- Lubna Rihhadlatul ‘Aisy, santri kelas IX Pondok Pesantren Islam Al Azhar Wonosari, dipercaya memimpin Yasinan dan Tahlil.
- Aisy mampu melantunkan rangkaian tahlil panjang tanpa melihat teks, berkat pembiasaan dan pembekalan selama di pesantren.
- Pendidikan pesantren tidak hanya membekali ilmu, tetapi juga menyiapkan santri memimpin, mengamalkan ilmu, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
AYWS – Menjadi santri bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang dipelajari, tetapi juga tentang bagaimana ilmu tersebut kelak dapat diamalkan dan memberikan manfaat di tengah masyarakat.
Salah satu bentuk nyata pembiasaan tersebut terlihat dari ananda Lubna Rihhadlatul ‘Aisy, santri kelas IX Pondok Pesantren Islam Al Azhar Wonosari, yang sebentar lagi akan menyelesaikan masa belajarnya di pondok pesantren.
Dalam sebuah kegiatan Yasinan dan Tahlil, ananda ‘Aisy dipercaya untuk memimpin rangkaian bacaan. Kegiatan diawali dengan bacaan tawassul, sebagai bentuk penghormatan dan doa yang ditujukan kepada para ahli kubur, orang tua, keluarga, guru, serta orang-orang terdekat yang telah terlebih dahulu mendahului kita.
Kemudian dilanjutkan dengan membaca Surah Yasin dan Tahlil. Ada hal yang menarik dan membanggakan, ketika memimpin tahlil, ananda ‘Aisy sama sekali tidak melihat teks. Dengan penuh percaya diri, ia melantunkan rangkaian tahlil yang cukup panjang karena telah menghafalnya.
Hal ini bukanlah sesuatu yang instan. Di Pondok Pesantren Islam Al Azhar Wonosari, setiap santri kelas IX yang akan menyelesaikan masa pendidikan diberikan pembekalan agar mampu menghafal dan memimpin tahlil secara mandiri, bahkan tahlil yang dipelajari bukan sekadar tahlil pendek, melainkan rangkaian tahlil yang lengkap dan panjang.
Dari sini kita belajar bahwa pendidikan pesantren tidak berhenti pada ruang kelas dan kitab. Santri dipersiapkan untuk mampu memimpin, mengamalkan ilmu, dan hadir di tengah masyarakat.
Kelak ketika kembali ke lingkungan masing-masing, mereka diharapkan tidak hanya menjadi generasi yang berilmu, tetapi juga generasi yang siap mengambil peran: memimpin doa, menghidupkan tradisi keagamaan, menjadi teladan, serta memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat. (Ichya’ul Haqiqi)






