- Momentum bersejarah: Untuk pertama kalinya, empat kampus AYWS menggelar manasik haji gabungan di Manasik Park Asram Edupark pada 10 Oktober 2026.
- Pembelajaran religius: Sebanyak 161 murid dalam delapan kloter mengikuti rangkaian simulasi ibadah haji dengan bimbingan Ustaz H. Muhammad Shodiqin, S.Ag., dan para guru.
- Kebersamaan dan keharuan: Kegiatan ini menyatukan orang tua dari empat kampus dalam satu pertemuan, menghadirkan rasa kagum, haru, dan kebanggaan terhadap pengalaman belajar anak-anak.
AYWS — Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) menyelenggarakan kegiatan manasik haji gabungan pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Kegiatan istimewa ini diikuti oleh peserta didik dari TK Islam Al Azhar 31 Yogyakarta, TK Islam Al Azhar 38 Bantul, TK Islam Al Azhar 55 Wonosari, dan Al Azhar 60 Early Years Programme (TK Islam Al Azhar 60 Yogyakarta).
Bertempat di Manasik Park Asram Edupark, Sleman, kegiatan ini untuk pertama kalinya menyatukan peserta didik dari empat kampus AYWS dalam satu penyelenggaraan manasik haji spektakuler.
Bukan sekadar kegiatan pembelajaran ibadah, momentum ini menjelma menjadi pengalaman religius yang mengesankan, mempererat kebersamaan, serta menghadirkan rasa kagum dan haru di hati para orang tua yang menyaksikan secara langsung putra-putri mereka mengikuti rangkaian simulasi ibadah haji.
Namun, daya tarik kegiatan ini tidak hanya terletak pada rangkaian ritual yang diperagakan. Di bawah tenda khusus yang disediakan bagi para orang tua, suasana haru dan kekaguman terasa ketika mereka menyaksikan putra-putri tercinta mengikuti setiap tahapan manasik. Pemandangan anak-anak yang melantunkan kalimat-kalimat zikir, talbiah, tasbih, tahmid, dan tahlil bergerak mengikuti tuntunan ibadah, dan belajar menjalankan ritual haji menghadirkan kebanggaan tersendiri bagi keluarga.
Keistimewaan kegiatan ini juga mendapat perhatian dari Kepala Satuan Pendidikan Al Azhar 60 Early Years Programme, Tri Damayanti SPsi. Ia menyampaikan bahwa pelaksanaan manasik haji gabungan yang untuk pertama kalinya diselenggarakan oleh empat kampus AYWS merupakan kegiatan yang luar biasa. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya memberikan pengalaman belajar ibadah bagi anak-anak, tetapi juga membuka ruang kebersamaan bagi para orang tua dari empat kampus dalam satu pertemuan, sesuatu yang selama ini belum pernah terjadi.
Momentum Istimewa
Momentum tersebut menjadi nilai tambah yang istimewa. Para orang tua yang selama ini berada dalam lingkungan kampus masing-masing kini dapat berkumpul, menyaksikan putra-putri mereka mengikuti kegiatan yang sama, serta berbagi kebahagiaan dan kebanggaan sebagai bagian dari keluarga besar AYWS. Dengan demikian, manasik haji gabungan ini tidak hanya menyatukan peserta didik dalam pengalaman religius, tetapi juga mempererat hubungan antarkeluarga lintas kampus.
Momen tersebut menjadi lebih dari sekadar kegiatan sekolah. Para orang tua hadir bukan hanya sebagai penonton, melainkan sebagai saksi perjalanan belajar anak-anak mereka dalam mengenal ibadah sejak dini. Ada kebahagiaan, rasa syukur, kebanggaan, dan harapan yang berpadu ketika melihat langkah-langkah kecil itu mengikuti jejak sebuah perjalanan ibadah yang begitu agung dalam Islam.
Sebanyak 161 murid yang terbagi dalam delapan kloter mengikuti rangkaian manasik dengan pembimbing utama Ustaz H Muhammad Shodiqin SAg, didampingi para guru pembimbing. Sejak awal kegiatan, suasana religius terasa kuat, menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda bagi anak-anak usia dini dalam mengenal dan mempraktikkan tahapan ibadah haji.
