Risang Ageng Daniswara meraih Juara 3 cabang lomba azan kategori SMP/sederajat dalam MTQ tingkat Kabupaten Gunungkidul.
Pernah kalah saat lomba tingkat gugus di SD, Risang bangkit hingga meraih Juara 1 tingkat kecamatan dan melaju ke tingkat kabupaten.
Prestasi ini mencerminkan pembinaan Pondok Pesantren Islam Al Azhar Wonosari dalam menumbuhkan potensi, kepercayaan diri, dan karakter santri Qur’ani.
AYWS – Kekalahan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah perjuangan. Bagi Risang Ageng Daniswara, pengalaman kalah saat mengikuti lomba azan di tingkat gugus ketika masih duduk di bangku sekolah dasar justru menjadi bagian dari perjalanan panjangnya untuk terus belajar dan berani mencoba.
Kini, santri kelas VII Al Khawarizmi, SMP Islam Al Azhar 38 Wonosari, yang menimba ilmu di Pondok Pesantren Islam Al Azhar Wonosari itu berhasil membuktikan perkembangan dirinya. Risang meraih Juara 3 cabang lomba azan kategori SMP/sederajat dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Kabupaten Gunungkidul.
Prestasi tersebut terasa istimewa karena Risang harus bersaing dengan peserta dari berbagai wilayah di Kabupaten Gunungkidul, yang melibatkan perwakilan dari hampir 18 kapanewon. Di tengah persaingan itu, ia mampu menunjukkan keberanian dan kemampuan terbaiknya dalam mengumandangkan azan.
Bagi Risang, pencapaian ini bukan sekadar tambahan koleksi piala. Ada perjalanan yang lebih bermakna di baliknya: dari pengalaman kekalahan, keberanian untuk kembali mencoba, hingga akhirnya mampu berdiri sebagai salah satu juara di tingkat kabupaten.
Dari Kekalahan Menuju Keberanian
Cerita perjalanan Risang terungkap ketika ia berbincang dengan Ichya’ul, musyrif pondok sekaligus pelatih azannya. Dengan penuh rasa syukur, Risang menceritakan bagaimana pengalamannya mengikuti perlombaan terus berkembang dari waktu ke waktu.
“Saya baru pertama kali juara 1 lomba azan tingkat kecamatan, Pak. Dulu di SD saja baru di tingkat gugus sudah kalah, sekarang sampai kecamatan dan kabupaten Alhamdulillah dapat juara 3. Ini pengalaman terbaru saya, Pak,” ungkap Risang.
Ucapan sederhana itu menggambarkan sebuah proses yang tidak selalu berjalan mulus. Dahulu, ketika mengikuti lomba azan di tingkat gugus saat masih SD, ia belum berhasil membawa pulang kemenangan. Namun, kekalahan tersebut tidak menghentikan langkahnya.
Risang terus belajar, berlatih, memperbaiki kemampuan, dan memberanikan diri untuk kembali tampil. Usahanya kemudian membuahkan hasil ketika ia meraih Juara 1 lomba azan tingkat kecamatan. Prestasi itu mengantarkannya melangkah ke kompetisi tingkat kabupaten hingga akhirnya meraih Juara 3 MTQ Gunungkidul.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan tidak tumbuh dalam semalam. Ada proses belajar, latihan berulang, dan keberanian menghadapi tantangan yang perlahan membentuk kepercayaan diri.
Bagi seorang santri yang masih duduk di bangku kelas VII, pengalaman itu menjadi bekal berharga untuk menapaki perjalanan berikutnya.
Lebih dari Sekadar Piala
Di Pondok Pesantren Islam Al Azhar Wonosari, prestasi Risang memiliki makna lebih luas daripada sekadar posisi di podium. Pencapaian ini menjadi gambaran bagaimana pendidikan dan pembinaan di pesantren dapat berjalan beriringan dengan pengembangan bakat serta potensi santri.
Latihan azan bukan hanya tentang memperindah suara atau menguasai teknik melantunkan panggilan salat. Di dalamnya terdapat proses membangun keberanian, melatih kedisiplinan, menerima koreksi, dan belajar menghadapi hasil kompetisi dengan lapang dada.
Setiap kesempatan tampil menjadi ruang pembelajaran. Setiap masukan pelatih menjadi bahan perbaikan. Bahkan, pengalaman kalah pun dapat menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh.
Nilai-nilai itulah yang membuat perjalanan Risang layak diapresiasi. Ia tidak hanya memperoleh pengalaman berkompetisi, tetapi juga belajar bahwa keberhasilan membutuhkan kesabaran dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri.
Juara 3 di tingkat kabupaten bukanlah garis akhir. Justru, pencapaian ini menjadi pijakan untuk meningkatkan kemampuan azan, memperkuat penghayatan, dan mempersiapkan diri menghadapi kesempatan-kesempatan berikutnya.
Sebab, tujuan pendidikan di pesantren bukan semata-mata mencetak juara, melainkan menumbuhkan generasi yang berilmu, berakhlak, percaya diri, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.
Merawat Potensi, Menumbuhkan Generasi Qur’ani
Kisah Risang menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki perjalanan pertumbuhan yang berbeda. Ada yang cepat menemukan keberhasilan, ada pula yang harus melewati beberapa kegagalan sebelum akhirnya mampu menunjukkan potensi terbaiknya.
Yang terpenting bukan seberapa cepat seseorang meraih kemenangan, melainkan kemauan untuk terus belajar dan tidak berhenti berusaha.
Hari ini, Risang membawa pulang prestasi dari MTQ tingkat Kabupaten Gunungkidul. Esok, masih terbuka kesempatan baginya untuk mengembangkan kemampuan dan meraih pencapaian yang lebih tinggi. Namun, lebih dari itu, ada harapan agar kecintaannya terhadap azan dan syiar Islam terus tumbuh seiring dengan pembentukan akhlak serta kepribadiannya.
Selamat kepada Risang Ageng Daniswara atas prestasi yang diraih. Semoga pencapaian ini menjadi penyemangat untuk terus berlatih, istiqamah mengumandangkan azan, serta tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang membawa syiar Islam melalui suara yang indah dan akhlak yang mulia.
Pernah kalah bukan berarti tidak mampu menang. Bagi Risang, perjalanan dari tingkat gugus hingga podium MTQ kabupaten menjadi bukti bahwa keberanian untuk mencoba kembali dapat membuka jalan menuju prestasi.
Pondok Pesantren Islam Al Azhar Wonosari terus berikhtiar membina generasi Qur’ani, menumbuhkan potensi, membangun karakter, dan mengantarkan santri menuju prestasi. (Ichya’ul Haqiqi)






