Dari Pra-Nikah hingga Akhir Hayat, Yayasan Asram Bangun Ekosistem Pendidikan Sepanjang Hayat

  • Tiga pilar pendidikan: Jam’iyah, sekolah, dan yayasan harus bersinergi mencerdaskan dan membentuk karakter anak.
  • Pendidikan sepanjang hayat: Yayasan Asram mengembangkan konsep pendidikan dari pra-nikah, pendidikan anak, hingga sekolah lansia dan akhir hayat.
  • Visi pendidikan global: Pengembangan AYWS dan HAWS diarahkan melahirkan generasi pemimpin dunia melalui pendidikan internasional, Edu Park, dan berbagai pengalaman pembelajaran.

AYWS — Pendidikan, bagi Ketua Yayasan Asram sekaligus Badan Pengelola dan Pelaksana Harian (BPPH) Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), Drs HA Hafidh Asrom MM, tidak semestinya berhenti ketika seorang anak menamatkan sekolah. Pendidikan harus menjadi proses panjang yang menyertai manusia sejak sebelum menikah hingga memasuki usia lanjut dan mempersiapkan akhir kehidupan.

Gagasan tersebut disampaikan Hafidh Asrom saat memberikan sambutan dalam kegiatan pelantikan pengurus Jam’iyah Sekolah Islam Al Azhar periode 2026–2028, Selasa (15/9/2026). Menurut dia, Jam’iyah, sekolah dan yayasan merupakan tiga pilar yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun pendidikan.

“Jam’iyah merupakan salah satu dari tiga pilar yang tidak bisa dipisahkan dalam pendidikan kita. Ada Jam’iyah, sekolah dan yayasan. Ketiganya harus berjalan bersama,” kata Hafidh.

Ia menjelaskan, keberadaan sekolah tidak dapat dilepaskan dari peran orang tua yang tergabung dalam Jam’iyah. Orang tua bukan hanya menyerahkan anak kepada sekolah, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk ikut mendukung proses pendidikan.

Karena itu, Hafidh memberikan apresiasi kepada pengurus Jam’iyah periode sebelumnya yang telah bekerja dan berkontribusi terhadap perkembangan sekolah. Ia juga menyampaikan selamat kepada pengurus baru yang menerima estafet kepemimpinan untuk periode 2026–2028.

Menurutnya, pergantian pengurus bukan berarti pengurus lama tidak berhasil. Regenerasi justru menjadi bagian dari keberlanjutan organisasi agar semakin banyak orang tua mendapatkan kesempatan untuk berkiprah dan memberikan kontribusi.

“Selamat bagi pengurus yang baru dan terima kasih kepada pengurus yang lama. Mudah-mudahan amal baik Bapak dan Ibu semua dicatat oleh Allah SWT dan menjadi bagian dari ikhtiar kita untuk mencerdaskan anak-anak,” ujarnya.

Jam’iyah dan Prestasi Sekolah

Hafidh menyebut kerja bersama antara sekolah, yayasan dan Jam’iyah telah memberikan kontribusi terhadap berbagai capaian AYWS. Salah satunya adalah prestasi sekolah yang berhasil masuk jajaran tiga besar sekolah unggulan di DIY.

Ia menyebut SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta berada di posisi yang sama SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (Muhi) dan SMA Kesatuan Bangsa (Kesbang) sebagai Sekolah Unggul Garuda Transformasi. Menurut Hafidh, capaian tersebut tidak lahir secara tiba-tiba. Ada kerja keras berbagai pihak, termasuk Jam’iyah, yang selama ini ikut memberikan dukungan terhadap sekolah.

Ia juga menyampaikan bahwa prestasi peserta didik AYWS selama ini tidak hanya berada pada satu bidang. Berbagai capaian diraih mulai Tingkat daerah, nasional, hingga tingkat Internasional.

“Ini merupakan prestasi yang diraih AYWS selama 21 tahun kita bekerja untuk pendidikan anak-anak kita,” katanya.

Hafidh bahkan memberikan makna yang lebih luas terhadap istilah guru. Baginya, guru bukan hanya mereka yang mengajar di ruang kelas. Semua orang yang berada dalam ekosistem sekolah memiliki kesempatan untuk memberikan pendidikan melalui pekerjaan dan keteladanan masing-masing.

Sopir, misalnya, ikut mendidik ketika mengantar anak dari rumah menuju sekolah. Petugas kebersihan juga memberikan pendidikan melalui keteladanan dalam menjaga kebersihan. Demikian pula Jam’iyah yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari proses pendidikan.

