Bagian Pertama
- Dibesarkan di keluarga militer : Fajar sempat mengikuti seleksi Akademi Militer, tetapi menyadari panggilan hatinya bukan menjadi prajurit.
- Terinspirasi ibu dan kepala sekolah : Sosok ibu sebagai guru serta pesan kepala sekolah mendorongnya mantap memilih dunia pendidikan.
- Mengabdi sebagai pendidik : Ketertarikannya pada bahasa Inggris mengantarkannya menjadi guru, terus belajar, hingga dipercaya memimpin SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta.
ADA kalanya jalan hidup seseorang seolah telah ditentukan jauh sebelum ia mampu memilih. Lingkungan keluarga, tradisi, bahkan profesi orang tua sering kali menjadi kompas yang mengarahkan masa depan seorang anak. Begitu pula yang dialami Fajar Arif Herjayanto, M.Pd.
Sejak kecil, Fajar tumbuh dalam keluarga yang lekat dengan kehidupan militer. Seragam loreng, disiplin, dan kisah pengabdian kepada negara bukanlah cerita yang hanya ia lihat di televisi. Semua itu hadir dalam kesehariannya. Ayahnya merupakan seorang perwira menengah TNI Angkatan Darat yang mengabdikan diri di berbagai satuan, mulai dari Batalyon Infanteri 403, Batalyon Infanteri 407, Kodim 0712/Tegal hingga bertugas di Kodam Sriwijaya, Palembang. Di lingkungan keluarga besarnya pun, profesi sebagai tentara bukanlah sesuatu yang asing. Banyak kerabatnya menjalani kehidupan yang sama—mengabdi kepada bangsa melalui institusi militer.
Tidak mengherankan apabila sejak remaja Fajar diarahkan untuk mengikuti jejak tersebut. Bagi keluarganya, menjadi tentara bukan sekadar pilihan pekerjaan, melainkan bentuk kehormatan dan pengabdian.
Maka ketika lulus dari bangku SMA, jalan yang terbentang di hadapannya tampak begitu jelas. Ia mendaftarkan diri ke Akademi Militer TNI AD, sekaligus mengikuti seleksi Bintara. Seperti ribuan calon lainnya, ia menjalani setiap tahapan dengan sungguh-sungguh. Tes kesehatan, tes kesamaptaan jasmani, tes akademik, hingga psikotes dilalui satu demi satu.
Namun, semakin dekat ia dengan gerbang dunia militer, semakin besar pula kegelisahan yang ia rasakan. Ada suara kecil dalam dirinya yang terus bertanya, benarkah ini jalan yang ingin aku tempuh?
Perasaan itu tidak mudah diungkapkan. Di satu sisi, ia ingin memenuhi harapan keluarga, terutama sang ayah yang telah lebih dahulu mengabdikan hidupnya sebagai prajurit. Di sisi lain, ia mulai menyadari bahwa setiap langkah yang dijalani terasa lebih seperti memenuhi ekspektasi orang lain daripada mengikuti panggilan hatinya sendiri.
Fajar mengenang masa itu sebagai fase ketika ia menjalani sesuatu dengan setengah keyakinan. Tes fisik dan Kesehatan sudah dilaluinya dan hasilnya lulus. Dan saat menjalani tes psikotes terjadi sesuatu yang menarik dalam diri Fajar muda.
“Saya menjalankannya setengah hati. Jadi ketika tes psikotes, saya kerjakan seadanya. Mungkin di situlah jawabannya,” ujarnya sambil tersenyum mengenang masa muda. Ucapan itu terlontas dalam perbincangan, Jumat lalu (3/7/2027)
Bagi sebagian orang, kegagalan dalam seleksi mungkin menjadi penyesalan. Namun bagi Fajar, justru dari sanalah ia mulai menemukan arah hidup yang sebenarnya. Ia menyadari bahwa hidup tidak selalu tentang menjadi seperti yang diharapkan orang lain. Ada saat ketika seseorang harus berani mendengarkan suara hatinya sendiri, meski pilihan itu berbeda dari tradisi keluarga yang telah mengakar selama bertahun-tahun.
Ibu, Sosok Inspirasi
Di tengah kebimbangan tersebut, Fajar justru menemukan inspirasi dari sosok yang selama ini berada paling dekat dengannya: sang ibu. Ibunya adalah seorang guru sekolah dasar.
Dari sosok sang ibu, Fajar melihat sisi lain dari sebuah profesi yang mungkin sering dianggap biasa. Setiap hari ia menyaksikan bagaimana ibunya tidak hanya mengajarkan pelajaran di kelas, tetapi juga mendampingi anak-anak bertumbuh. Seorang guru bukan sekadar menyampaikan ilmu, melainkan membentuk karakter, mendengarkan cerita murid, serta menjadi tempat bertanya ketika mereka menghadapi berbagai persoalan.
Yang paling membekas baginya justru bukan aktivitas mengajarnya, melainkan keseimbangan hidup yang dimiliki sang ibu.
