Ruang Kelas yang Mengubah Cara Pandangnya Tentang Pendidikan

Bagian Kedua

  • Belajar menjadi guru sejati : Pengalaman mengajar, terutama di Batam, membentuk keyakinan bahwa guru bukan hanya mengajar, tetapi membangun karakter dan kepercayaan siswa.
  • Dipercaya memimpin sekolah : Tanpa melalui jalur struktural, Fajar dipercaya menjadi Kepala Satuan Pendidikan SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta berkat integritas, kreativitas, dan kepemimpinannya.
  • Membangun budaya BERANI : Ia menghadirkan visi pendidikan yang memadukan akhlak, prestasi, wawasan global, dan nilai-nilai Islam melalui budaya sekolah BERANI sebagai fondasi membentuk generasi unggul.

MEMILIH menjadi guru ternyata hanyalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Sesungguhnya, tantangan terbesar bukanlah ketika Fajar Herjayanto memutuskan meninggalkan jalan menuju dunia militer, melainkan ketika untuk pertama kalinya ia berdiri di depan puluhan pasang mata yang menunggu dirinya mulai berbicara.

Hari itu masih ia ingat dengan sangat jelas. Materi pelajaran telah dipersiapkan. Rencana mengajar tersusun rapi. Bahkan berbagai kemungkinan pertanyaan dari siswa sudah ia bayangkan sebelumnya. Namun, begitu memasuki ruang kelas, semua persiapan itu seakan menguap begitu saja.

Jantungnya berdegup lebih cepat. Tangannya terasa dingin. Kata-kata yang sejak semalam telah ia susun mendadak hilang dari ingatan. “Pertama kali mengajar itu deg-degan. Kadang materi yang sudah disiapkan bisa tiba-tiba blank di depan kelas,” kenang Fajar.

Pengalaman itu menjadi pelajaran pertamanya sebagai seorang guru. Ia menyadari bahwa mengajar ternyata jauh berbeda dengan menguasai materi. Menjadi guru bukan hanya soal memahami bahasa Inggris, tetapi juga bagaimana membangun komunikasi, menciptakan suasana belajar yang nyaman, serta menghadirkan energi positif yang membuat siswa ingin belajar.

Kesadaran itu membuatnya tidak pernah berhenti mengevaluasi diri. Setiap selesai mengajar, ia bertanya kepada dirinya sendiri: bagian mana yang sudah baik, apa yang perlu diperbaiki, dan bagaimana membuat pertemuan berikutnya menjadi lebih bermakna.

Proses belajar itu berlangsung dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Kariernya dimulai di berbagai lembaga pendidikan dan kursus, seperti Henialis Education Centre, New Concept English Education Centre, Smartgama, hingga Primagama. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan bertemu dengan siswa dari latar belakang yang sangat beragam. Setiap kelas menghadirkan tantangan yang berbeda, sehingga ia belajar bahwa tidak ada satu metode mengajar yang cocok untuk semua anak.

Perjalanan itu kemudian membawanya mengajar di SMA Negeri 1 Kalasan dan SMP Negeri 4 Kalasan. Di sana, ia semakin memahami bahwa setiap peserta didik memiliki cara belajar, karakter, serta potensi yang berbeda-beda. Guru, menurutnya, harus mampu membaca kebutuhan itu.

Ia mulai menyadari bahwa keberhasilan pembelajaran sering kali bukan ditentukan oleh seberapa hebat materi yang disampaikan, melainkan seberapa besar guru mampu memahami murid-muridnya. Namun, pengalaman yang benar-benar mengubah cara pandangnya tentang dunia pendidikan justru datang ketika ia memutuskan merantau ke Batam.

Pada tahun 2012, Fajar bergabung dengan Sekolah Djuwita Batam, sebuah sekolah nasional bertaraf internasional yang dikenal memiliki standar pendidikan tinggi. Di sekolah tersebut, sebagian besar peserta didiknya berasal dari keluarga pengusaha, dengan lingkungan belajar yang sangat berbeda dari pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Awalnya, ia mengira tantangan terbesarnya adalah mengajar menggunakan bahasa Inggris. Ternyata bukan. Yang jauh lebih menantang adalah membangun kepercayaan. Di sekolah itu, seorang guru tidak cukup hanya hadir saat jam pelajaran berlangsung. Guru dituntut mengetahui perkembangan akademik, perilaku, hingga kondisi emosional setiap peserta didik.

Setiap hari, orang tua menunggu laporan perkembangan anak-anak mereka. Bahkan laporan tersebut harus disampaikan dalam bahasa Inggris. Bagi Fajar, pengalaman itu membuka perspektif baru mengenai makna profesi guru.

“Di sana saya belajar bahwa guru itu harus benar-benar care. Bukan hanya mengajar, tapi membentuk karakter,” ungkapnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi mengubah cara ia memandang pekerjaannya. Ia mulai memahami bahwa ilmu pengetahuan hanyalah salah satu bagian kecil dari pendidikan. Yang jauh lebih penting adalah membangun manusia. Ia belajar mengenali karakter setiap siswa, memahami latar belakang keluarganya, memperhatikan perubahan perilaku mereka, hingga mencari cara agar setiap anak merasa dihargai.

