TIDAK banyak orang yang menyadari bahwa perubahan besar di sebuah sekolah sering kali berawal dari hal-hal yang sederhana. Bukan dari gedung baru, bukan pula dari program yang megah. Perubahan sering dimulai dari sebuah keyakinan, dari cara seorang pemimpin memandang pendidikan, dan dari keberanian untuk terus bergerak meski hasilnya belum terlihat.
Itulah yang tergambar dalam perjalanan Agung Widiyantoro MPd.
Di tengah berbagai capaian yang berhasil diraih SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta dalam beberapa tahun terakhir, Agung selalu memilih menempatkan dirinya di belakang layar. Ia lebih senang berbicara tentang tim, tentang guru, tentang siswa, dan tentang proses panjang yang dijalani bersama. Baginya, keberhasilan sebuah sekolah tidak pernah lahir dari kerja satu orang.
“Sekolah harus maju karena sistemnya kuat, karena orang-orang di dalamnya tumbuh bersama. Kalau hanya bergantung pada satu figur, ketika figur itu tidak ada, semuanya bisa berhenti,” ujarnya.
Cara pandang itulah yang menjadi benang merah perjalanan Agung sebagai pendidik sekaligus pemimpin pendidikan. Sebuah perjalanan yang tidak dibangun oleh ambisi mengejar jabatan, melainkan oleh kecintaannya pada proses belajar dan keyakinannya bahwa setiap anak memiliki potensi yang layak diperjuangkan.
Menemukan Panggilan di Dunia Pendidikan
Jauh sebelum namanya dikenal sebagai kepala sekolah yang membawa SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta meraih pengakuan nasional, Agung adalah seorang mahasiswa yang jatuh cinta pada bahasa, literasi, dan proses belajar.
Pilihannya melanjutkan studi di Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta bukan sekadar keputusan akademik. Di kampus itulah ia mulai memahami bahwa pendidikan bukan hanya soal menyampaikan pengetahuan, tetapi tentang membentuk manusia.
Masa kuliahnya diisi dengan berbagai aktivitas organisasi. Ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa dan aktif memimpin LPPM Kreativa. Berbagai pengalaman tersebut membentuk kemampuannya dalam berkomunikasi, bekerja sama, dan mengelola tim.
Namun yang paling penting, pengalaman organisasi mengajarkannya satu hal yang hingga kini masih dipegang teguh. “Sering kali kita punya ide yang bagus. Tetapi ide tidak akan berarti apa-apa kalau tidak bisa dijalankan bersama. Pendidikan juga seperti itu. Visi yang hebat tidak akan menjadi kenyataan kalau tidak mampu menggerakkan orang lain,” katanya. Pandangan tersebut kemudian menjadi fondasi kepemimpinannya di masa depan.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Agung tidak langsung memasuki dunia sekolah formal. Ia terlebih dahulu mengajar di lembaga bimbingan belajar New Neutron dan Gama Exacta. Bagi sebagian orang, pekerjaan itu mungkin hanya dianggap sebagai batu loncatan. Namun bagi Agung, masa tersebut justru menjadi salah satu fase paling penting dalam hidupnya.
Di ruang-ruang belajar itulah ia bertemu dengan beragam karakter siswa. Ada siswa yang sangat cerdas tetapi takut mencoba, ada yang kemampuan akademiknya biasa saja, tetapi memiliki kegigihan luar biasa, ada pula yang datang dengan beban kegagalan dan kehilangan kepercayaan diri. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa setiap anak memiliki cerita yang berbeda.
Kadang orang terlalu cepat menilai anak dari nilainya. Padahal di balik nilai itu ada banyak hal yang tidak terlihat. Ada perjuangan, ada ketakutan, ada masalah keluarga, ada mimpi yang belum berani mereka ungkapkan. Seorang guru harus mampu melihat lebih dalam daripada sekadar angka.
Pengalaman tersebut perlahan membentuk filosofi pendidikannya. Bagi Agung, pendidikan bukanlah proses memilih siapa yang paling hebat. Pendidikan adalah proses membantu setiap anak menemukan versi terbaik dari dirinya.
Menjelajahi Berbagai Kultur Sekolah
Perjalanan Agung kemudian berlanjut di berbagai institusi pendidikan. Ia mengajar di SMK Muhammadiyah 1 Yogyakarta, SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, hingga SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta. Setiap sekolah memberinya pengalaman yang berbeda.
Di satu tempat ia belajar membangun kedisiplinan organisasi. Di tempat lain ia belajar mengelola keberagaman karakter peserta didik. Di tempat berikutnya ia belajar memahami pentingnya budaya sekolah.
