- SMA Islam Al Azhar 34 Yogyakarta meraih tiga medali internasional dalam WICE 2026, yakni 1 Gold Medal dan 2 Silver Medals.
- Tiga karya murid mengangkat isu generasi muda, mulai dari dukungan emosional, identitas di media sosial, hingga fenomena FOMO.
- Rangkaian WICE 2026 dilengkapi campus visit ke Monash University Malaysia, membuka wawasan murid tentang pendidikan tinggi bertaraf internasional.
AYWS — Ada kalanya sebuah gagasan yang lahir dari ruang kelas mampu melangkah jauh melampaui batas sekolah. Itulah yang ditunjukkan murid SMA Islam Al Azhar 34 Yogyakarta melalui ajang The 8th World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 di Malaysia, pada 23 September 2026.
Bukan hanya hadir sebagai peserta, tiga tim dari SMA Islam Al Azhar 34 Yogyakarta berhasil membawa pulang prestasi internasional dengan torehan 1 Gold Medal dan 2 Silver Medals. Ketiga penghargaan tersebut diraih melalui karya yang mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan generasi muda, mulai dari dukungan emosional, perkembangan identitas di media sosial, hingga fenomena Fear of Missing Out (FOMO).

Kepala Satuan Pendidikan SMA Islam Al Azhar 34 Yogyakarta Internasional, Mudzofir MA, mengatakan prestasi tersebut menjadi bukti bahwa gagasan murid tidak berhenti pada ruang diskusi dan tugas sekolah. Melalui riset, kolaborasi, serta proses pengembangan ide yang serius, mereka mampu membawa persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari ke panggung kompetisi internasional.
WICE 2026 diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan SEGi University, Malaysia. “Ajang ini menjadi ruang bagi para pelajar untuk mempresentasikan berbagai gagasan dan inovasi hasil penelitian di hadapan peserta dan juri dari lingkungan internasional,” kata Mudzofir, Rabu (7/10/2026).
NEST Antar Tim Raih Gold Medal
Penghargaan tertinggi berhasil diraih tim yang terdiri atas Kenes Pelipurlara Putri Aurora Wishly, Raffa Hudha, Daffa Almair, Syailendra Satriya Sularso Narendra, dan Divo Excel Marvian. Melalui karya “NEST: Network for Emotional Support and Trust”, mereka berhasil memperoleh Gold Medal.
NEST berangkat dari perhatian terhadap pentingnya dukungan emosional dan terciptanya ruang yang aman bagi seseorang untuk mendapatkan dukungan sekaligus membangun kepercayaan. Gagasan tersebut dikembangkan menjadi sebuah inovasi yang mendorong terciptanya dukungan emosional yang lebih terhubung, suportif, dan berlandaskan kepercayaan.
Tema yang diangkat terasa relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini. Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, kebutuhan untuk memiliki ruang yang aman, didengar, dan mendapatkan dukungan menjadi persoalan yang semakin penting.
Lewat NEST, para murid tidak sekadar melihat persoalan dari sisi teoritis, tetapi berusaha menghadirkan gagasan yang dapat menjadi bagian dari solusi.

Dua Penelitian Sabet Silver Medal
Prestasi SMA Islam Al Azhar 34 Yogyakarta berlanjut melalui dua karya penelitian lain yang masing-masing meraih Silver Medal.
Silver Medal pertama diraih Azra Nadia Hafizha, Safaras Aufa Azalia, Nur Khaira Syakira Alimi, Muhammad Harris Alhafidz, Agasha Rafa Ramadhana Prasetyo, dan Muhammad Rafael Agnan Saputra. Tim tersebut mengangkat penelitian berjudul “Beyond the Screen: The Impact of Social Media on Identity Development Among High School Students.”
Penelitian ini mengkaji bagaimana media sosial dapat memengaruhi proses perkembangan identitas siswa sekolah menengah.
Ruang digital yang setiap hari menjadi bagian dari kehidupan remaja tidak hanya menjadi tempat untuk berkomunikasi dan berbagi informasi. Interaksi, pengalaman, serta respons yang diterima di media sosial juga dapat ikut memengaruhi bagaimana seorang remaja membangun, memahami, dan mengekspresikan identitas dirinya.
Sementara itu, Silver Medal kedua diraih Nada Salsabila Putri, Muhammad Hafizd Alaric Darrin Septiandy, Muhammad Altamis Denizfaisal, dan Laiqa Varisha Zahra. Keempatnya mengangkat penelitian “Living in Fear of Missing Out: A Study of Social Pressure and Behaviour in Contemporary Society Among Gen Z.”