Tidak semua berjalan mulus. Sebagian siswa terbiasa memperoleh hampir semua yang mereka inginkan. Ada yang sulit menerima aturan, ada pula yang kurang disiplin terhadap tanggung jawabnya. Situasi itu menuntut Fajar menemukan keseimbangan yang tidak mudah. Di satu sisi, ia harus bersikap tegas agar proses belajar tetap berjalan dengan baik. Di sisi lain, ia tidak ingin kehilangan kedekatan dengan peserta didiknya.

Perlahan, ia menemukan jawabannya. Guru yang baik bukanlah guru yang ditakuti, tetapi juga bukan guru yang membiarkan semua hal terjadi tanpa batas. Guru harus mampu menjadi sosok yang tegas ketika diperlukan, namun tetap menghadirkan rasa aman bagi setiap anak.

Pengalaman di Batam menjadi laboratorium kehidupan yang membentuk cara berpikirnya tentang pendidikan. Ia belajar bahwa setiap siswa sesungguhnya sedang membawa cerita masing-masing. Ada yang membutuhkan dorongan, ada yang memerlukan perhatian lebih, ada pula yang hanya ingin didengarkan.

Sejak saat itu, Fajar tidak lagi melihat ruang kelas sebagai tempat mentransfer ilmu. Baginya, ruang kelas adalah tempat membangun kepercayaan. Tempat seorang anak belajar mengenali dirinya sendiri. Tempat karakter dibentuk melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Kesadaran itulah yang kemudian terus ia bawa ketika kembali ke Yogyakarta.

Bergabung di Al Azhar Yogyakarta

Saat bergabung dengan SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta, lalu melanjutkan pengabdian di SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta, ia datang bukan hanya sebagai guru bahasa Inggris yang menguasai materi pelajaran. Ia datang membawa pengalaman, cara pandang baru, dan keyakinan bahwa pendidikan yang hebat selalu dimulai dari hubungan yang hangat antara guru, murid, dan orang tua.

Bagi Fajar, seorang guru boleh saja mengajarkan ribuan kosakata bahasa Inggris. Namun apabila murid pulang tanpa merasa dihargai sebagai manusia, maka ada sesuatu yang belum selesai dalam proses pendidikan itu sendiri.

Dari ruang-ruang kelas itulah perlahan lahir filosofi yang kelak menjadi pegangan hidupnya sebagai seorang pendidik—bahwa guru bukan sekadar pengajar, melainkan sosok yang hadir untuk mendampingi, membimbing, dan menumbuhkan setiap anak sesuai potensi terbaik yang mereka miliki.

Ketika Amanah Datang Tanpa Pernah Direncanakan

Selama bertahun-tahun mengajar, Fajar tidak pernah membayangkan dirinya akan memimpin sebuah sekolah. Ia menikmati perannya sebagai guru. Baginya, berada di dalam kelas, berdiskusi dengan siswa, menyusun strategi pembelajaran, dan melihat anak-anak berkembang merupakan kebahagiaan yang sulit digantikan oleh jabatan apa pun. Karena itu, ketika suatu hari namanya disebut sebagai calon kepala sekolah, reaksi pertamanya bukanlah rasa bangga.

Melainkan terkejut. “Saya benar-benar tidak menyangka. Waktu itu saya masih guru, bahkan belum pernah menjadi wakil kepala sekolah,” kenangnya.

Ia tidak datang dari jalur struktural yang lazim ditempuh seorang pemimpin sekolah. Tidak ada pengalaman sebagai wakil kepala sekolah, tidak pula perjalanan panjang menduduki berbagai jabatan administratif. Saat itu, Fajar lebih banyak mengemban amanah sebagai koordinator bidang. Fokusnya tetap sama seperti selama ini: memastikan proses pembelajaran berjalan dengan baik dan terus mencari cara agar sekolah berkembang.

Namun rupanya, ada hal-hal yang tidak selalu tercatat dalam struktur organisasi. Pimpinan sekolah melihat sesuatu yang lebih mendasar. Mereka melihat seorang guru yang mampu bekerja lintas tim, tidak terjebak dalam kepentingan kelompok, terbuka terhadap gagasan baru, serta berani mencari solusi ketika menghadapi persoalan. Kepercayaan itulah yang kemudian mengantarkannya menerima amanah sebagai Kepala Satuan Pendidikan SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta.

Bagi sebagian orang, jabatan sering kali dipandang sebagai pencapaian. Namun bagi Fajar, jabatan justru menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih besar. “Apakah saya sudah pantas?”

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Alih-alih merasa paling siap, ia justru memilih menjadi orang yang paling banyak belajar. Ia mulai membaca lebih banyak tentang kepemimpinan pendidikan, berdiskusi dengan para senior, mengevaluasi budaya sekolah, dan menyusun berbagai rencana pengembangan yang realistis.