Perjalanan tersebut membuatnya semakin yakin bahwa kualitas sekolah tidak ditentukan oleh fasilitas semata. “Saya percaya bahwa sekolah hebat bukan karena gedungnya megah. Sekolah hebat lahir karena ada budaya yang hidup di dalamnya. Ada guru-guru yang mau belajar. Ada siswa yang mau berkembang. Ada sistem yang terus diperbaiki,” katanya.
Pandangan tersebut menjadi semakin matang ketika pada tahun 2014 ia bergabung dengan SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta.
Melihat Sekolah Sebagai Sebuah Ekosistem
Tidak membutuhkan waktu lama bagi lingkungan sekolah untuk melihat kapasitas kepemimpinan Agung. Pada tahun 2015, ia dipercaya menjadi Wakil Kepala Sekolah. Posisi tersebut memberinya kesempatan untuk melihat sekolah dari perspektif yang lebih luas. Ia mulai memahami bahwa mengelola sekolah bukan hanya soal kegiatan belajar mengajar. Sekolah adalah sebuah ekosistem. Di dalamnya ada siswa, guru, orang tua, tenaga kependidikan, yayasan, dan masyarakat yang saling terhubung.
Jika satu bagian tidak berjalan baik, maka bagian lain akan ikut terdampak. Karena itu, Agung mulai banyak berpikir tentang sistem.
“Saya selalu tertarik pada pertanyaan sederhana. Bagaimana membuat sebuah program tetap berjalan meskipun orangnya berganti? Bagaimana membuat budaya tetap hidup meskipun ada pergantian kepemimpinan? Jawabannya adalah sistem,” ujarnya. Pandangan tersebut kemudian menjadi ciri khas kepemimpinannya.
Tahun 2017 menjadi babak baru ketika Agung dipercaya memimpin SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta. Di sana, ia mulai mengembangkan pendekatan berbasis data dalam pengelolaan sekolah. Ia memanfaatkan data capaian siswa, hasil evaluasi pembelajaran, hingga berbagai indikator kinerja sebagai dasar pengambilan keputusan.
Namun ada satu hal yang selalu ia jaga yakni tidak ingin sekolah terjebak pada angka. “Data itu penting. Tetapi pendidikan tidak boleh kehilangan hati. Kita bisa melihat grafik, statistik, dan angka-angka. Namun di balik semua itu ada manusia. Ada guru yang sedang berjuang. Ada siswa yang sedang bertumbuh. Itu yang tidak boleh dilupakan,” tegasnya.
Pendekatan yang memadukan data dan sentuhan kemanusiaan itulah yang kemudian menjadi kekuatan kepemimpinannya.
Memulai Transformasi dari Keberanian
Ketika kembali ke SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta sebagai Kepala Satuan Pendidikan pada tahun 2022, Agung membawa banyak pengalaman berharga. Namun ia juga dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Budaya prestasi belum tumbuh secara kuat. Bahkan untuk mencari siswa yang bersedia mengikuti kompetisi saja bukan perkara mudah.
“Kalau sekarang anak-anak berlomba-lomba ikut lomba, dulu kondisinya berbeda. Tantangan pertama kami justru mencari anak yang mau ikut lomba,” kenangnya sambil tersenyum.
Situasi tersebut membuatnya menyadari bahwa perubahan harus dimulai dari hal paling mendasar yaitu keberanian. Dari situlah lahir program One Student Achievement.
Alih-alih langsung mengejar prestasi tinggi, Agung memilih membangun mentalitas siswa terlebih dahulu. “Yang penting ikut dulu. Yang penting berani tampil dulu. Menang itu bonus. Kalau mental bertandingnya sudah terbentuk, kualitas akan mengikuti,” ujarnya.
Pendekatan itu ternyata berhasil. Jumlah siswa yang mengikuti kompetisi meningkat. Guru-guru mulai aktif melakukan pendampingan. Sistem pembinaan menjadi semakin terstruktur, dan perlahan budaya prestasi mulai tumbuh.
From Zero to Hero
Salah satu filosofi yang sering disampaikan Agung kepada guru dan siswa adalah konsep from zero to hero. Ia tidak percaya bahwa sekolah hanya bertugas mengumpulkan siswa-siswa yang sudah hebat sejak awal. Menurutnya, keberhasilan pendidikan justru terlihat ketika sekolah mampu mengubah siswa biasa menjadi luar biasa.
“Saya lebih bangga melihat anak yang awalnya tidak percaya diri lalu berani tampil, dibandingkan anak yang memang sudah hebat sejak awal. Karena di situ ada proses pertumbuhan,” katanya.
