Prof Fathul Wahid: Perubahan Harus Dimulai dari Diri Sendiri

SLEMAN “Perubahan besar tidak akan pernah terjadi jika kita tidak memulainya dari diri sendiri. Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

Pesan itulah yang disampaikan akademisi dari Universitas Islam Indonesia, Prof. Fathul Wahid ST MSc PhD, saat memberikan ceramah bertema “Ramadan dan Visi Perubahan” dalam acara buka puasa bersama keluarga besar Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) di Auditorium Al Hafidh, Kampus 1 AYWS Sleman, Sabtu (7/3/2026).

Menurut Prof Fathul Wahid, ayat Al-Qur’an tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan tidak bisa hanya dituntut dari orang lain atau dari lingkungan sekitar. Perubahan harus dimulai dari kesadaran diri setiap individu. Tanpa kemauan untuk memperbaiki diri, perubahan yang diharapkan dalam kehidupan pribadi, organisasi, maupun masyarakat akan sulit terwujud.

Ia menambahkan, bulan suci Ramadan merupakan momentum yang sangat tepat untuk melakukan refleksi diri dan memperbaiki kualitas kehidupan. Ramadan tidak hanya menjadi waktu untuk meningkatkan ibadah secara ritual, tetapi juga kesempatan untuk menata ulang cara berpikir, memperbaiki sikap, serta memperkuat komitmen menuju perubahan yang lebih baik.

“Ramadan adalah waktu terbaik untuk melakukan refleksi. Kita diajak melihat kembali diri kita, mengevaluasi apa yang sudah dilakukan, dan menyiapkan langkah untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.

Dalam ceramahnya, Prof Fathul Wahid juga mengangkat konsep self-leadership atau kepemimpinan diri. Ia menjelaskan bahwa kepemimpinan sejati tidak dimulai dari kemampuan memimpin orang lain, melainkan dari kemampuan memimpin diri sendiri.

Dalam pandangan Islam, lanjutnya, setiap manusia pada hakikatnya adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Karena itu, seseorang harus terlebih dahulu mampu mengelola dirinya, baik dalam hal pikiran, emosi, waktu, maupun tindakan.

“Self-leadership berarti seseorang mampu mengelola dirinya dengan baik. Ia sadar terhadap nilai yang diyakininya, mampu mengendalikan dirinya, dan konsisten dalam menjalankan prinsip-prinsip yang diyakini,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa kepemimpinan diri juga berkaitan erat dengan nilai amanah dan ihsan dalam ajaran Islam. Ihsan, menurutnya, adalah kesadaran bahwa setiap perbuatan manusia selalu berada dalam pengawasan Allah SWT.

Kesadaran spiritual tersebut akan melahirkan integritas, tanggung jawab, serta konsistensi moral dalam kehidupan seseorang. Dengan demikian, seseorang tidak hanya berbuat baik ketika dilihat orang lain, tetapi juga tetap menjaga integritas ketika tidak ada yang melihatnya.

Lebih jauh, Prof Fathul Wahid menjelaskan bahwa salah satu fondasi penting dalam membangun kepemimpinan diri adalah kesadaran diri (self-awareness). Dengan mengenali kekuatan, kelemahan, nilai, serta tujuan hidupnya, seseorang akan lebih mudah menentukan arah dan mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupannya.

Ia juga mengingatkan bahwa banyak orang yang memiliki kemampuan teknis yang baik tetapi gagal menjadi pemimpin yang efektif karena kurang memiliki kesadaran diri. Tanpa refleksi diri yang kuat, seseorang akan sulit berkembang dan beradaptasi dengan perubahan.

Menurutnya, individu yang memiliki kepemimpinan diri biasanya memiliki motivasi intrinsik yang kuat. Mereka tidak hanya bekerja karena perintah atau tekanan dari luar, tetapi terdorong oleh kesadaran dan nilai yang diyakininya.

“Ketika seseorang mampu memimpin dirinya sendiri, ia tidak akan hanya menunggu arahan. Ia akan bergerak dengan kesadaran sendiri untuk melakukan hal-hal yang terbaik,” tuturnya.

Ceramah tersebut disampaikan dalam suasana kebersamaan kegiatan buka puasa bersama keluarga besar AYWS. Acara tersebut dihadiri Pembina Yayasan Asram Eny Yustini SE, Ketua Yayasan Asram/BPPH AYWS, Wakil Ketua Bidang BPPH AYWS, serta para kepala satuan pendidikan di lingkungan AYWS.

Kegiatan buka puasa bersama tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi bagi keluarga besar AYWS, tetapi juga menjadi ruang refleksi spiritual untuk memperkuat nilai-nilai keislaman dalam dunia pendidikan.

Melalui momentum Ramadan, Prof Fathul Wahid mengajak seluruh keluarga besar AYWS untuk menjadikan bulan suci ini sebagai titik awal perubahan diri. Ia berharap semangat perbaikan diri yang lahir di bulan Ramadan dapat terus terjaga dan membawa dampak positif bagi kehidupan pribadi maupun bagi kemajuan lembaga pendidikan. (Chaidir)