Tidak Boleh Berjalan dengan Pola Lama

Memasuki usia lebih dari dua dekade, Yayasan Asram, menurut Hafidh, mulai memikirkan lompatan baru dalam dunia pendidikan. Selama 21 tahun, lembaga tersebut terus berkembang dan mendirikan sekolah di berbagai wilayah. Namun, pengalaman panjang itu justru mendorong lahirnya pertanyaan baru: seperti apa pendidikan yang dibutuhkan generasi mendatang?

Hafidh menegaskan, pendidikan tidak bisa hanya dijalankan dengan pola yang sama dari tahun ke tahun.

“Kita tidak bisa berbicara tentang masa depan kalau hanya menjalankan sekolah dengan pola yang begitu-begitu saja. Kita harus melompat kepada konsep ke depan, karena proses pendidikan ke depan akan sangat berbeda,” ujarnya.

Dari pemikiran itulah kemudian muncul gagasan membangun ekosistem pendidikan yang lebih luas, bukan hanya pendidikan formal bagi anak usia sekolah. Konsep yang disiapkan adalah pendidikan sejak pra-nikah hingga akhir hayat.

Menurut Hafidh, pendidikan seharusnya dimulai bahkan sebelum seseorang membangun keluarga. Setelah menikah, pendidikan berlanjut pada bagaimana menjadi orang tua, mendidik anak, mendampingi anak sejak usia dini hingga sekolah, kemudian perguruan tinggi dan memasuki kehidupan profesional.

Setelah anak-anak tumbuh dan berhasil, proses tersebut belum selesai. Orang tua juga perlu mendapatkan ruang untuk terus belajar dan menjalani kehidupan yang bermakna pada usia lanjut.

Karena itu, Yayasan Hafidh Asrom menyiapkan program sekolah lansia yang disebut HASNA (Hafidh Asrom Sekolah Lansia). Program tersebut direncanakan dikembangkan di kawasan Edu Park.

“Jadi ini memang ditakdirkan saya harus mengurusi sekolah mulai sebelum nikah sampai anaknya lahir, kemudian masuk daycare, TK, SD, SMP, SMA, kuliah di dalam negeri ataupun luar negeri. Setelah sukses, anak-anak membawa orang tuanya untuk belajar di sekolah lansia yang kita siapkan,” tuturnya.

Menurut Hafidh, keseluruhan konsep tersebut pada akhirnya bermuara pada satu tujuan, yakni membangun manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kehidupan yang baik hingga akhir hayat.

Konsep pendidikan sepanjang hayat tersebut juga dikaitkan Hafidh dengan kepedulian sosial. Ia menyebut keterlibatannya sebagai pembina Yayasan Bunga Selasih yang antara lain memberikan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat dalam pemulasaraan jenazah.

Menurut dia, pendidikan dan kehidupan sosial tidak dapat dipisahkan. Manusia perlu dipersiapkan bukan hanya untuk menjalani kehidupan, tetapi juga memahami tanggung jawab sosial dan kehidupan bermasyarakat.

Ekspansi Pendidikan ke Magelang

Gagasan membangun ekosistem pendidikan tersebut kemudian berkembang ke wilayah lain. Pada awal 2026, melalui Yayasan Hafidh Asrom Yogyakarta mendapat kesempatan untuk membantu pengembangan lembaga pendidikan di Magelang yang sebelumnya mengalami persoalan keuangan hingga tidak mampu membayar gaji guru dan karyawan selama beberapa bulan.

Kondisi tersebut mendorong Yayasan Hafidh Asrom untuk mengambil langkah penyelamatan agar proses pendidikan tetap berlangsung. Sekolah tersebut kemudian dikembangkan dengan konsep dan nama yang berbeda dari Al Azhar. Organisasi orang tua di sekolah tersebut juga menggunakan istilah komite, menyesuaikan dengan konsep kelembagaannya.

Hafidh mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk ikut menjaga keberlangsungan pendidikan, terutama ketika sebuah lembaga menghadapi persoalan serius.

Menyiapkan Sekolah Global di Beji

Pengembangan pendidikan juga diarahkan ke kawasan Beji, Patuk, Gunungkidul. Yayasan Hafidh Asrom Yogyakarta yang telah membuka branding Hafidh Asrom World Schools (HAWS) telah menyiapkan lahan sekitar 16 hektare untuk pengembangan kawasan pendidikan global.

