- Pembiasaan baru. Sejak Selasa, 19 Mei 2026, siswa SD Islam Al Azhar 31 dan 77 Yogyakarta membiasakan salim kepada guru setelah shalat berjamaah di Masjid Al Hafidh, Kampus 1 AYWS.
- Berawal dari inisiatif guru. Program digagas Hendy Kurniawan, M.Pd. untuk membangun budaya adab, ketertiban, dan kedisiplinan setelah melihat siswa langsung meninggalkan masjid seusai shalat.
- Memberi dampak positif. Pembiasaan salim yang disertai lantunan shalawat dinilai memperkuat akhlak, rasa hormat kepada guru, kesabaran, toleransi, dan mendapat dukungan pimpinan Yayasan Al Azhar Yogyakarta World Schools.
AYWS – Ada pemandangan yang berbeda di Masjid Al Hafidh, Kampus 1 Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), dalam dua bulan terakhir. Seusai shalat berjamaah, doa bersama, dan shalat sunnah, para siswa tidak lagi bergegas meninggalkan masjid seperti biasanya. Mereka justru membentuk barisan dengan tertib, berjalan satu per satu menuju para guru, lalu menyalami dan mencium tangan mereka sambil melantunkan shalawat.
Suasana yang hangat, penuh penghormatan, dan sarat nilai pendidikan akhlak itu kini menjadi wajah baru kehidupan religius di lingkungan SD Islam Al Azhar 31 dan 77 Yogyakarta.
Pembiasaan adab salim setelah shalat tersebut mulai diterapkan pada Selasa, 19 Mei 2026, di Masjid Al Hafidh, Kampus 1 AYWS. Program ini merupakan inisiatif guru SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta, Hendy Kurniawan MPd, yang melihat perlunya menghadirkan pembiasaan adab sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter di sekolah.
Menurut Hendy, sebelum pembiasaan itu diterapkan, suasana setelah shalat berjamaah berlangsung berbeda. Setelah imam memimpin doa dan para siswa menyelesaikan shalat sunnah, mereka langsung meninggalkan masjid tanpa ada pembiasaan untuk bersalaman dengan guru.
“Saya melihat anak-anak setelah sholat, doa, dan sholat sunah, langsung buyar begitu saja. Akhirnya saya berinisiatif saat saya menjadi imam pada Mei 2026 agar anak-anak terlihat lebih tertib dan rapi, sekaligus ada pembiasaan adab. Karena itu, setelah membaca doa keluar masjid, mereka dibiasakan salim dengan guru-guru,” ujar Hendy.
Kumandang Shalawat
Inisiatif sederhana tersebut ternyata membawa perubahan yang cukup terasa. Kini, setiap selesai shalat berjamaah, para siswa keluar dari masjid dengan lebih tertib, mengantre secara rapi, kemudian menyalami guru satu per satu. Di sepanjang antrean, lantunan shalawat turut dikumandangkan sehingga suasana religius tetap terjaga hingga seluruh rangkaian ibadah selesai.
Dalam perspektif Islam, menghormati orang tua, guru, dan orang yang lebih tua merupakan bagian dari akhlak yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Dawud). Guru memiliki kedudukan yang mulia sebagai perantara penyampai ilmu. Oleh sebab itu, menghormati guru merupakan bagian dari adab menuntut ilmu yang telah diajarkan dalam tradisi pendidikan Islam sejak dahulu.
Tradisi salim atau mencium tangan guru bukan merupakan ibadah yang diwajibkan ataupun sunnah yang dikhususkan setelah shalat. Namun, para ulama membolehkan mencium tangan orang tua, guru, maupun orang saleh sebagai bentuk penghormatan selama tidak disertai pengagungan yang berlebihan. Dalam konteks pendidikan, salim menjadi media pembiasaan akhlak yang menanamkan sikap tawadhu’, hormat, dan kasih sayang antara guru dan peserta didik.
Menurut Hendy, pembiasaan adab salim memberikan berbagai dampak positif. Selain membentuk budaya menghormati guru, kegiatan tersebut juga melatih kedisiplinan, kesabaran, sikap saling menghargai, dan toleransi. Para guru pun menjadi lebih tertib dalam mendampingi siswa setelah shalat berjamaah.
“Sambil salim kita biasakan bershalawat,” ungkap Hendy.
Pembiasaan tersebut mendapat respons positif dari Ketua Yayasan Asram/BPPH Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), Drs HA Hafidh Asrom MM, serta Wakil Ketua Bidang Keagamaan BPPH AYWS, Dr Yogi E Ginanjar Lc MA. Keduanya berharap budaya salim setelah shalat dapat terus diterapkan dan dilestarikan sebagai salah satu ciri pembentukan karakter peserta didik di lingkungan AYWS.
Hendy berharap pembiasaan adab salim tidak berhenti sebagai budaya di SD Islam Al Azhar 31 dan 77 Yogyakarta, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi unit-unit pendidikan lain untuk mengembangkan pembiasaan serupa. Menurutnya, pendidikan karakter tidak selalu membutuhkan program yang rumit. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten justru mampu membentuk kepribadian peserta didik secara mendalam.
Metode Efektif Membangun Karakter
Bagi siswa sekolah dasar, pembiasaan merupakan metode yang efektif dalam membangun karakter. Ketika dilakukan setiap hari setelah shalat berjamaah, salim menjadi sarana internalisasi nilai-nilai hormat kepada guru, rendah hati, disiplin, sopan santun, serta rasa syukur kepada orang-orang yang berjasa dalam pendidikan mereka. Melalui kebiasaan yang terus diulang, nilai-nilai tersebut diharapkan tumbuh menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Hendy Kurniawan MPd dikenal aktif mengembangkan berbagai program pembinaan karakter religius di SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta. Selain menjadi imam shalat berjamaah dan menyampaikan kultum, termasuk tentang pentingnya sedekah, ia juga menjadi pengisi program Ceria Anak di Jogja TV serta beberapa kali tampil sebagai narasumber bersama pihak sekolah untuk memperkenalkan prestasi dan program unggulan SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta.
Komitmennya terhadap pendidikan karakter juga tercermin dalam karya akademiknya yang berjudul Implementasi Pendidikan Karakter dalam Perilaku Religius di SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta, yang sejalan dengan berbagai inovasi pembiasaan religius yang kini diterapkan di lingkungan sekolah.
Kini, setiap kali shalat berjamaah usai di Masjid Al Hafidh, Kampus 1 Al Azhar Yogyakarta World Schools, pemandangan antrean siswa yang menyalami guru telah menjadi kebiasaan baru. Sebuah tradisi sederhana, tetapi sarat makna. Dari tangan yang disalami, tumbuh penghormatan. Dari barisan yang tertib, lahir kedisiplinan. Dan dari pembiasaan yang dilakukan setiap hari, perlahan terbentuk karakter generasi yang berakhlak mulia. (Chaidir)






