrolan itulah muncul keinginan untuk menghadirkan pengalaman belajar budaya yang lebih nyata bagi para murid.

Sebagai inisiator kegiatan, Serenande Prabunegoro ingin memberikan sesuatu yang berbeda selama masa baktinya di Jamiyyah. Setelah berbagai kegiatan budaya pada tahun-tahun sebelumnya, ia tergerak untuk membuka kesempatan bagi anak-anak mengenal Pura Pakualaman secara langsung.

Inspirasi itu juga berangkat dari kegiatan pengenalan budaya Pakualaman yang pernah ia inisiasi di sekolah. Kesempatan kemudian terbuka setelah ia bertemu dengan Gusti Wijoyo Harimurti dalam acara Jumeneng nDalem SISKS PB IV di Solo. Dari pertemuan tersebut, ia memperoleh izin untuk membawa murid-murid berkunjung dan melihat langsung lingkungan kediaman KGPAA Paku Alam, yang juga menjabat Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bagi Serenande, kunjungan ini memiliki nilai tersendiri. Keraton Yogyakarta telah memiliki akses kunjungan bagi masyarakat umum, sementara kesempatan memasuki lingkungan Pura Pakualaman lebih terbatas. Sekolah pun telah mempunyai program kunjungan ke Keraton Yogyakarta, termasuk pengalaman yang pernah ia inisiasi pada 2024 dengan membawa 30 murid kelas IV, V, dan VI mengikuti program anak-anak di Museum Wahanarata milik Keraton.

Karena itu, Sowan Wonten Puro Pakualaman dirancang untuk melengkapi pengalaman tersebut sekaligus menghadirkan kesempatan yang berbeda.

Golden Ticket untuk Anak-Anak Berprestasi

Ada hal menarik yang membuat kegiatan ini terasa lebih personal sejak sebelum hari pelaksanaan yakni tidak semua murid berangkat, melainkan mereka yang terpilih berdasarkan prestasi akademik, khususnya nilai Bahasa Jawa.

Awalnya, Serenande mengusulkan mekanisme kuis untuk menentukan murid yang berhak mengikuti kunjungan karena keterbatasan kuota. Namun, setelah berdiskusi dengan koordinator sekolah, penentuan peserta menggunakan hasil Asesmen Sumatif Tengah Semester (ASTS) yang baru saja dilaksanakan.

Murid dengan nilai Bahasa Jawa tertinggi di setiap kelas kemudian dipilih sebagai wakil. Kesempatan itu disampaikan secara khusus di hadapan murid-murid lainnya, sehingga para peserta dapat merasakan bahwa undangan yang mereka terima merupakan bentuk apresiasi atas kesungguhan mereka dalam belajar.

Tak berhenti di situ, panitia menyiapkan golden ticket sebagai undangan sekaligus kenang-kenangan bagi murid terpilih. Tiket tersebut dirancang menggunakan tulisan berbahasa Jawa dan ornamen wayang, sehingga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan literasi bahasa dan simbol budaya Jawa dengan cara yang dekat dengan dunia anak-anak.

Bagi para murid, undangan itu bukan sekadar tiket masuk. Ia menjadi simbol kebanggaan, penghargaan atas usaha belajar, sekaligus penanda bahwa prestasi dapat membuka pintu menuju pengalaman baru.

Antusiasme keluarga pun terasa bahkan sebelum hari kunjungan. Sejumlah wali murid menceritakan bahwa anak-anak mereka begitu gembira ketika mengetahui terpilih sebagai peserta. Ada yang mencoba mengenakan busana sesuai ketentuan undangan pada malam sebelumnya karena tak sabar menunggu pagi. Ada pula yang berusaha mengatur kembali jadwal les dan lomba agar tidak kehilangan kesempatan langka tersebut.

Menyusuri Jejak Sejarah di Balik Dinding Pura

Pada hari pelaksanaan, antusiasme itu terlihat nyata. Sejumlah murid bersama orang tua sudah tiba di depan gerbang sejak pukul 07.50 WIB. Sebelum pukul 08.15 WIB, semakin banyak peserta dan keluarga berdatangan, bersiap mengikuti pengalaman yang telah mereka nantikan.

Untuk menjaga kenyamanan dan kelancaran kegiatan, kunjungan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama berlangsung pukul 08.30–09.30 WIB untuk murid kelas II dan III, sedangkan sesi kedua berlangsung pukul 09.30–11.00 WIB untuk murid kelas IV dan V. Sebanyak 10 guru turut berpartisipasi mendampingi kegiatan.

Setibanya di lokasi, para murid terlebih dahulu mengabadikan momen di halaman istana. Foto tersebut menjadi kenang-kenangan dari sebuah kesempatan yang tidak setiap hari mereka dapatkan.

