SLEMAN – Transformasi digital dan kehadiran kecerdasan buatan (AI) menuntut dunia pendidikan untuk beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai dasar kemanusiaan. Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Universitas Gadjah Mada Prof Ir Nizam MSc DIC PhD dalam kegiatan Kajian Rutin Sabtu Wage yang digelar di Masjid Al Hafidh, Kampus Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), Sabtu (2/5/2026).
Dalam kajian bertajuk “Aktualisasi Ajaran Ki Hadjar Dewantara di Era AI” tersebut, Prof. Nizam menekankan bahwa pendidikan tidak boleh sekadar mengejar kecanggihan teknologi, tetapi harus tetap berorientasi pada pembentukan manusia yang merdeka, berakhlak, dan bertanggung jawab.
Acara ini turut dihadiri Pembina Yayasan Asram Eny Yustini SE, Ketua Yayasan Asram/BPPH AYWS, para kepala satuan pendidikan, manajer boarding, serta guru dan karyawan di lingkungan AYWS.
Menurut Prof. Nizam, perkembangan teknologi yang sangat pesat—mulai dari revolusi industri hingga era AI—telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk cara belajar dan bekerja. Bahkan, banyak pekerjaan saat ini mulai tergantikan oleh mesin dan sistem cerdas, sehingga manusia dituntut untuk terus belajar dan beradaptasi sepanjang hayat.
“Di era AI, yang paling penting bukan lagi siapa yang paling cepat menjawab, tetapi siapa yang paling jernih berpikir dan paling lurus niatnya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pertanyaan utama dalam dunia pendidikan saat ini bukanlah apakah AI akan menggantikan guru, melainkan seperti apa sosok guru yang dibutuhkan agar peserta didik tetap menjadi manusia merdeka di tengah arus teknologi.
Mengacu pada pemikiran Ki Hadjar Dewantara, Prof. Nizam menyebut bahwa guru harus berperan sebagai pamong, yaitu sosok yang menuntun tumbuhnya akal, rasa, budi, dan kemandirian siswa. Guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan pembimbing yang membantu siswa menemukan potensi dirinya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tujuan utama pendidikan adalah memerdekakan manusia—yakni menjadikan individu yang mampu berpikir kritis, mandiri, kreatif, serta tidak bergantung pada mesin. Dalam konteks ini, AI bisa menjadi alat pembebas jika digunakan untuk memperkuat nalar dan karakter, namun juga bisa menjadi “penjajah baru” jika justru membuat siswa pasif dan bergantung.
Prof. Nizam juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan nilai-nilai adab. Ia menegaskan bahwa meskipun metode, media, dan sistem pembelajaran boleh berubah mengikuti perkembangan zaman, nilai-nilai seperti kejujuran, keteladanan, disiplin berpikir, dan kasih sayang tidak boleh hilang.
Dalam praktik pembelajaran, ia mendorong guru untuk merancang proses belajar yang menekankan tahapan berpikir, mulai dari mengalami, bertanya, mencari, mengkritisi, hingga mencipta. AI, menurutnya, seharusnya menjadi alat bantu dalam proses tersebut, bukan pengganti proses berpikir siswa.
“AI boleh digunakan, tetapi siswa harus tetap berpikir. Yang dinilai bukan hanya hasil, tetapi juga prosesnya,” tegasnya.
Selain itu, Prof. Nizam mengingatkan pentingnya penerapan adab digital dalam penggunaan teknologi. Ia merumuskan empat prinsip utama, yakni adab, amanah, tabayyun (verifikasi), dan ihsan. Dengan prinsip ini, penggunaan AI diharapkan tetap berada dalam koridor etika dan nilai-nilai keislaman.
Tak hanya guru, seluruh elemen sekolah—including karyawan—juga memiliki peran dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang beradab. Mulai dari pelayanan administrasi, komunikasi dengan orang tua, hingga interaksi sehari-hari di lingkungan sekolah, semuanya menjadi bagian dari proses pendidikan karakter siswa.
Menutup paparannya, Prof. Nizam menegaskan bahwa teknologi yang hebat tidak otomatis melahirkan manusia hebat. Menurutnya, manusia unggul lahir dari pendidikan yang mampu menumbuhkan adab, memerdekakan cara berpikir, serta menuntun potensi anak secara utuh.
“Guru dan karyawan bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi penjaga masa depan anak-anak agar tetap cerdas, merdeka, dan berakhlak,” ujarnya. (Chaidir)