“Saya berusaha belajar dan merancang program ke depan. Bagaimana sekolah ini tetap berprestasi dan menjaga kepercayaan orang tua,” ujarnya.

Kalimat terakhir itu terdengar sederhana. Namun sesungguhnya, di situlah inti dari seluruh cara berpikir Fajar sebagai seorang pemimpin. Baginya, sekolah tidak dibangun hanya dengan gedung yang megah atau deretan piala kejuaraan. Sekolah dibangun dari kepercayaan. Kepercayaan yang diberikan orang tua ketika mereka menitipkan anak-anaknya setiap pagi. Kepercayaan yang diberikan guru ketika mereka memilih mengabdikan diri di sekolah. Kepercayaan yang diberikan siswa ketika mereka menjadikan sekolah sebagai tempat bertumbuh. Karena itu, menurut Fajar, menjaga kepercayaan jauh lebih sulit daripada memperolehnya.

Ia memahami betul bahwa setiap orang tua melewati proses yang panjang sebelum akhirnya memilih sekolah bagi putra-putri mereka. Mereka mencari informasi, membandingkan berbagai pilihan, mempertimbangkan kualitas akademik, lingkungan belajar, hingga karakter sekolah.

Ketika akhirnya keputusan itu dijatuhkan, sesungguhnya orang tua sedang menyerahkan sesuatu yang paling berharga dalam hidup mereka. Bukan sekadar seorang siswa, melainkan masa depan anaknya. “Kalau mereka sudah percaya, itu harus kita jaga. Ketika mereka puas, mereka akan menjadi duta yang merekomendasikan sekolah ini kepada orang lain,” katanya.

Cara berpikir itulah yang kemudian melahirkan berbagai gagasan baru. Fajar tidak ingin sekolah hanya dikenal karena prestasi akademiknya. Ia ingin membangun identitas yang lebih utuh—sebuah sekolah yang mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual, kekuatan karakter, dan nilai-nilai spiritual.

Ia percaya bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan beriringan dengan iman dan takwa. Kemajuan zaman tidak boleh membuat peserta didik kehilangan akhlak. Sebaliknya, pendidikan karakter juga tidak boleh menghambat mereka menjadi generasi yang siap bersaing di tingkat global.

Dari pemikiran tersebut lahirlah sebuah konsep yang kini menjadi ruh pengembangan sekolah: BERANI. Bukan sekadar slogan, bukan pula rangkaian kata yang indah untuk dipasang di dinding sekolah. BERANI adalah nilai yang ingin dihidupkan dalam setiap aktivitas pembelajaran.

Huruf demi huruf memiliki makna yang saling melengkapi. Berakhlak Luhur, karena kecerdasan tanpa akhlak akan kehilangan arah. Berkecakapan Global, sebab dunia yang akan dihadapi peserta didik jauh lebih luas daripada ruang kelas tempat mereka belajar hari ini. Berprestasi, bukan hanya dalam bidang akademik, tetapi juga olahraga, seni, riset, kepemimpinan, dan berbagai potensi lain yang dimiliki setiap anak. Berwawasan Luas, agar siswa memiliki rasa ingin tahu yang tidak pernah berhenti berkembang. Serta Berbudaya Islam, sebagai fondasi moral yang membimbing setiap langkah mereka.

Tempat Menjaga Nilai

Bagi Fajar, keberhasilan sekolah bukan hanya diukur dari berapa banyak siswa diterima di sekolah favorit atau memenangkan perlombaan. Keberhasilan yang sesungguhnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Ketika para alumninya tumbuh menjadi pribadi yang jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain, serta mampu memberi manfaat bagi masyarakat. Karena itulah, ia juga menaruh perhatian besar pada budaya sekolah.

Di tengah derasnya perubahan zaman, ia ingin SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta tetap menjadi tempat yang menjaga nilai-nilai unggah-ungguh, sopan santun, dan tata krama yang telah lama menjadi kekuatan budaya Yogyakarta. Baginya, karakter tidak dibentuk melalui ceramah panjang. Karakter tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Cara siswa menyapa guru, cara mereka menghargai teman, cara mereka meminta maaf ketika melakukan kesalahan, cara mereka bertanggung jawab atas tugas yang diberikan.

Semua hal sederhana itu adalah pendidikan. Hari ini, ketika memimpin sekolah, Fajar tidak merasa telah mencapai garis akhir perjalanan. Sebaliknya, ia justru merasa sedang memulai bentuk pengabdian yang lebih besar.

Jika dahulu ia bertanggung jawab atas puluhan siswa di dalam satu kelas, kini ia memikul tanggung jawab yang jauh lebih luas—menciptakan ekosistem pendidikan yang memungkinkan setiap guru berkembang, setiap siswa bertumbuh, dan setiap orang tua merasa yakin bahwa mereka telah menitipkan anak-anaknya di tempat yang tepat. Sebab pada akhirnya, kepemimpinan bagi Fajar bukanlah tentang menjadi orang yang berada di posisi paling tinggi, melainkan tentang memastikan semakin banyak orang dapat bertumbuh bersama melalui pendidikan. (Chaidir)