Dalang Cilik Berdakwah, Maulid Nabi Mengalir Lewat Wayang dan Tembang Jawa

* Dakwah kreatif: Sakha menyampaikan kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW melalui wayang, monolog, storytelling, dan tembang Jawa.

* Kisah pasukan bergajah: Cerita dikemas untuk mengajak siswa memahami peristiwa menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW.

* Seni sebagai media dakwah: Wayang dan budaya Jawa menjadi sarana menyampaikan nilai keislaman secara komunikatif dan dekat dengan generasi muda.

AYWS  — Dalang Cilik Sakha Sampaikan Pesan Maulid Nabi Lewat Wayang dan Tembang Jawa

BANTUL — Dakwah tidak selalu disampaikan melalui ceramah. Pesan keagamaan juga dapat dikemas melalui seni dan budaya agar lebih dekat dengan generasi muda. Hal tersebut terlihat dalam pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW di SMP Islam Al Azhar 66 Bantul, Kamis (27/8/2026), ketika dalang cilik Yogyakarta, Kanajalu Rahagi Sakha, menyampaikan kisah keteladanan Nabi melalui wayang dan tembang Jawa.

Sakha merupakan dalang cilik Yogyakarta sekaligus pemenang lomba dalang wayang golek menak kategori anak. Dalam penampilannya, ia memadukan story telling, wayang, monolog, dan tembang-tembang Jawa yang kontekstual dengan pesan dakwah. Cara tersebut membuat penyampaian kisah berlangsung dinamis dan mampu menarik perhatian para murid yang menjadi audiens.

Dalam pertunjukan tersebut, Sakha membawakan satu kisah yang mengangkat rangkaian peristiwa pasukan bergajah dan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kisah dibuka dengan tembang macapat Pocung, “Ilmu iku kelakone kanthi laku”. Di tengah cerita, ia kembali menyisipkan tembang macapat Pocung sebagai bagian dari alur pertunjukan.

Perpaduan keterampilan monolog dengan tembang-tembang Jawa yang dikreasikan secara kontekstual membuat pertunjukan tidak terasa seperti penyampaian pesan keagamaan yang monoton. Wayang menjadi media visual, sedangkan tembang dan monolog membantu membangun suasana cerita sekaligus menyampaikan pesan yang ingin ditanamkan kepada murid.

Melalui kisah pasukan bergajah, Sakha mengajak para murid melihat peristiwa tersebut tidak hanya sebagai kisah tentang perlindungan Ka’bah. Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa musnahnya pasukan bergajah merupakan pertanda agung akan hadirnya sang pembawa kedamaian dan rahmat bagi seluruh alam semesta, yakni Nabi Muhammad SAW.

Pertunjukan Sakha memperlihatkan bahwa seni dan budaya dapat menjadi ruang dakwah yang komunikatif. Wayang dan tembang Jawa tidak berhenti sebagai hiburan, tetapi dapat digunakan untuk menyampaikan nilai keagamaan dengan cara yang kreatif, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan generasi muda.

Penampilan tersebut menjadi bagian dari pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW yang mengangkat tema “Mengenang Kelahiran Sang Teladan, Menumbuhkan Cinta dan Keteladanan”. Kegiatan yang berlangsung pukul 07.00–11.00 WIB itu diikuti seluruh murid kelas 7, 8, dan 9 bersama guru serta karyawan SMP Islam Al Azhar 66 Bantul.

Pertunjukan tersebut sekaligus menjadi contoh bahwa pesan dakwah dapat disampaikan melalui pendekatan yang beragam. Ketika seni tradisi dipadukan dengan nilai keislaman dan dikemas secara kreatif, pesan yang disampaikan dapat menjadi pengalaman yang lebih hidup bagi generasi muda. (Argo)