Lantunan talbiah, tasbih, Tahmid, dan tahlil yang dikumandangkan para murid menambah kekhidmatan suasana. Dengan bimbingan para pembimbing, setiap kloter mengikuti tahapan manasik secara berurutan, mulai dari melafalkan niat, shalat di Arafah, tawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i dari Safa ke Marwah, mengambil batu kerikil di Muzdalifah, melaksanakan simulasi lempar jumrah di Mina, tahalul, hingga minum air zamzam.
Cium Tangan Orangtua
Setiap tahapan menjadi bagian dari proses pembelajaran yang memperkenalkan anak-anak pada perjalanan ibadah haji. Di usia mereka yang masih belia, pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan terhadap ibadah, mengenalkan nilai-nilai keislaman, serta menanamkan kesan mendalam yang kelak menjadi bagian dari perjalanan spiritual mereka.
Namun, daya tarik kegiatan ini tidak hanya terletak pada rangkaian ritual yang diperagakan. Di bawah tenda khusus yang disediakan bagi para orang tua, suasana haru dan kekaguman terasa ketika mereka menyaksikan putra-putri tercinta mengikuti setiap tahapan manasik. Pemandangan anak-anak yang melantunkan kalimat-kalimat zikir, bergerak mengikuti tuntunan ibadah, dan belajar menjalankan ritual haji menghadirkan kebanggaan tersendiri bagi keluarga.
Momen tersebut menjadi lebih dari sekadar kegiatan sekolah. Para orang tua hadir bukan hanya sebagai penonton, melainkan sebagai saksi perjalanan belajar anak-anak mereka dalam mengenal ibadah sejak dini. Ada kebahagiaan, rasa syukur, kebanggaan, dan harapan yang berpadu ketika melihat langkah-langkah kecil itu mengikuti jejak sebuah perjalanan ibadah yang begitu agung dalam Islam.
Setelah seluruh rangkaian manasik selesai, para murid menyalami orang tua yang telah menunggu di barisan depan. Momen sederhana itu menghadirkan sentuhan emosional tersendiri, menjadi penutup yang hangat setelah anak-anak menyelesaikan pengalaman belajar religius mereka. Selanjutnya, para murid beristirahat sambil menikmati makanan yang telah disediakan.
Lebih dari Sekadar Manasik, Sebuah Momentum Bersejarah
Pelaksanaan Manasik Haji yang untuk pertama kalinya menyatukan empat kampus AYWS ini menjadi simbol kebersamaan dalam membangun pendidikan Islam sejak usia dini. Perbedaan lokasi kampus melebur dalam satu ruang pembelajaran, satu tujuan, dan satu pengalaman yang dibagikan oleh anak-anak, guru, serta orang tua.
Di sinilah sebutan “Manasik Haji Spektakuler AYWS” menemukan maknanya. Spektakuler bukan semata-mata karena kegiatan ini melibatkan 161 murid dalam delapan kloter, tetapi juga karena kemampuannya menyatukan empat kampus dalam satu momentum bersejarah, menghadirkan suasana religius yang kuat, dan menyentuh perasaan para orang tua yang menyaksikannya secara langsung.
Kegiatan ini memperlihatkan bahwa pendidikan anak usia dini tidak hanya berfokus pada pengetahuan di ruang kelas. Melalui pengalaman nyata, pendampingan guru, dan keterlibatan keluarga, nilai-nilai agama dapat diperkenalkan dengan cara yang lebih dekat, menyenangkan, dan membekas dalam ingatan.
Manasik Haji Spektakuler AYWS pun menjadi pengingat bahwa di balik langkah-langkah kecil para murid, terdapat harapan besar yang sedang ditumbuhkan: generasi yang mengenal agamanya, mencintai ibadahnya, dan tumbuh dengan nilai-nilai kebaikan.
Empat kampus bersatu, 161 murid belajar, dan para orang tua menjadi saksi. Sebuah pengalaman yang bukan hanya terlihat istimewa, tetapi juga menyimpan makna dan kenangan mendalam bagi keluarga besar AYWS. (Chaidir)






