Dosen BINUS University : Cross Check dan Verifikasi Penting dalam Menggunakan AI

SLEMAN — Kemajuan Artificial Intelligence (AI) yang berkembang sangat cepat mulai mengubah cara manusia belajar, bekerja, hingga mencari informasi. Di dunia pendidikan, teknologi ini bahkan mampu membuat tulisan, merangkum materi, menyusun ide, hingga menjawab berbagai pertanyaan hanya dalam hitungan detik.

Namun di balik kemudahan tersebut, dunia pendidikan diingatkan agar tidak terlena oleh kenyamanan teknologi hingga kehilangan kemampuan berpikir kritis.

Pesan itu mengemuka dalam Literacy Workshop bertajuk “Kompas Etis untuk Menjaga Integritas Akademik dan Kreativitas di Lingkungan Pendidikan” yang digelar SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta di Auditorium Al Hafidh, Kampus 1 Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) Monjali Sleman, Selasa (19/5/2026).

Narasumber dari Universitas Bina Nusantara, Nur Sitha Afrilia SS MS, mengingatkan bahwa AI memang membawa banyak manfaat dalam dunia pendidikan, tetapi penggunaannya harus dibarengi dengan kesadaran etis, kemampuan literasi, serta daya kritis yang kuat.

Dalam presentasi tertulisnya, ia menyampaikan saat ini masyarakat hidup di era ketika informasi bergerak sangat cepat. Segala sesuatu tampak mudah didapatkan. Dalam beberapa detik, AI mampu menghasilkan tulisan yang terlihat rapi, sistematis, dan meyakinkan. Tetapi justru di situlah letak tantangan terbesarnya.

“Apakah manusia masih menjadi pengendali teknologi, atau justru mulai dikendalikan oleh teknologi?” ujar Nur Sitha membuka sesi workshop di hadapan para siswa dan guru.

Ia menjelaskan, AI memang dapat menjadi alat bantu yang sangat luar biasa untuk mendukung proses pembelajaran. Teknologi tersebut mampu membantu mencari ide, membuat kerangka tulisan, mengolah data, hingga mempercepat pekerjaan akademik.

Namun ketika manusia mulai menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin, maka AI perlahan berubah dari mitra eksploratif menjadi pelumpuh kognitif. Kalau semua diserahkan kepada AI, manusia lama-lama hanya menjadi pengguna jawaban instan. Padahal pendidikan tidak boleh kehilangan proses berpikir.

Menurutnya, fenomena tersebut mulai terlihat di kalangan pelajar maupun masyarakat digital saat ini. Banyak orang mulai terbiasa menerima hasil akhir tanpa memahami bagaimana proses informasi itu terbentuk.

Akibatnya kemampuan menyimpan informasi, melakukan penalaran analitis, dan memahami konteks secara mendalam perlahan menurun. Manusia akhirnya hanya memahami output, tetapi tidak memahami proses di balik output tersebut.

Nur Sitha menilai kondisi ini menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan modern. Sebab pendidikan sejatinya bukan hanya menghasilkan siswa yang cepat menjawab soal, tetapi juga mampu memahami alasan, logika, dan proses berpikir di balik jawabannya.

Ia juga mengingatkan bahwa AI bukan sumber kebenaran mutlak. Meski terlihat canggih, teknologi AI tetap memiliki berbagai kelemahan seperti bias data, informasi kadaluarsa, hingga fenomena halusinasi AI.

Halusinasi AI, lanjutnya, merupakan kondisi ketika sistem menghasilkan informasi yang terdengar sangat meyakinkan, tetapi sebenarnya keliru atau tidak sesuai fakta. Karena itu, kemampuan melakukan cross check, klarifikasi, dan verifikasi menjadi sangat penting dalam penggunaan AI.

“Jangan langsung percaya pada semua hasil AI. Cross check itu penting. Klarifikasi itu penting. Verifikasi itu wajib,” tegasnya.

Menurut Nur Sitha, pengguna AI harus tetap membandingkan informasi dengan sumber lain yang valid dan kredibel. Kemampuan memeriksa ulang data menjadi bagian penting dari literasi digital di era modern.

“AI bisa membantu mencari informasi dengan cepat. Tetapi manusia tetap harus memutuskan apakah informasi itu benar atau tidak,” katanya.

Ia menambahkan, literasi saat ini tidak lagi hanya sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi modern adalah kemampuan memahami, mengevaluasi, serta menggunakan informasi secara kritis dan bijaksana.

Dalam workshop tersebut, Nur Sitha juga menyoroti munculnya bentuk baru plagiarisme di era AI. Jika dahulu plagiarisme identik dengan copy-paste tulisan orang lain, kini bentuknya berkembang jauh lebih kompleks.

Mulai dari menyalin hasil generatif AI tanpa verifikasi, meminta AI memparafrase berbagai sumber tanpa mencantumkan rujukan, hingga menyusun ulang tulisan tanpa sitasi yang jelas.

“Secara teknis mungkin tampak berbeda, tetapi secara etika integritas akademik tetap dipertanyakan,” ungkapnya.

Menurutnya, penggunaan AI tanpa proses berpikir dan verifikasi justru dapat mematikan kreativitas siswa. Pendidikan akhirnya berisiko melahirkan generasi yang hanya terbiasa mencari jawaban instan tanpa kemampuan analisis yang kuat.

Padahal di masa depan, kemampuan yang paling dibutuhkan bukan sekadar menghafal informasi, melainkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, empati, serta integritas. Pendidikan jangan sampai menghasilkan generasi yang cepat membuat jawaban, tetapi tidak memahami alasan di balik jawabannya.

Nur Sitha juga menegaskan bahwa manusia tetap memiliki keunggulan yang tidak bisa sepenuhnya digantikan mesin. Tulisan manusia, menurutnya, memiliki pengalaman hidup, emosi, intuisi, dan perspektif personal yang tidak dimiliki AI.

“AI bisa membantu menyusun kata, tetapi pengalaman hidup tetap milik manusia,” katanya.

Karena itu ia mengajak para pelajar untuk menggunakan AI secara sehat dan bijak. AI sebaiknya diposisikan sebagai co-pilot atau pendamping dalam belajar, bukan autopilot yang mengambil alih seluruh kemampuan berpikir manusia.

“Gunakan AI untuk memperkuat kreativitas, bukan menggantikannya. Gunakan AI untuk membantu belajar, bukan untuk menghindari proses belajar,” tegasnya.

Workshop literasi tersebut berlangsung interaktif dan mendapat antusias tinggi dari peserta. Para siswa terlihat aktif berdiskusi mengenai etika penggunaan AI. (Chaidir)