Santri Al Azhar Wonosari Asah Strategi dan Sportivitas Lewat Turnamen Free Fire

  • Enam santri SMP Islam Al Azhar 38 Wonosari mengikuti turnamen Free Fire di Café Rindu Pulang, Wareng, Gunungkidul.
  • Turnamen menjadi sarana mengembangkan minat, melatih konsentrasi, menyusun strategi, membangun kerja sama, dan menjunjung sportivitas.
  • Santri diajak bijak memanfaatkan teknologi digital, menyeimbangkan hobi dengan kewajiban, serta tetap menjaga adab dan akhlak.

AYWS – Menjadi santri bukan berarti membatasi diri dari perkembangan zaman. Di Pondok Pesantren Islam Al Azhar Wonosari, minat dan hobi santri mendapat ruang untuk berkembang, termasuk melalui dunia gim digital yang dikemas sebagai sarana belajar strategi, kerja sama, dan sportivitas.

Semangat itu terlihat ketika enam santri SMP Islam Al Azhar 38 Wonosari mengikuti turnamen gim Free Fire di Café Rindu Pulang, kawasan Wareng, Gunungkidul, belum lama ini. Mereka adalah Abdullah Adh Dhayfan dan Galang Reva Aditya dari kelas VIII, serta Yafiq Uzzam Safiy, Muhammad Fadhly Susilo, Jefrey, dan Azkhariar dari kelas VII.

Keikutsertaan mereka bukan semata-mata mengejar kemenangan. Di balik persaingan dalam permainan, ada kesempatan untuk melatih konsentrasi, menyusun strategi, membangun komunikasi, dan belajar mengambil keputusan bersama tim.

Turnamen ini sekaligus menjadi ruang bagi para santri untuk memperluas pergaulan, menjalin persahabatan, serta memahami arti sportivitas. Menang dan kalah merupakan bagian dari kompetisi, tetapi sikap menghargai lawan dan menaati aturan menjadi nilai yang tak kalah penting.

Bagi santri, menekuni hobi juga harus diiringi kemampuan mengatur waktu dan menjaga tanggung jawab. Mengaji, belajar, beribadah, dan beristirahat tetap menjadi prioritas. Gim digital dapat menjadi hiburan sekaligus sarana mengembangkan potensi selama dijalani secara bijak dan tidak berlebihan.

Dari pengalaman ini, tumbuh semangat Santri Gamers Saleh: generasi yang terbuka terhadap perkembangan teknologi, mampu berkompetisi secara sehat, serta tetap menjunjung tinggi adab dan akhlak.

Sebab, mondok bukan berarti berhenti mengeksplorasi diri. Pesantren justru menjadi tempat menempa karakter, mengarahkan potensi, dan membekali santri agar mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri. (Ichya’ul Haqiqi)