- Simulasi gempa bumi digelar sebagai latihan kesiapsiagaan warga sekolah menghadapi bencana.
- Murid belajar tindakan tepat saat gempa, mulai dari melindungi diri hingga menuju tempat aman.
- Latihan rutin menanamkan karakter disiplin, tanggap, waspada, dan peduli terhadap keselamatan bersama.
AYWS — Suasana di SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta pada Jumat, 18 September 2026, sejenak dibuat berbeda. Warga sekolah mengikuti simulasi gempa bumi sebagai bagian dari upaya membangun budaya kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah.
Kegiatan ini merupakan pelaksanaan simulasi gempa bumi yang keempat dan menjadi salah satu program sekolah untuk meningkatkan pengetahuan, kewaspadaan, serta keterampilan warga sekolah dalam menghadapi situasi darurat. Simulasi dilaksanakan secara berkala, dua kali dalam setahun, agar kesiapsiagaan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi kebiasaan yang melekat dalam keseharian.
Bagi para murid, simulasi ini bukan sekadar mendengarkan penjelasan tentang apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi. Mereka diajak mengalami secara langsung tahapan menghadapi situasi bencana, mulai dari berusaha tetap tenang, melindungi diri, hingga bergerak menuju titik aman dengan mengikuti arahan yang diberikan.
Gempa bumi dapat terjadi kapan saja dan waktunya tidak dapat diprediksi. Karena itu, kesiapsiagaan perlu dibangun sebelum bencana terjadi. Pengetahuan yang dilatih secara berulang diharapkan dapat membantu murid mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi kondisi darurat yang sesungguhnya.
Dalam pelaksanaannya, simulasi melibatkan warga sekolah dengan skenario yang dibuat menyerupai situasi nyata. Murid belajar bahwa keselamatan tidak hanya bergantung pada keberanian, tetapi juga pada kemampuan untuk tetap tenang, memahami prosedur, disiplin mengikuti arahan, serta peduli terhadap keselamatan orang-orang di sekitarnya.
Pelaksanaan secara rutin juga menjadi cara sekolah menanamkan bahwa kesiapsiagaan bukan sekadar respons sesaat ketika bencana datang. Kesiapsiagaan merupakan budaya yang perlu dibangun, dilatih, dan dijaga bersama.
Melalui simulasi gempa bumi ini, SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta terus berupaya menciptakan lingkungan belajar yang aman sekaligus membekali murid dengan keterampilan menghadapi keadaan darurat. Lebih dari sekadar latihan, kegiatan ini menjadi proses pendidikan karakter untuk membentuk generasi yang waspada, disiplin, tanggap, dan peduli terhadap keselamatan bersama.
Dengan latihan yang dilakukan secara berkala, diharapkan setiap warga sekolah semakin siap menghadapi kemungkinan bencana. Sebab, ketika bencana tidak dapat diprediksi, kesiapsiagaan adalah sesuatu yang dapat dipersiapkan. (Entis)






