SLEMAN – Idul Adha mengajarkan kepada kita bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa besar yang mampu kita ikhlaskan.
Pesan mendalam itu disampaikan oleh Ustadz H. Much Iqbal Ghozali, M.H.I. dalam khutbah Idul Adha di Masjid Al Hafidh, Kampus 1 Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), Rabu (27/5/2026).
Dalam khutbahnya, ia menegaskan bahwa di tengah dunia yang penuh persaingan, manusia kerap lupa bahwa kebahagiaan sejati bukanlah menumpuk harta, melainkan berbagi manfaat. Banyak rumah tampak megah, tetapi sepi kasih sayang. Banyak orang terlihat berhasil, namun jiwanya gelisah. Karena itu, Idul Adha hadir untuk menyembuhkan hati manusia yang lelah oleh dunia.
āShalat menghubungkan manusia dengan Allah, sedangkan kurban menghubungkan manusia dengan sesama. Islam bukan hanya agama ibadah langit, tetapi juga menguatkan bumi dan kemanusiaan,ā ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa makna kurban tidak berhenti pada penyembelihan hewan semata, tetapi juga penyembelihan ego, kesombongan, dan kerakusan dalam diri manusia.
Mengutip teladan Rasulullah Shallallahu āAlaihi Wasallam, ia menyampaikan bahwa Idul Adha adalah momentum memperkuat ukhuwah. Rasulullah tidak hanya memerintahkan penyembelihan kurban, tetapi juga memastikan kaum miskin, anak yatim, dan tetangga tidak ada yang kelaparan.
Dalam konteks kekinian, ia menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, mulai dari kesulitan ekonomi, meningkatnya kebutuhan hidup, hingga lunturnya kepedulian sosial. Menurutnya, kurban mengajarkan distribusi kepedulian dan pemerataan kasih sayang.
āKetika seseorang berkurban, ia sedang berkata kepada masyarakat: āAku tidak ingin kenyang sendiri,āā tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kurban bukan tentang mahalnya hewan, tetapi ketulusan niat. Karena Allah tidak melihat rupa dan harta, melainkan hati manusia.
Lebih jauh, ia mengajak agar semangat kurban tidak berhenti pada ritual tahunan, tetapi menjadi nilai dalam kehidupan berbangsa. Pemimpin harus berkurban untuk rakyat dengan kejujuran, pejabat meninggalkan korupsi, orang tua berkorban untuk keluarga, dan pemuda meninggalkan kemalasan demi masa depan.
āJika semangat kurban hidup, maka akan lahir bangsa yang kuat. Karena kurban melahirkan empati, dan empati melahirkan persatuan,ā ungkapnya.
Sholat Idul Adha di Masjid Al Hafidh tersebut turut dihadiri Pembina Yayasan Asram Eny Yustini, S.E., Ketua Yayasan Asram/BPPH AYWS Drs. H.A. Hafidh Asrom, M.M., serta jajaran pejabat AYWS.
Di akhir khutbahnya, ia mengajak jamaah menjadikan Idul Adha sebagai titik perubahan hidup, dengan memperkuat kepedulian, memakmurkan masjid, serta menanamkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. (Chaidir)