Filosofi tersebut kemudian menjadi napas dalam berbagai program sekolah. Setiap siswa diberi ruang untuk berkembang. Setiap potensi dicari dan difasilitasi, setiap keberhasilan, sekecil apa pun, diapresiasi. Karena bagi Agung, prestasi bukan hanya soal medali. Prestasi adalah proses menjadi lebih baik dari diri sendiri.
Membangun Tim, Bukan Sekadar Mengelola Guru
Di mata Agung, keberhasilan sekolah tidak pernah lepas dari kualitas tim yang ada di dalamnya. Karena itu, salah satu fokus utamanya adalah membangun sumber daya manusia. Ia memulai dari pemetaan potensi guru melalui psikotes, profiling, observasi langsung, hingga diskusi dengan rekan kerja. Tujuannya bukan mencari kelemahan. Sebaliknya, mencari kekuatan.
“Kalau kita terus fokus pada kekurangan orang, yang muncul adalah masalah. Tapi kalau kita menemukan kekuatannya, yang muncul adalah peluang,” ujarnya.
Setelah potensi dipetakan, penugasan dilakukan berdasarkan keunggulan masing-masing individu. Pendekatan ini membuat guru lebih nyaman bekerja sekaligus lebih cepat berkembang. Namun yang membuat budaya kerja di SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta terasa berbeda adalah kedekatan emosional yang dibangun. Diskusi sering terjadi di luar ruang rapat, banyak ide lahir saat ngopi bersama, tidak sedikit solusi muncul saat makan siang bersama.
“Kadang keputusan terbaik justru lahir dari obrolan santai. Ketika orang merasa nyaman, mereka lebih mudah menyampaikan ide dan pendapat,” katanya.
Pengakuan Nasional dan Mimpi yang Lebih Besar
Kerja panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 2025, SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta berhasil masuk dalam 20 besar sekolah berprestasi nasional versi Puspresnas. Setahun kemudian, sekolah ini terpilih sebagai SMA Unggul Garuda Transformasi 2026 setelah melalui proses seleksi yang sangat ketat.
Namun Agung tidak ingin sekolah berhenti pada capaian tersebut. Baginya, penghargaan hanyalah penanda bahwa sekolah berada di jalur yang benar. Masih ada pekerjaan yang lebih besar, masih ada generasi yang harus dipersiapkan, masih ada masa depan yang harus dibangun.
“Kita tidak sedang membangun sekolah untuk hari ini saja. Kita sedang menyiapkan anak-anak yang nanti akan hidup di dunia yang sangat berbeda dengan dunia kita sekarang,” katanya.
Kesadaran itulah yang melahirkan visi besar sekolah: mencetak pemimpin masa depan yang Albab dan Smart. Bagi Agung, kecerdasan akademik saja tidak cukup. Anak-anak harus memiliki karakter, daya tahan, kemampuan beradaptasi, kecakapan global, dan spiritualitas yang kuat.
“Anak-anak harus pintar, tetapi juga harus punya hati. Mereka harus mampu bersaing secara global, tetapi tetap memiliki nilai dan karakter yang menjadi pegangan hidupnya,” ujarnya.
Pemimpin yang Tidak Berhenti Belajar
Di tengah kesibukannya memimpin sekolah, Agung tetap menjalani perannya sebagai pembelajar. Setelah menyelesaikan pendidikan Magister Linguistik Terapan di Universitas Negeri Yogyakarta, ia melanjutkan studi doktoral di bidang Ilmu Pendidikan dengan fokus literasi. Baginya, belajar bukanlah fase yang berhenti setelah seseorang memperoleh gelar.
Belajar adalah cara hidup.
“Kalau guru berhenti belajar, maka dia akan tertinggal dari murid-muridnya. Apalagi pemimpin sekolah. Kita harus terus bertumbuh supaya bisa membawa orang lain bertumbuh,” katanya.
Mungkin itulah yang membuat sosok Agung Widiyantoro layak disebut sebagai seorang leader educator. Ia bukan sekadar kepala sekolah yang mengelola administrasi dan program kerja. Ia adalah pendidik yang memimpin melalui keteladanan, membangun melalui sistem, dan menginspirasi melalui tindakan.
Dan selama masih ada siswa yang perlu dibantu menemukan potensinya, guru yang perlu diberdayakan, serta budaya yang perlu dirawat, Agung tampaknya akan terus berjalan di jalur yang sama. Jalur panjang bernama pendidikan. Jalur yang tidak selalu mudah. Namun selalu memberi alasan untuk terus menumbuhkan harapan. (Chaidir)







