SLEMAN – Daun-daun yang biasa terinjak di halaman sekolah bisa berubah menjadi guru. Di tangan murid kelas VII SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta, potongan daun dan bunga itu tidak lagi sekadar bagian dari alam, melainkan medium belajar yang menghadirkan pengetahuan, kreativitas, dan kesadaran lingkungan dalam satu proses yang utuh: praktik ecoprint.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) Tema 2, yang pada pertemuan ke-7, Selasa (7/1/2026), dikemas melalui pembelajaran kontekstual berbasis pengalaman nyata. Murid tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi langsung menyentuh, merasakan, dan memaknai alam sebagai sumber ilmu.
Ecoprint sendiri adalah teknik mencetak motif alami pada kain dengan memanfaatkan pigmen tumbuhan—seperti klorofil, antosianin, dan flavonoid—yang berpindah melalui tekanan mekanis. Melalui metode ini, murid belajar tentang struktur daun, jenis pigmen alami, proses transfer warna, hingga interaksi material alam dengan media kain. Semua konsep sains itu hadir bukan sebagai teori, melainkan pengalaman ilmiah yang menyenangkan.
Pembelajaran berlangsung dengan pendekatan experiential learning. Murid bekerja secara berkelompok (K4), masing-masing kelompok disediakan dua palu sebagai alat utama ecoprint. Mereka diperbolehkan membawa daun dan bunga secukupnya dari lingkungan sekitar, lalu menyusunnya menjadi motif yang mereka rancang sendiri. Saat palu dipukulkan, suara ritmis itu menjadi tanda lahirnya kreativitas—dan setiap kain pun memiliki cerita yang berbeda.
Lebih dari sekadar karya seni, kegiatan ini melatih murid untuk bekerja sama, berbagi peran, mengambil keputusan, serta bertanggung jawab terhadap alat dan bahan. Hasil ecoprint yang beragam mencerminkan keunikan ide, karakter, dan ekspresi setiap kelompok. Tak ada motif yang sama, sebagaimana alam memang diciptakan penuh keberagaman.
Di balik proses kreatif itu, tumbuh pula kesadaran baru. Murid diajak merefleksikan pentingnya memanfaatkan bahan alam secara bijak, mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis, serta menyadari bahwa lingkungan sekitar menyimpan potensi besar sebagai sumber belajar. Ecoprint menjadi jembatan antara pengetahuan dan kepedulian—antara sekolah dan kehidupan nyata.
Kegiatan ini berjalan lancar berkat pendampingan para guru kelas yang penuh dedikasi: kelas 7A oleh Pak Miftah dan Bu Nurus, 7B oleh Pak Farchan dan Bu Nanda, 7C oleh Bu Ruri dan Pak Rama, 7D oleh Bu Reuwih dan Bu Iffa, serta 7E oleh Ms Isna dan Pak Raka. Seluruh rangkaian kegiatan terkoordinasi dengan baik di bawah arahan Bu Dyah, sehingga pembelajaran berlangsung tertib, aman, dan bermakna.
Kepala Satuan Pendidikan SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta, Fajar Arif Herjayanto MPd, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter dan berwawasan lingkungan.
“Melalui kegiatan seperti ini, murid belajar menjadi pembelajar aktif, kreatif, sekaligus peduli terhadap keberlanjutan alam. Inilah bekal penting bagi mereka menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya.
Praktik ecoprint dalam Projek Tema 2 ini menjadi bukti bahwa pembelajaran tak harus selalu berlangsung di ruang kelas. Di atas selembar kain, murid belajar membaca alam, memahami sains, mengasah kreativitas, dan menumbuhkan kepedulian. Dari proses sederhana itu, tumbuh harapan: lahirnya generasi yang mampu merawat bumi dan memberi solusi bagi masa depan. (Chaidir)







