Global Immersion Bukan Sekadar Pertukaran, tetapi Investasi Membangun Peradaban Dunia

  • Global Immersion memasuki tahun ketiga sebagai wujud kolaborasi strategis antara Northern Illinois University (NIU) dan Yayasan Asram untuk memperkuat pendidikan berwawasan global.
  • Hafidh Asrom menegaskan pendidikan tidak hanya mencerdaskan bangsa, tetapi juga membentuk generasi pemimpin masa depan yang mampu berkontribusi bagi peradaban dunia melalui kolaborasi internasional.
  • Yayasan Asram terus berinovasi dengan mengembangkan HAWS, Asram Edupark, sembilan laboratorium tematik, serta menargetkan lebih banyak lulusan melanjutkan studi ke perguruan tinggi luar negeri.

AYWS – Bagi Ketua Yayasan Asram sekaligus Ketua Pembina Hafidh Asrom Yogyakarta Foundation (HAWS), Drs HA Hafidh Asrom MM, pendidikan tidak cukup hanya mencetak lulusan yang cerdas. Pendidikan harus melahirkan generasi yang mampu memimpin, membangun peradaban, serta menjawab tantangan dunia yang semakin terhubung tanpa batas.

Semangat itulah yang menjadi landasan kuat kemitraan antara Northern Illinois University (NIU), Amerika Serikat, dengan Yayasan Asram yang menaungi Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) dan Hafidh Asrom World Schools (HAWS). Memasuki tahun ketiga penyelenggaraan Global Immersion, Hafidh menegaskan bahwa kerja sama internasional tersebut jauh melampaui makna sebuah program pertukaran pelajar.

“Global Immersion bukan sekadar program pertukaran internasional. Ini adalah bagian dari misi besar pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi peradaban dunia,” ujar Hafidh Asrom saat memberikan sambutan pada Seremoni Global Immersion NIU dan AYWS–HAWS di Tower 1 Kampus AYWS Sleman, Senin (20/7/2026).

Menurut Hafidh, pendidikan masa depan harus membekali peserta didik dengan pengalaman lintas budaya, kemampuan berkolaborasi, serta wawasan global yang tetap berakar pada nilai-nilai lokal. Karena itulah Yogyakarta dipilih sebagai ruang belajar yang ideal bagi mahasiswa dan dosen NIU.

Ia menyebut Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai satu-satunya wilayah di Indonesia yang mampu memadukan identitas sebagai kota pendidikan, kota budaya, dan destinasi pariwisata dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

“Yogyakarta bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang untuk memahami budaya dan kehidupan,” katanya.

Keindahan alam, kekayaan budaya, hingga keramahan masyarakat Yogyakarta, lanjut Hafidh, akan memberikan pengalaman belajar yang tidak mungkin diperoleh hanya dari ruang kuliah. Mulai dari pantai, kawasan pegunungan, hingga situs-situs sejarah menjadi bagian dari proses pembelajaran yang memperkaya perspektif peserta Global Immersion.

Kolaborasi Tahun Ketiga

Hafidh mengungkapkan rasa syukur karena kolaborasi dengan Northern Illinois University kini memasuki tahun ketiga dan terus menunjukkan dampak nyata terhadap peningkatan mutu pendidikan di lingkungan Yayasan Asram.

Menurutnya, kemitraan internasional tersebut telah mendorong lahirnya berbagai prestasi membanggakan. Salah satunya adalah terpilihnya sekolah sebagai bagian dari Program SMA Unggul Garuda Transformasi, sekaligus meningkatnya jumlah lulusan yang diterima di berbagai perguruan tinggi luar negeri melalui jalur beasiswa.

“Capaian ini tidak lepas dari dukungan dan kolaborasi yang kuat bersama NIU,” ungkapnya, yang langsung disambut tepuk tangan para tamu dan peserta.

Ke depan, Yayasan Asram bahkan menargetkan hingga 80 persen lulusan dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi luar negeri sebagai bagian dari upaya membentuk generasi berdaya saing global.

