- Capaian Prestasi: Kenzo Abimata Zuchri berhasil meraih Medali Perunggu Tingkat Nasional mata pelajaran Geografi pada ajang OSN.
- Properti & Perjuangan: Keberhasilan diraih melalui proses seleksi ketat bertahap (sekolah, kabupaten, provinsi) dengan ketekunan dan kesiapan mental.
- Dukungan Sekolah: SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta memberikan pendampingan penuh lewat pembinaan terstruktur serta pelatih internal dan eksternal.
AYWS – Prestasi manis tak pernah lahir dari jalan yang pintas. Di balik kilau Medali Perunggu Tingkat Nasional mata pelajaran Geografi pada ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN), ada deretan malam yang panjang, tumpukan buku yang dilahap habis, dan tekad baja yang tak pernah surut dari seorang Kenzo Abimata Zuchri.
Siswa SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta ini membuktikan bahwa batas akhir dari sebuah impian hanyalah sejauh mana seseorang mau berjuang. OSN—panggung kompetisi sains paling bergengsi yang mempertemukan talenta-talenta terbaik dari seluruh pelosok Nusantara—bukan sekadar panggung ujian, melainkan arena pembuktian atas ketekunan dan kedalaman ilmu yang diampunya.
Olimpiade Sains Nasional 2026 yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meliputi bidang Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Informatika, Ekonomi, Geografi, Astronomi, Kebumian, dan Artificial Intelligence (AI). Adapun pelaksanaannya penganugerahan para juara diadakan pada Sabtu (19/9/2026) di Jakarta.
Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Maria Veronica Irene Herdjiono mengatakan, partisipasi talenta sains jenjang pendidikan menengah pada OSN 2026 mengalami peningkatan. “Jumlah pendaftar mencapai 297.955 peserta, naik 12,33 persen dibandingkan tahun 2025 yang berjumlah 265.251 peserta,” kata Irene dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (16/9/2026).
Irene menilai, peningkatan tersebut menunjukkan semakin luasnya partisipasi siswa SMA/MA/SMK/MAK/sederajat dari 38 provinsi dan Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) di seluruh dunia dalam ajang pengembangan bakat bidang penelitian dan inovasi.
Latihan Panjang dan Hambatan yang Dilampaui
Menembus panggung nasional bukanlah perjalanan yang mudah. Kenzo harus merambat perlahan melalui tahapan seleksi yang super ketat, mulai dari persaingan di tingkat sekolah, adu ketelitian di tingkat kabupaten, hingga pertarungan sengit di tingkat provinsi. Setiap tahapan membawa tingkat kesulitan yang kian melambung, menuntut daya tahan mental yang tidak biasa.
Namun, di sepanjang jalan yang berliku itu, Kenzo tidak melangkah sendirian. SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta hadir menjadi rumah yang memupuk mimpinya. Sekolah memberi perhatian penuh lewat sistem pembinaan terstruktur, pelatihan intensif yang berkelanjutan, hingga mendatangkan para mentor terbaik—mulai dari guru internal yang berdedikasi tinggi hingga akademisi seperti dosen dan mahasiswa yang kompeten.
“OSN bagi saya adalah sebuah perjalanan yang panjang, sehingga membutuhkan persiapan yang matang. Saya beruntung bersekolah di SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta karena sekolah saya sangat perhatian dalam memberikan pendampingan di berbagai macam kompetisi dan pengembangan diri, salah satunya persiapan menghadapi OSN,” kenang Kenzo.
Setiap sesi latihan, kupasan materi geografi yang rumit, serta simulasi soal yang melelahkan ditempuhnya dengan senyum dan komitmen. Rasa lelah berganti menjadi bahan bakar semangat saat melihat dukungan tanpa henti dari orang-orang di sekitarnya.
Buah Manis Ketekunan dan Harapan Masa Depan
Ketika pengumuman itu tiba, nama Kenzo Abimata Zuchri terpampang sebagai salah satu pemenang medali tingkat nasional. Sebuah senyum lega dan rasa syukur yang mendalam membuncah. Seluruh tetes keringat dan perjuangan panjangnya akhirnya terbayar tuntas dengan capaian yang membanggakan.
Meski telah berdiri di podium juara, Kenzo tetap rendah hati. Ia justru menatap lebih jauh, berharap jejak langkahnya ini dapat membuka jalan bagi rekan-rekannya yang lain untuk tidak takut bermimpi.
“Harapan saya, sekolah terus dapat memberikan dukungan terhadap lomba-lomba akademik maupun non-akademik yang diikuti para siswa-siswi, karena setiap siswa memiliki potensi yang berbeda-beda. Saya juga berharap agar prestasi yang telah saya torehkan menjadi motivasi bagi para murid lainnya untuk berjuang dalam meraih prestasi,” tuturnya penuh harap.
Di balik medali yang kini menggantung bangga, Kenzo menyadari ada doa-doa yang terus mengalir di setiap langkahnya. “Terakhir, terima kasih saya kepada orang tua tercinta, bapak ibu guru, pelatih, dan teman-teman yang telah mendukung serta mendoakan perjuangan saya,” pukasnya tulus.
Kisah sukses Kenzo adalah bukti nyata bahwa ketika semangat pantang menyerah seorang murid berpadu selaras dengan ruang tumbuh dan pendampingan berkualitas dari sekolah, tidak ada target yang terlalu tinggi untuk dicapai. Dari Jogja untuk Nusantara, Kenzo telah membuktikan bahwa perjuangan yang dihidupi dengan sungguh-sungguh akan selalu menemukan jalan menuju kemenangan. (Setyo)






