Jamu Kembali Digelorakan, UGM Hingga AYWS Gelar Aksi Minum Jamu Serentak

SLEMAN — Gerakan Minum Jamu Serentak yang digelar Senin (25/5/2026) berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Kegiatan ini tidak hanya menjadi simbol pelestarian budaya, tetapi juga wujud nyata kampanye hidup sehat berbasis kearifan lokal.

Di lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), acara dipusatkan dengan kehadiran berbagai tokoh, akademisi, serta civitas akademika. Sekitar 1.000 peserta turut ambil bagian, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat saat jamu diminum secara serentak.

Tak hanya terpusat di kampus, gaung gerakan ini juga terasa luas di berbagai penjuru Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejumlah kantor dinas, lembaga, hingga sekolah-sekolah ikut berpartisipasi aktif. Salah satunya adalah Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS), yang turut menggelar kegiatan minum jamu bersama sebagai bagian dari edukasi gaya hidup sehat bagi para siswa.

Di kampus 1 AYWS, Monjali Sleman, gerakan minum jamu bersama dilakukan oleh para siswa, guru, dan kepala sejak SD hingga SMA. Menariknya jamu dikemas dengan menarik sesuai gaya minuman anak-anak muda, sehingga terlihat jamu yang disajikan dapat dinikmati para siswa.

Sementara itu Ketua Yayasan Asram/BPPH AYWS Drs Hafidh Asrom MM bersama para pimpinan Dewan Jamu DIY mengikuti minum jamu bersama di UGM.

Jamu Naik Kelas

Ketua Dewan Jamu DIY, Prof Dr dr Nyoman Kertia, dalam wawancara dengan wartawan usai acara menegaskan bahwa jamu kini memiliki potensi besar untuk naik kelas, tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi nasional.

“Saat ini, jamu tidak hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga memiliki peluang besar untuk menembus pasar global. Ketika jamu mampu diekspor dan dikenal dunia, maka dampaknya sangat besar, terutama dalam meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujarnya.


Ia menambahkan, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana mengembalikan minat masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap jamu di tengah derasnya arus modernisasi.

“Kita harus memperkuat promosi. Dulu jamu sangat digemari, namun sekarang minat anak muda mulai menurun. Ini tantangan sekaligus peluang. Karena itu, inovasi menjadi kunci—mulai dari jamu latte, es krim jamu, hingga minuman herbal kekinian yang lebih menarik bagi generasi muda.”


Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam dunia herbal terdapat tiga tingkatan yang perlu dipahami masyarakat, yakni jamu, herbal terstandar, dan fitofarmaka. Ketiganya memiliki peran masing-masing dalam sistem kesehatan.

“Jamu berbasis pengalaman empiris, herbal terstandar sudah melalui uji keamanan, dan fitofarmaka telah melalui uji klinis. Ini penting dipahami agar tidak terjadi kesalahpahaman. Jamu bukan untuk menggantikan pengobatan modern, tetapi bisa menjadi pendamping yang memperkuat terapi,” jelasnya.


Ia juga menyoroti tantangan integrasi jamu dalam sistem kesehatan nasional, termasuk pembiayaan, yang selama ini masih sangat bergantung pada standar medis modern berbasis Barat.

Di sisi lain, menurutnya, Indonesia harus berbenah dalam aspek kemandirian bahan baku obat.

“Sangat ironis jika kita memiliki kekayaan hayati luar biasa, tetapi masih bergantung pada impor bahan baku obat hingga sekitar 90 persen. Ini harus menjadi perhatian serius. Jika jamu dikelola dengan baik, Indonesia tidak hanya akan sehat, tetapi juga mandiri dan kuat secara ekonomi.”


Menutup pernyataannya, ia menegaskan bahwa jamu adalah identitas bangsa yang harus terus dijaga dan dikembangkan.

“Jamu adalah identitas kita. Jamu adalah kekuatan kita. Dan sudah saatnya jamu Indonesia benar-benar mendunia.”


Keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam gerakan ini menunjukkan bahwa jamu tidak lagi sekadar tradisi masa lalu, tetapi mulai kembali dihidupkan sebagai bagian dari gaya hidup modern yang sehat, alami, dan membanggakan. (Chaidir)