Di kawasan tersebut disiapkan sejumlah fasilitas, termasuk kantor, tempat tinggal, masjid dan fasilitas pendidikan. Kawasan tersebut menjadi bagian dari visi jangka panjang HAWS.

Menurut Hafidh, sekolah tersebut nantinya diarahkan memiliki perspektif global dengan mengembangkan pendidikan bahasa Mandarin serta membuka peluang penerapan kurikulum International Baccalaureate (IB).

Jika di AYWS saat ini dikembangkan kurikulum Cambridge, maka kawasan Beji diarahkan untuk memiliki pendekatan berbeda dengan IB. “Ini baru angan-angan dan kita berdoa. Tapi insyaallah jalan,” katanya.

Ia berharap keberadaan sekolah global tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta didik, tetapi juga membawa nama Gunungkidul ke tingkat internasional.

Edu Park dan Pendidikan Kepemimpinan

Dalam membangun pendidikan global, Hafidh juga menaruh perhatian pada pembelajaran di luar ruang kelas. Edu Park disiapkan dengan berbagai fasilitas yang dapat menjadi sarana pembelajaran, termasuk kegiatan dayung, rafting hingga golf.

Menurut dia, fasilitas tersebut bukan sekadar tempat bermain. Anak-anak perlu mendapatkan pengalaman yang dapat melatih konsentrasi, keberanian, komunikasi dan kemampuan membangun relasi.

Golf, misalnya, dipandang memiliki nilai strategis karena olahraga tersebut menuntut konsentrasi dan ketepatan sekaligus membuka ruang interaksi dalam lingkungan bisnis dan diplomasi. Hafidh berharap peserta didik AYWS nantinya tidak hanya menjadi lulusan yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu tampil sebagai pemimpin.

Ia membayangkan anak-anak AYWS kelak dapat mengisi berbagai posisi strategis, mulai dari menteri, kepala daerah, diplomat hingga pemimpin di berbagai bidang. “Impian saya anak-anak kita akan menjadi pemimpin dunia ke depan,” ujarnya.

Karena itu, para kepala sekolah juga didorong untuk mengenal olahraga golf sebagai bagian dari wawasan dan komunikasi global.

Jam’iyah Didorong Ikut Mengembangkan Program Sekolah

Di tengah visi besar tersebut, Hafidh kembali menempatkan Jam’iyah sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan. Ia berharap orang tua tidak hanya hadir dalam kegiatan seremonial, tetapi juga ikut memberikan dukungan terhadap berbagai program sekolah.

Salah satu program yang disebut adalah laboratorium alam. Hafidh mengaku telah melihat pentingnya pembelajaran berbasis alam ketika mempelajari sistem pendidikan Finlandia. Selain itu, terdapat gagasan laboratorium entrepreneur yang dapat memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik dalam memahami dunia kewirausahaan.

Menurut Hafidh, program-program semacam itu membutuhkan dukungan seluruh unsur sekolah, termasuk Jam’iyah. “Ini bagian-bagian yang saya harapkan nanti ibu-ibu Jam’iyah juga memberikan support kepada sekolah,” katanya.

Yogyakarta Punya Posisi Penting

Besarnya peran Jam’iyah di Yogyakarta juga terlihat dari jumlah pengurus yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Hafidh menyebut dari sekitar 1.700 pengurus Jam’iyah Al Azhar di Indonesia, sebanyak 174 berada di Yogyakarta. Sementara jaringan sekolah yang disebut dalam sambutan mencapai 174 sekolah, dengan 19 sekolah berada di Yogyakarta.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan posisi strategis Yogyakarta dalam pengembangan pendidikan Al Azhar sekaligus menjadi modal penting untuk membangun visi pendidikan global.

Hafidh pun menutup sambutannya dengan kembali memberikan penghargaan kepada pengurus lama dan baru. Ia berharap seluruh pengabdian para orang tua dan pengurus Jam’iyah menjadi amal kebaikan yang terus memberikan manfaat bagi pendidikan generasi mendatang.

Bagi Hafidh, pendidikan pada akhirnya bukan sekadar membangun sekolah atau menghasilkan lulusan. Pendidikan adalah ikhtiar panjang untuk membentuk manusia, keluarga dan masyarakat yang terus belajar sepanjang kehidupan.

Dari sanalah gagasan besar itu dirangkai: pendidikan dimulai sejak pra-nikah, tumbuh bersama keluarga, berkembang melalui sekolah, mengantarkan anak menuju dunia global, dan tetap hadir hingga manusia memasuki usia lanjut serta mempersiapkan akhir hayat. (Chaidir)