Penelitian tersebut mengeksplorasi fenomena Fear of Missing Out atau FOMO pada Generasi Z, terutama kaitannya dengan tekanan sosial dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Kebutuhan untuk terus terhubung dengan lingkungan sosial dan tidak ingin tertinggal dari apa yang dilakukan orang lain menjadi fenomena yang menarik untuk dikaji. Melalui penelitian tersebut, para murid mencoba memahami bagaimana tekanan sosial dapat memengaruhi pilihan, keputusan, dan perilaku generasi muda.
Tiga karya tersebut menunjukkan satu benang merah: para murid tidak hanya diajak menghasilkan karya, tetapi juga belajar membaca persoalan yang hadir di sekitar mereka dan mengolahnya menjadi gagasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Dari Riset hingga Panggung Internasional
Bagi para murid, perjalanan menuju WICE 2026 bukan sekadar tentang mendapatkan medali. Ada proses panjang yang menyertainya, mulai dari menemukan persoalan, mengembangkan ide, melakukan penelitian, bekerja dalam tim, hingga mempresentasikan hasil karya di hadapan juri.
Proses tersebut menjadi pengalaman berharga untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, hingga problem solving.
Prestasi tiga tim SMA Islam Al Azhar 34 Yogyakarta di WICE 2026 sekaligus memperlihatkan bagaimana budaya riset dapat menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Gagasan yang lahir dari rasa ingin tahu kemudian dikembangkan melalui proses yang terarah hingga mampu berkompetisi di level internasional.
Bagi sekolah, capaian tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong murid agar berani mengembangkan gagasan, menghasilkan karya yang memiliki nilai dan dampak, serta tidak ragu membawa pemikirannya ke ruang yang lebih luas. Namun perjalanan di Malaysia tidak berhenti pada arena kompetisi.
Dari Arena Kompetisi Berlanjut Mengenal Monash University Malaysia
Masih dalam rangkaian agenda WICE 2026, para murid SMA Islam Al Azhar 34 Yogyakarta juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperluas pengalaman akademik melalui campus visit ke Monash University Malaysia pada 23 September 2026.
Kegiatan ini memberikan pengalaman berbeda. Jika kompetisi membawa murid berhadapan dengan gagasan dan karya dari berbagai peserta, kunjungan kampus mempertemukan mereka secara langsung dengan lingkungan pendidikan tinggi bertaraf internasional.
Para murid berkesempatan mengenal lebih dekat lingkungan akademik Monash University Malaysia, mulai dari fasilitas kampus, kehidupan mahasiswa, hingga berbagai peluang pendidikan yang tersedia.
Mereka juga mendapatkan gambaran mengenai program studi, proses pembelajaran, serta pengalaman akademik yang dapat menjadi referensi dalam menentukan pilihan pendidikan setelah menyelesaikan pendidikan menengah.
Pengalaman semacam ini menjadi penting karena pilihan pendidikan tinggi tidak selalu cukup dipahami hanya melalui informasi di layar. Melihat langsung lingkungan kampus, mengenal atmosfer akademiknya, dan memahami berbagai pilihan studi dapat membantu murid membangun perspektif yang lebih luas tentang masa depan.
Bukan Sekadar Pulang Membawa Medali
Rangkaian kegiatan di Malaysia akhirnya memberikan pengalaman yang lebih lengkap bagi para murid SMA Islam Al Azhar 34 Yogyakarta. Mereka datang membawa karya, berkompetisi, mempresentasikan gagasan, dan pulang dengan tiga penghargaan internasional. Namun lebih dari itu, mereka juga membawa pengalaman baru tentang bagaimana sebuah ide dikembangkan, diuji, dipertanggungjawabkan, dan diperkenalkan kepada dunia.
Pengalaman mengikuti WICE 2026 sekaligus campus visit ke Monash University Malaysia menjadi bagian dari perjalanan untuk membangun global awareness, open-mindedness, serta kesiapan menghadapi jenjang pendidikan dan kehidupan yang semakin terhubung secara global.
Tiga medali yang diraih menjadi catatan prestasi. Tetapi di balik medali tersebut ada sesuatu yang jauh lebih penting: keberanian para murid untuk memiliki gagasan, mengolahnya menjadi karya, lalu membawanya keluar dari lingkungan sekolah hingga dikenal di panggung internasional.
Dari Yogyakarta, mereka menunjukkan bahwa sebuah gagasan besar bisa tumbuh dari ruang belajar sederhana—ketika rasa ingin tahu dipertemukan dengan riset, kolaborasi, dan keberanian untuk melangkah lebih jauh. (Chaidir)