Dalam kesempatan tersebut, Hafidh juga memaparkan perkembangan Yayasan Asram yang kini memasuki usia 21 tahun. Dari sebuah lembaga pendidikan yang terus bertumbuh, kini yayasan telah mengelola jaringan lima kampus yang tersebar di Monjali, Gamping, Bantul, Wonosari, hingga dibawah HAWS di Magelang, Jawa Tengah.

Perjalanan itu belum berhenti. Yayasan Asram telah menyiapkan pembangunan kampus keenam di kawasan Gunungkidul yang akan mengusung konsep pendidikan global dengan mengintegrasikan keunggulan sistem pendidikan Amerika Serikat dan Tiongkok, termasuk penguatan pembelajaran Bahasa Mandarin.

Sejalan dengan visi tersebut, tahun ini Yayasan Asram juga mulai mengoperasikan Hafidh Asrom World Schools (HAWS) yang hadir sebagai sekolah berstandar internasional dengan jenjang taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama.

HAWS mengembangkan konsep pembelajaran modern yang terinspirasi dari sistem pendidikan Korea Selatan. Mini library, kafe edukatif, hingga ruang belajar yang terbuka bagi masyarakat menjadi bagian dari upaya menghadirkan sekolah yang lebih inklusif dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Pendidikan harus menjadi ruang yang hidup, terbuka, dan terhubung dengan masyarakat,” tegas Hafidh.

Ia pun mengundang para profesor, dosen, dan mahasiswa NIU untuk melihat langsung berbagai inovasi pendidikan yang sedang dikembangkan di lingkungan AYWS dan HAWS.

Asram Edupark

Salah satu kebanggaan Yayasan Asram adalah kehadiran Asram Edupark, kawasan edukasi terpadu seluas sekitar 12 hektare yang dirancang sebagai pusat pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Bagi Hafidh, setiap sudut kawasan tersebut memiliki nilai edukatif sehingga tidak ada ruang yang dibangun tanpa fungsi pembelajaran.

Di kawasan ini tersedia beragam fasilitas yang memadukan pendidikan, rekreasi, dan pengembangan karakter, mulai dari hutan edukasi, greenhouse melon, area riverside, mini rafting, driving range, restoran, amphitheater terbuka, hingga riverside villa yang pernah menjadi tempat menginap sejumlah pejabat negara dan menteri.

“Ini menjadi bukti bahwa kawasan ini tidak hanya edukatif, tetapi juga representatif untuk berbagai kegiatan berskala nasional,” ujarnya.

Penguatan kualitas pembelajaran juga dilakukan melalui pengembangan sembilan laboratorium tematik yang diresmikan pada November 2025. Laboratorium tersebut mencakup bidang kewirausahaan, politik, agama, bahasa, laboratorium alam, serta berbagai bidang strategis lainnya. Bahkan, laboratorium politik yang dimiliki AYWS disebut sebagai salah satu yang pertama di Indonesia pada tingkat sekolah.

Berbagai fasilitas olahraga seperti lapangan basket, futsal, paddle, kafe edukatif, hingga rencana pembangunan mini soccer di kawasan Edupark semakin melengkapi ekosistem pembelajaran yang dirancang untuk membentuk peserta didik secara utuh.

Menurut Hafidh, keberagaman latar belakang peserta didik juga menjadi kekuatan tersendiri. Sekolah-sekolah di bawah Yayasan Asram dipercaya oleh berbagai kalangan, mulai dari keluarga keraton, atlet nasional, tokoh masyarakat, hingga figur publik.

Menutup sambutannya, Hafidh mengajak seluruh delegasi NIU menikmati setiap pengalaman selama berada di Indonesia, tidak hanya di Yogyakarta, tetapi juga di Magelang dengan kekayaan sejarah, budaya, dan pesona Candi Borobudur.

Ia berharap kemitraan yang telah dibangun selama tiga tahun terakhir terus berkembang menjadi kolaborasi jangka panjang yang memberi manfaat bagi kedua negara.

“Selamat menikmati Yogyakarta dan Magelang. Semoga persahabatan dan kolaborasi yang telah kita bangun terus tumbuh, membawa manfaat yang semakin besar bagi pendidikan global, serta melahirkan generasi pemimpin masa depan yang mampu memberi kontribusi bagi dunia,” pungkasnya. (Chaidir)