Ustadz Wijayanto : Beriman kepada Takdir sebagai Pondasi Ketenangan Batin

SLEMAN – Di tengah laju kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, Jam’iyyah SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta kembali mengajak orang tua dan masyarakat untuk menata ulang kondisi batin melalui Kajian Motivasi bertema “La Tahzan” dengan subtema “Apa yang Ditakdirkan Padamu Pasti Terjadi.” Kegiatan yang menghadirkan Ustadz Wijayanto sebagai narasumber ini  digelar pada Rabu, 10 Desember 2025, di Auditorium Al Hafidh.

Mengusung konsep terbuka untuk umum, kajian ini menjadi ruang syiar yang ingin menghidupkan kembali kesadaran bahwa ketenangan bukanlah sesuatu yang dicari jauh di luar diri, melainkan lahir dari keyakinan mendalam terhadap takdir Allah. Infaq terbaik hanya menjadi sarana, sementara nilai utama kegiatan ini terletak pada upaya membangun keteguhan jiwa.

Landasan tema “La Tahzan” diambil dari QS. At-Taubah ayat 40, saat Rasulullah SAW menenangkan Abu Bakar ra. dengan kalimat agung: “Sesungguhnya Allah bersama kita.” Pesan ini menjadi pengingat bahwa keyakinan terhadap takdir dan kebersamaan Allah adalah sumber keberanian menghadapi segala ketidakpastian. Apa yang ditetapkan Allah—baik berupa kebahagiaan maupun ujian—tidak luput dari hikmah.

Dalam ceramahnya, Ustadz Wijayanto menegaskan bahwa iman kepada takdir adalah pondasi ketenangan batin seorang mukmin. Ketika hati memahami bahwa segala ketentuan Allah tidak pernah keliru, maka kegelisahan berangsur luruh. “Manusia wajib berusaha,” jelasnya, “tetapi hatinya harus tetap bersandar pada Allah. Dengan tawakal dan dzikir, jiwa menemukan keseimbangannya.”

Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa ketenangan hanya hadir bersama ingatan kepada Allah (QS. Ar-Ra’d: 28). Karena itu, ajaran Islam mengarahkan seorang mukmin untuk tidak tenggelam dalam luka yang disebabkan manusia, tetapi kembali pada Dzat yang menakdirkan segalanya. Perspektif ini memberi kekuatan untuk menerima, berdamai, dan melangkah dengan harapan.

Baca Juga  Dasamas Al Azhar DIY-Jateng II Berkumpul, Semangat Melayani Masyarakat Terus Menyala

Kajian ini disusun bukan hanya sebagai ceramah satu arah, tetapi sebagai pembinaan ruhani yang aplikatif. Peserta diajak melakukan tadabbur ayat, membangun kesadaran hijrah di akhir tahun, serta melewati lima tahapan transformasi diri: attaghyiir (merubah diri), al-intibah (sadar dan bangkit), asy-syifa’ (menyembuhkan luka batin), attartiib (menata kembali kehidupan), hingga al-amal (merajut harapan baru).

Pendekatan yang komprehensif ini menjadikan kajian “La Tahzan” sebagai ruang pemulihan spiritual yang relevan dengan tantangan keluarga, pendidikan, hingga dinamika sosial generasi masa kini. Bagi SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta, kajian ini menjadi bagian dari komitmen menghadirkan ekosistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menumbuhkan ketangguhan emosional dan spiritual.

Melalui kajian ini, masyarakat diajak kembali menyadari bahwa ketenangan bukanlah kemewahan—melainkan karunia yang lahir dari keyakinan kepada takdir Allah. Dengan pemahaman itu, setiap peserta diharapkan pulang dengan hati yang lebih ringan, pikiran yang lebih jernih, dan iman yang lebih teguh, menyadari satu kebenaran: bersama Allah, tak ada alasan untuk terus bersedih. (Fajar AH)