- Pendidikan harus menjadi bentuk pengabdian melalui keteladanan, karakter, literasi digital, dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi.
- Bonus demografi harus diubah menjadi kekuatan melalui peningkatan kualitas SDM, penguasaan teknologi, inovasi, dan produktivitas.
AYWS – Mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya dengan mengandalkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, maupun besarnya jumlah penduduk usia produktif. Di balik target tersebut dibutuhkan manusia yang memiliki karakter, integritas, kompetensi, dan ketulusan dalam mengabdi.
Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. H. Mustaqim Pabbajah, M.A., Guru Besar Universitas Teknologi Yogyakarta, saat menjadi pemateri dalam Kajian Rutin Sabtu Wage di Masjid Al Hafidh, Kampus 1 Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), Sabtu (15/8/2026).
Mengusung tema “Ikhlas Mengabdi, Mengukir Peradaban, Mewujudkan Indonesia Emas 2045”, Prof. Mustaqim menempatkan keikhlasan sebagai fondasi spiritual sekaligus kekuatan moral dalam membangun peradaban.
Kajian tersebut dihadiri pendiri AYWS-HAWS Drs Hafidh Asrom MM, para pimpinan BPPH AYWS, para kepala satuan pendidikan, serta guru dan karyawan AYWS.
Ikhlas Bukan Berarti Bekerja Seadanya
Prof. Mustaqim menjelaskan, ikhlas berarti memurnikan hati dalam setiap perbuatan karena Allah SWT. Dalam konteks pengabdian, keikhlasan tidak berarti bekerja tanpa target atau sekadar menjalankan kewajiban.
Sebaliknya, keikhlasan harus mendorong seseorang memberikan kemampuan terbaiknya. Pengabdian juga harus dilakukan dengan kesungguhan, kesabaran, ketekunan, dan konsistensi.
Gagasan tersebut kemudian dirumuskan dalam lima kunci ikhlas dalam pengabdian, yakni ketulusan dalam niat, kesungguhan dalam bertindak, kesabaran menghadapi ujian, ketekunan berkelanjutan, serta kekuatan doa.
Dengan demikian, ikhlas tidak berhenti sebagai sikap batin. Nilai tersebut harus terlihat dalam kualitas pekerjaan dan kesediaan seseorang untuk terus memberikan kontribusi terbaik.
Pendidikan Menjadi Bagian dari Pengabdian
Dalam dunia pendidikan, konsep tersebut menjadi semakin penting. Prof. Mustaqim memandang upaya memajukan pendidikan sebagai bentuk perwujudan iman dan ketaatan kepada Sang Pencipta.
Mencerdaskan kehidupan bangsa bukan sekadar tugas rutin di sekolah atau masyarakat, tetapi merupakan amanah besar yang mengandung tanggung jawab moral.
Karena itu, pendidik memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi masa depan. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga perlu membangun karakter, integritas, jati diri, serta kemampuan peserta didik menghadapi perubahan zaman.
Materi juga menekankan pentingnya pendidikan berbasis keteladanan, integrasi nilai moral, penguatan jati diri, literasi digital, dan pemerataan akses teknologi.
Bonus Demografi Harus Menjadi Kekuatan
Indonesia juga memiliki peluang besar melalui bonus demografi. Namun, jumlah penduduk usia produktif harus diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Prof. Mustaqim menekankan pentingnya investasi SDM melalui pendidikan dan pelatihan vokasi, sekaligus membangun talenta yang terampil dalam teknologi digital dan kecerdasan buatan.
Materi tersebut menyebut bahwa kualitas penduduk usia produktif perlu dioptimalkan agar mampu mengisi 170 juta lapangan kerja baru di masa depan. Bonus demografi juga perlu diubah menjadi kekuatan produktif agar Indonesia tidak terjebak sebagai negara berpendapatan menengah.
Teknologi Harus Berjalan Bersama Nilai
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, pendidikan dan pengabdian juga harus mampu beradaptasi.
Dalam materi kajian, teknologi ditempatkan sebagai sarana untuk memperluas manfaat pendidikan dan membangun peradaban. Digitalisasi informasi Islam, kecerdasan buatan, dakwah modern, literasi digital, hingga riset terapan menjadi bagian dari tantangan sekaligus peluang menuju Indonesia Emas 2045.
Namun, kemajuan teknologi tetap membutuhkan landasan moral. Karena itu, pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi harus berjalan seiring dengan integritas serta nilai kemanusiaan.
Lembaga pendidikan pun dituntut mengembangkan kurikulum yang adaptif, melakukan transformasi digital berkelanjutan, dan membangun budaya inovasi terbuka agar mampu menjawab kebutuhan industri serta perubahan sosial.
Mengabdi untuk Mengukir Peradaban
Pada akhirnya, gagasan yang disampaikan Prof. Mustaqim bermuara pada satu pesan bahwa Indonesia Emas 2045 membutuhkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki orientasi pengabdian.
Keikhlasan menjadi fondasi agar pendidikan, profesionalisme, teknologi, kepemimpinan, dan pembangunan tidak kehilangan arah.
Dalam bagian penutup materi, keikhlasan disebut sebagai pilar utama dalam membangun peradaban. Dedikasi yang diberikan hari ini diharapkan menjadi warisan bagi generasi mendatang dan bagian dari ikhtiar bersama menuju kejayaan Indonesia pada 2045.
Bagi keluarga besar AYWS, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa tugas mendidik bukan hanya pekerjaan, melainkan bagian dari pengabdian untuk menyiapkan generasi yang unggul, berkarakter, mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, dan siap mengambil peran dalam perjalanan Indonesia menuju satu abad kemerdekaan.
Ikhlas mengabdi, bekerja dengan sungguh-sungguh, terus belajar, dan bersama-sama mengukir peradaban menjadi bagian penting dari langkah menuju Indonesia Emas 2045. (Chaidir)






