WONOSARI – Kunjungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ke lingkungan sekolah bukan sekadar agenda seremonial. Ia adalah sinyal kuat bahwa praktik pengelolaan pangan di tingkat sekolah kini mulai dilirik sebagai bagian penting dari ekosistem riset nasional.
Momentum itu terasa nyata saat Satriyo Krido Wahono, Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, hadir langsung di SD Islam Al Azhar 59 Wonosari pada Kamis (7/5/2026). Dikenal sebagai sosok yang aktif mendorong inovasi di bidang keamanan dan teknologi pangan, kehadirannya membawa perspektif baru tentang bagaimana standar pangan sekolah dapat ditingkatkan melalui pendekatan ilmiah.
Bersama tim peneliti BRIN, kunjungan ini menjadi langkah awal penjajakan kerja sama riset bertajuk “Pilot Validation of a Predictive Model for Proactive Safety Management in the Free Meals Initiative”. Sebuah proyek lintas institusi yang melibatkan Universitas Brawijaya dan Nanyang Technological University, yang berfokus pada pengembangan sistem prediktif dalam menjaga keamanan pangan secara proaktif.
Dalam forum diskusi yang berlangsung terbuka dan konstruktif, SD Islam Al Azhar 59 Wonosari dipandang memiliki fondasi kuat untuk menjadi model implementasi sistem tersebut. Pengalaman panjang dalam mengelola katering dan taman gizi menjadi nilai lebih yang tidak dimiliki banyak institusi pendidikan lainnya.
Danar Kusuma MPd selaku Kepala Satuan Pendidikan SD Islam Al Azhar 59 Wonosari, bersama Naras dari manajemen katering Al Azhar Yogyakarta, memaparkan perjalanan sistem pengelolaan pangan yang telah dibangun selama 20 tahun. Sebuah sistem yang tidak statis, melainkan terus beradaptasi mengikuti kebutuhan zaman—dari pola distribusi sederhana hingga sistem prasmanan yang lebih modern dan efisien.
Di balik skala produksi yang mencapai ribuan porsi, terdapat prinsip yang dijaga dengan ketat yakni kualitas dan keamanan pangan tidak boleh ditawar. Bahkan, selama bertahun-tahun operasional, belum pernah tercatat kasus keracunan makanan—sebuah capaian yang mencerminkan kedisiplinan sistem dan kuatnya budaya mutu.
Pengelolaan katering dilakukan secara profesional dengan pengawasan ahli gizi yang memastikan setiap tahapan berjalan sesuai standar. Mulai dari seleksi bahan baku, proses pengolahan, distribusi, hingga penyajian, semuanya terintegrasi dalam satu sistem pengawasan yang komprehensif. Tak hanya itu, pengelolaan limbah pun dilakukan secara bijak, dengan memanfaatkan sisa makanan layak sebagai pakan ternak untuk meminimalisir pemborosan.
Dalam diskusi tersebut, Satriyo menyampaikan apresiasi atas keterbukaan Al Azhar dalam berbagi praktik terbaik. Ia menilai, pendekatan yang telah berjalan sangat potensial untuk dikembangkan lebih lanjut melalui teknologi predictive modelling, sehingga sistem keamanan pangan tidak hanya bersifat reaktif, tetapi mampu mengantisipasi risiko sejak dini.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga batas produksi ideal, yakni maksimal 500 porsi per jenis hidangan. Menanggapi hal ini, pihak sekolah menegaskan bahwa prinsip tersebut telah diterapkan, meskipun total produksi harian mencapai sekitar 4.500 porsi.
Sementara itu, tim peneliti BRIN mulai menguraikan langkah awal riset yang akan dilakukan, termasuk pengambilan sampel dari berbagai titik proses produksi sebagai dasar analisis model prediktif.
Momen ini menjadi titik temu antara praktik lapangan dan pendekatan ilmiah. Sebuah awal yang menjanjikan untuk melahirkan sistem keamanan pangan sekolah yang lebih cerdas, terukur, dan berkelanjutan—sekaligus mempertegas bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuhnya inovasi. (Danar/Chaidir)