Ia melihat bagaimana ibunya tetap dapat menjalankan profesi dengan penuh dedikasi tanpa kehilangan waktu bersama keluarga. Pengalaman sederhana itulah yang perlahan membentuk cara pandangnya tentang makna sebuah pekerjaan.
“Dalam benak saya, menjadi guru itu masih punya waktu untuk anak dan keluarga. Tidak terlalu terforsir, tapi tetap bisa fokus di pekerjaan dan keluarga,” tuturnya.
Pilihan itu semakin mantap berkat sosok lain yang memiliki pengaruh besar dalam hidupnya, yakni kepala sekolah semasa SMA, almarhum Drs. Suwito.
Fajar masih mengingat jelas momen menjelang batas akhir pengumpulan berkas Akademi Militer. Ia mendatangi rumah kepala sekolahnya untuk meminta tanda tangan sebagai salah satu syarat administrasi.
Barangkali bagi orang lain itu hanyalah formalitas. Namun bagi Fajar, pertemuan singkat tersebut justru menjadi salah satu percakapan paling penting dalam hidupnya. Sebelum membubuhkan tanda tangan, sang kepala sekolah menyampaikan kalimat yang terus terpatri dalam ingatannya hingga hari ini.
“Apapun hasilnya nanti, masa depan Mas Fajar, Mas Fajar sendiri yang menentukan.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi seorang remaja yang sedang berada di persimpangan jalan, nasihat tersebut menjadi semacam izin untuk memilih kehidupannya sendiri.
Sebelumnya, almarhum Drs. Suwito juga kerap mengingatkan para siswa melalui sebuah kalimat motivasi yang selalu ia bawa ke mana pun. “Now student, but leader tomorrow.“
Pesan itu bukan sekadar dorongan agar para siswa berprestasi. Lebih dari itu, beliau ingin menanamkan keyakinan bahwa setiap anak memiliki kesempatan menentukan masa depannya sendiri.
Fajar membawa dua pesan tersebut sepanjang hidupnya. Perlahan tetapi pasti, ia mulai mantap meninggalkan cita-cita menjadi tentara dan memilih dunia pendidikan.
Tertarik dengan Bahasa Inggris
Keputusan itu sesungguhnya bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Sejak duduk di bangku SMP, Fajar telah memiliki ketertarikan besar terhadap bahasa Inggris. Ia rajin mengikuti kursus di berbagai lembaga, menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari kosakata baru, melatih kemampuan berbicara, dan menikmati proses memahami bahasa yang membuka jendela menuju dunia yang lebih luas.
Ketertarikan itulah yang akhirnya membawanya memilih Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Di bangku kuliah, keyakinannya semakin kuat bahwa ia telah berada di jalan yang tepat.
Baginya, mengajar bukan sekadar menyampaikan materi bahasa Inggris. Ia mulai memahami bahwa pendidikan adalah proses membangun manusia. Bahasa hanyalah alat; tujuan akhirnya adalah membantu peserta didik tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berpikir kritis, dan siap menghadapi masa depan.
Semangat belajar itu tidak pernah berhenti setelah ia menyelesaikan pendidikan sarjana. Di tengah kesibukan mengajar, Fajar terus meningkatkan kompetensinya hingga berhasil meraih gelar Magister Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dengan prestasi akademik yang membanggakan.
Tak Boleh Berhenti Menjadi Pembelajar
Baginya, seorang guru tidak boleh berhenti menjadi pembelajar. Keyakinan tersebut kemudian menjadi prinsip yang ia pegang sepanjang kariernya.
Pilihan yang dahulu sempat diragukan ternyata membuka jalan yang sama sekali baru. Selama lebih dari satu dekade, Fajar mengabdikan dirinya di berbagai lembaga pendidikan—mulai dari lembaga kursus, sekolah negeri, hingga sekolah nasional dan internasional. Ia mengajar di Henialis Education Centre, New Concept English Education Centre, SMA Negeri 1 Kalasan, SMP negeri 4 Kalasan, Smartgama, Primagama, Sekolah Djuwita Batam, SMP negeri 4 Pakem, SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta, hingga akhirnya mengemban amanah sebagai Kepala Satuan Pendidikan SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta.
Jika dahulu ia hampir mengenakan seragam militer untuk memimpin pasukan, kini ia justru mengenakan identitas yang berbeda: seorang pendidik yang setiap hari memimpin dengan keteladanan, membimbing dengan kesabaran, dan menyiapkan generasi masa depan melalui ruang-ruang kelas.
Di titik itulah Fajar memahami bahwa panggilan hidup tidak selalu datang melalui jalan yang direncanakan sejak awal. Terkadang, ia hadir ketika seseorang berani berhenti sejenak, mendengarkan suara hatinya, lalu melangkah dengan keyakinan menuju jalan yang benar-benar menjadi miliknya. (Chaidir)






