- Rooftop jadi kebun produktif: SMP Islam Al Azhar 66 Bantul memanfaatkan rooftop lantai 5 untuk menanam sayuran, bunga, dan buah, dengan panen perdana kangkung dan selada.
- Kreatif dan ramah lingkungan: Murid memanfaatkan galon bekas sebagai pot dan mengembangkan vertical garden untuk mengoptimalkan ruang tanam.
- Tanamkan semangat Adiwiyata: Kegiatan berkebun rutin membangun tanggung jawab, kedisiplinan, kerja sama, kreativitas, dan kepedulian murid terhadap lingkungan.
AYWS – Lahan terbatas bukan penghalang untuk menghadirkan lingkungan sekolah yang hijau dan produktif. SMP Islam Al Azhar 66 Bantul membuktikannya dengan menyulap rooftop lantai 5 menjadi mini garden yang ditanami beragam sayuran, bunga, dan buah. Tak sekadar mempercantik lingkungan, kebun di ketinggian ini juga menjadi ruang belajar terbuka yang menanamkan kepedulian terhadap lingkungan kepada para murid.
Inisiatif tersebut sejalan dengan semangat Sekolah Adiwiyata, yakni membangun budaya peduli dan berwawasan lingkungan melalui kebiasaan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan sekolah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu di dalam kelas, tetapi juga ruang untuk mempraktikkan perilaku ramah lingkungan, mulai dari menanam, merawat tanaman, memanfaatkan kembali barang bekas, hingga mengelola sumber daya secara bijak.
Kini, upaya itu mulai membuahkan hasil. Mini garden SMP Islam Al Azhar 66 Bantul berhasil melaksanakan panen perdana berupa kangkung dan selada. Hasil panen tersebut menjadi pengalaman berharga bagi murid karena mereka dapat menyaksikan secara langsung perjalanan tanaman, dari proses penanaman dan perawatan hingga menghasilkan sayuran yang siap dipanen.
Koordinator Kegiatan, Eka Mei Amd Keb, menjelaskan, mini garden dikembangkan untuk menghadirkan ruang hijau yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat sekaligus sumber belajar bagi murid. Melalui kegiatan berkebun, mereka tidak hanya mengenal berbagai jenis tanaman, tetapi juga memahami proses pertumbuhan dan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Sulap Barang Bekas Jadi Media Tanam
Salah satu hal menarik dari pengembangan mini garden ini adalah kreativitas dalam memanfaatkan barang bekas. Galon air minum sekali pakai yang dibawa murid dari rumah digunakan kembali sebagai pot tanaman. Langkah sederhana tersebut mengajarkan bahwa barang yang sudah tidak digunakan untuk fungsi semula masih dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai.
Sekolah juga mengembangkan sistem vertical garden atau taman vertikal untuk mengoptimalkan ruang di rooftop lantai 5. Dengan memanfaatkan bidang vertikal, area yang tersedia dapat digunakan untuk menanam lebih banyak tanaman tanpa harus bergantung sepenuhnya pada luas permukaan lantai.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa penghijauan tidak selalu membutuhkan lahan yang luas. Dengan kreativitas dan pengelolaan yang tepat, ruang di lingkungan sekolah dapat diubah menjadi area hijau yang produktif sekaligus mendukung proses pembelajaran.
Menanam Kepedulian Lewat Kebiasaan Rutin
Agar mini garden tetap terawat dan berkembang, SMP Islam Al Azhar 66 Bantul menerapkan jadwal perawatan yang melibatkan seluruh murid. Setiap Jumat pagi, satu kelas mendapat giliran melaksanakan piket mini garden. Aktivitasnya meliputi persiapan media tanam, penanaman, penyiraman, perawatan, hingga pemanenan hasil tanaman.
Sementara itu, perawatan juga dilakukan pada Senin hingga Kamis. Pada jam ke-0, murid yang berhalangan mengikuti salat Duha diajak menuju rooftop untuk menyiram dan merawat tanaman bersama-sama. Kegiatan tersebut menjadi alternatif aktivitas positif yang mengajak murid memanfaatkan waktu untuk berkontribusi menjaga lingkungan sekolah.
Keterlibatan murid secara bergiliran membuat kegiatan berkebun tidak berhenti sebagai program sesaat. Mereka memperoleh pengalaman untuk bekerja sama, berbagi tanggung jawab, menjaga kedisiplinan, serta memahami bahwa tanaman membutuhkan perhatian dan perawatan secara berkelanjutan.
Nilai-nilai inilah yang menjadi bagian penting dalam membangun budaya sekolah berwawasan lingkungan. Semangat Adiwiyata tidak cukup diwujudkan melalui penanaman pohon atau penghijauan secara seremonial, tetapi perlu dibangun melalui kebijakan, pembelajaran, partisipasi warga sekolah, dan kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.
Dari Kebun Sekolah Menuju Pendidikan Berkelanjutan
Keberadaan mini garden di rooftop lantai 5 menjadi contoh pembelajaran kontekstual yang menghubungkan pengetahuan dengan praktik. Murid dapat belajar mengenali tanaman, memahami kebutuhan air dan media tanam, mengamati pertumbuhan, serta melihat hasil dari usaha yang mereka lakukan bersama.
Pemanfaatan galon bekas sebagai pot turut memperkenalkan prinsip penggunaan kembali barang yang masih layak pakai. Sementara itu, kegiatan merawat dan memanen sayuran membantu menumbuhkan pemahaman tentang proses produksi pangan serta pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan.
Lebih dari sekadar menghasilkan kangkung dan selada, kebun produktif ini menjadi sarana pembentukan karakter. Tanggung jawab, kerja sama, kreativitas, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap lingkungan tumbuh melalui kegiatan sederhana yang dilakukan secara nyata.
Ke depan, mini garden SMP Islam Al Azhar 66 Bantul diharapkan terus berkembang menjadi ruang hijau yang produktif, inspiratif, dan memberikan manfaat bagi seluruh warga sekolah. Dari rooftop lantai 5, sekolah menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan dapat dimulai dari ruang yang tersedia, barang yang digunakan kembali, dan kebiasaan kecil yang dilakukan bersama.
Sebab, menumbuhkan generasi peduli lingkungan tidak cukup hanya dengan mengajarkan pentingnya menjaga alam. Kepedulian itu perlu ditanamkan melalui pengalaman, dirawat melalui kebiasaan, dan dibuktikan lewat tindakan nyata. (FATIMA)