Selanjutnya, rombongan berkumpul di Ruang Danawara Barat untuk menerima penjelasan awal sebelum memulai perjalanan menyusuri lingkungan Pura Pakualaman.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Sowan Wonten Puro Pakualaman, dilakukan pula penyerahan plakat dari Serenande Prabunegoro selaku inisiator kegiatan kepada GPH Wijoyo Harimurti. Penyerahan plakat tersebut menjadi simbol apresiasi dan ungkapan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada murid-murid SD Islam Al Azhar 31 dan 77 Yogyakarta untuk mengenal lebih dekat sejarah, tradisi, dan warisan budaya Pura Pakualaman.

Perjalanan berlanjut ke ruang penyimpanan kereta, kemudian melihat bangunan Purwaretna dan mengunjungi Bangsal Utama serta Bangsal Sewatama. Di salah satu titik kunjungan, para peserta mengabadikan kebersamaan melalui foto grup.

Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju kediaman KGPAA Paku Alam dan Perpustakaan Pakualaman. Di perpustakaan inilah para murid mendapat kesempatan mengenal sisi lain warisan budaya yaitu kitab-kitab yang masih menggunakan aksara Jawa.

Dari penjelasan yang diberikan, anak-anak diperkenalkan pada kekayaan naskah yang tersimpan di Pura Pakualaman, sekaligus keterkaitannya dengan inspirasi penciptaan kain khusus Pura Pakualaman oleh permaisuri Paku Alam X.

Pengalaman tersebut membuka ruang belajar yang lebih luas. Aksara Jawa tidak lagi sekadar materi pelajaran di kelas, tetapi hadir sebagai bagian dari warisan pengetahuan yang masih memiliki jejak dan makna hingga sekarang.

Kunjungan ditutup dengan menyaksikan aktivitas jemparingan, tradisi memanah yang berlangsung di lapangan samping Pura Pakualaman. Anak-anak pun memperoleh gambaran langsung bahwa kebudayaan bukan hanya sesuatu yang disimpan dan dikenang, melainkan juga tradisi yang terus dijalankan.

Ketika Pengalaman Budaya Menjadi Sumber Kebanggaan

Bagi penyelenggara, keberhasilan kegiatan ini tidak hanya terlihat dari kelancaran acara, tetapi juga dari respons anak-anak dan keluarga mereka.

Serenande mengungkapkan bahwa sejumlah wali murid menyampaikan betapa bahagianya anak-anak ketika bercerita di rumah mengenai undangan khusus yang mereka terima berkat nilai Bahasa Jawa tertinggi di kelas. Sebagian keluarga bahkan mengirimkan foto anak-anak yang telah mencoba busana Ageman Gagrak Ngayogyakarta sesuai ketentuan kegiatan.

Antusiasme tersebut sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi panitia. Sambutan keluarga yang begitu besar sempat membuat tim kewalahan dalam persiapan, terutama karena tingginya minat yang sebelumnya tidak sepenuhnya diperkirakan. Pertanyaan mengenai kesesuaian busana pun masih berdatangan hingga malam sebelum acara.

Di sisi lain, muncul pula cerita tentang anak-anak yang merasa kecewa karena belum terpilih. Respons ini menunjukkan betapa besar arti kesempatan tersebut bagi para murid dan keluarga mereka.

Bagi penyelenggara, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa pendekatan pendidikan yang menggabungkan prestasi, apresiasi, dan pengalaman langsung dapat menghadirkan motivasi yang kuat. Anak-anak tidak hanya diajak mengenal budaya, tetapi juga diberi ruang untuk merasa bangga terhadap usaha belajar yang telah mereka lakukan.

Merawat Budaya, Mendekatkan Generasi Muda

Melalui Sowan Wonten Puro Pakualaman, Jamiyyah SD Islam Al Azhar 31 dan 77 Yogyakarta berupaya menghadirkan pembelajaran budaya yang lebih dekat dengan kehidupan murid. Sebanyak 65 peserta memperoleh kesempatan untuk melihat langsung lingkungan bersejarah, mengenal tradisi, serta memahami bahwa kebudayaan Yogyakarta merupakan bagian dari lingkungan yang mereka tinggali.

Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya dapat dimulai melalui langkah sederhana: mengenalkan, mengajak melihat, memberi kesempatan bertanya, dan menumbuhkan rasa memiliki sejak usia dini.

Di balik kunjungan yang berlangsung singkat, tersimpan pengalaman yang lebih panjang maknanya. Sebuah golden ticket telah membawa anak-anak menuju ruang bersejarah; prestasi Bahasa Jawa menjadi pintu pembuka; dan perjumpaan langsung dengan warisan budaya menjadi pengalaman yang diharapkan terus mereka kenang.

Penyelenggara turut menyampaikan terima kasih kepada Roti Aseli atas dukungan sponsorship konsumsi bagi seluruh peserta. Sebab, mengenal budaya tidak cukup hanya dengan mendengar namanya. Terkadang, anak-anak perlu diberi kesempatan untuk datang, melihat, merasakan, dan mengalami sendiri. Dari sanalah kedekatan dengan warisan budaya dapat tumbuh, dan rasa bangga terhadap tanah tempat mereka berpijak menemukan maknanya. (Chaidir)